Sekolah Jurnalistik RPS Tuban, Bekali Pelajar Prinsip Dasar Jurnalistik di Era Disrupsi Informasi
Rabu, 23 September 2026 16:00 WIBOleh Tim Redaksi
Tuban - Perkembangan teknologi digital dan media sosial secara masif telah mengubah cara masyarakat memproduksi serta mengonsumsi informasi. Meskipun arus berita mengalir kian cepat, persoalan verifikasi dan akurasi tetap menjadi tantangan besar di tengah maraknya potensi disinformasi.
Guna merespons tantangan era disrupsi informasi tersebut, Ronggolawe Press Solidarity (RPS) Kabupaten Tuban menggelar agenda Sekolah Jurnalistik dan Mobile Journalism di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tuban, Rabu (23/09/2026).
Pelatihan yang didukung oleh PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java dan PT Pertamina EP Sukowati ini diikuti sebanyak 35 siswa pilihan dari SMA, SMK, dan MA di kawasan Kecamatan Rengel serta Soko.
Pemimpin Redaksi Lenterakata.net, Sri Wiyono, selaku narasumber kegiatan ini menegaskan pentingnya mempertahankan nilai-nilai jurnalistik dasar di tengah maraknya konten digital yang tidak terverifikasi.
"Jurnalisme tidak akan mati. Selama kehidupan masih berdenyut, napas jurnalisme masih terus berembus," ujar Sri Wiyono di hadapan para peserta.
Ketua RPS Tuban, Khoirul Huda, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk mencetak generasi muda yang paham akan tugas kontrol sosial dan edukasi jurnalisme. Langkah ini sekaligus membedakan produk pers yang akurat dengan konten buzzer atau influencer.
“Selama ini kami rutin melatih pelajar dan mahasiswa. Tahun ini kami menyasar siswa di Kecamatan Rengel dan Soko agar lebih siap. Anggota RPS 100 persen telah tersertifikasi oleh Dewan Pers,” tegas Huda.
Dukungan penuh disampaikan oleh Kepala Kantor Kemenag Tuban, Umi Kulsum, yang mengapresiasi kolaborasi para insan pers dalam membekali siswa agar makin bijak bermedia sosial serta melek teknologi informasi.
Sementara itu, Head of Communication, Relation & CID Pertamina EP Cepu Zona 11, Wazirul Luthfi, menyampaikan bahwa konvergensi media memberi ruang besar bagi jurnalis muda untuk berkreasi secara efisien tanpa bergantung pada kamera besar.
"Jurnalistik tidak lagi harus menggunakan kamera besar, cukup dengan smartphone, cerita besar bisa dimulai. Di era konvergensi media saat ini, satu cerita bisa menjangkau banyak platform dan audiens," tutur Luthfi.






































