Menjadi "Raksasa" yang Lupa Cara Jadi Manusia
Rabu, 13 Mei 2026 16:00 WIBOleh Tim Redaksi
Pernahkah Anda merasa paling benar setelah memenangkan debat di kolom komentar? Atau merasa paling sukses saat melihat angka di saldo rekening, sementara pengemis di lampu merah hanya dianggap sebagai "pemandangan yang mengganggu"?
Satu pandangan aneh yang kini mulai mendekati masyarakat modern adalah yakni Kita makin merasa hebat, tapi makin gagal jadi manusia.
Secara teknis, kita adalah generasi paling cerdas, paling terhubung, dan paling "maju" sepanjang sejarah. Tapi anehnya, empati kita justru mengalami kemunduran dan penyusutan otot karena jarang digunakan. Kita sibuk membangun "kerajaan" di media sosial dan citra masyarakat, dan sibuk memoles profil agar terlihat dominan, namun di saat yang sama, rasa kemanusiaan kita sering kali tertinggal di gudang.
Mengapa Ini Terjadi? (Bedah Teori)
Jika kita melihat dari kacamata psikologi dan sosiologi, ada dua hal besar yang sedang terjadi:
Teori Narsisme Digital (Jean Twenge)
Dalam bukunya The Narcissism Epidemic, Twenge menjelaskan bagaimana budaya modern mendorong kita untuk terus-menerus mempromosikan diri. Media sosial memaksa kita menjadi "pemeran utama" dalam film kita sendiri. Celakanya, saat seseorang merasa dirinya adalah pusat semesta, orang lain hanya akan dilihat sebagai figuran atau alat untuk memvalidasi kehebatannya. Inilah awal mula hilangnya empati.
Efek Bystander di Dunia Maya
Dahulu, melihat orang kesusahan akan memicu refleks menolong. Sekarang? Melihat orang kesusahan sering kali memicu refleks "rekam dulu, bantu belakangan" (atau tidak sama sekali). Kita merasa sudah "berbuat baik" hanya dengan memberikan like atau share, sebuah fenomena yang disebut slacktivism. Perasaan hebat karena telah "berpartisipasi" secara digital ini menipu otak kita, seolah kita sudah menjalankan kewajiban kemanusiaan, padahal aksinya nol besar.
Penyakit "Superiority Complex"
Banyak dari kita terjebak dalam Superiority Complex. Kita merasa hebat karena pencapaian material atau status sosial. Namun, ada paradoks di sini: Semakin tinggi seseorang memandang dirinya sendiri, semakin kecil orang lain di matanya.
Saat jarak ego itu melebar, kemanusiaan biasanya menguap. Kita mulai memilah siapa yang "layak" mendapatkan empati kita berdasarkan kelas, suku, atau pilihan politik. Padahal, inti dari kemanusiaan adalah melihat wajah manusia lain tanpa embel-embel status.
Menjadi Hebat Tanpa Kehilangan "Rasa"
Merasa hebat atas sebuah pencapaian itu tidak salah. Yang berbahaya adalah jika kehebatan itu membuat kita merasa "lebih" dari sekadar manusia biasa yang butuh orang lain.
Dunia tidak butuh lebih banyak orang sukses yang dingin; dunia butuh orang-orang yang bisa menggunakan kehebatannya untuk merangkul yang lemah. Jika kepintaranmu hanya membuatmu makin sombong, dan kekayaanmu hanya membuatmu makin pelit empati, mungkin itu bukan kemajuan, melainkan degradasi moral yang dikemas dengan rapi.
Mari kita sadari satu hal yaitu Gelar, harta, dan jabatan itu aksesori. Kemanusiaan itu substansi. Jangan sampai kita sibuk mempercantik aksesori, sampai lupa bahwa di dalamnya sudah tidak ada lagi isinya.






































