Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur
Sabtu, 11 April 2026 19:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Berbeda dari anak-anak seusianya, seorang bocah dari Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini justru memiliki minat besar pada dunia teknologi dan gemar membongkar serta mempelajari perangkat elektronik.
Bocah tersebut bernama Daffa Adian Pratama, berusia 9 tahun, anak pertama dari pasangan Andik Sujianto dan Lusy Ardiana. Meski masih sangat muda, Daffa telah menunjukkan kemampuan yang tergolong luar biasa.
Saat ini ia masih duduk di kelas 3 sekolah dasar, namun sudah mampu memperbaiki berbagai peralatan elektronik rumah tangga, seperti kipas angin hingga komputer. Tak hanya itu, ia juga memahami bagian-bagian mekanik kendaraan serta beragam perangkat elektronik lainnya.
Sang ayah, Andik Sujianto, menyampaikan bahwa sejak kecil Daffa memang memiliki rasa penasaran yang tinggi, terutama terhadap hal-hal yang berkaitan dengan mesin dan teknologi.
“Untuk memperbaiki kipas angin dia sudah paham, bahkan bisa menganalisis bagian mana yang rusak sekaligus menjelaskan cara memperbaikinya,” ujar Andik.
Kemampuan tersebut diperoleh Daffa secara mandiri. Ia sering belajar dari video tutorial di YouTube, lalu mempraktikkannya sendiri untuk memahami cara kerja suatu alat.
Karena rasa ingin tahunya yang besar, Daffa terus mencoba hal-hal baru. Ia pernah membuat dimmer, yaitu alat pengatur tegangan listrik untuk mengontrol kecepatan dinamo. Selain itu, ia juga sempat merakit sepeda listrik hasil eksperimennya sendiri.
“Komponennya dia beli secara online. Saya hanya mendukung. Dia beli baterai dan perlengkapannya, bahkan pernah membuat alat sapu otomatis dari cikrak dan dinamo,” jelas Andik.
Keistimewaan lain dari Daffa adalah kemampuannya memahami sistem kerja suatu alat hanya dengan melihat atau mencobanya sebentar. Ia tidak sekadar menggunakan, tetapi juga mampu mengurai cara kerjanya.
Salah satu hal yang membuat ayahnya terkejut adalah ketika Daffa bisa menggulung dinamo dengan baik tanpa pernah diajari.
“Saya saja tidak bisa, tapi dia bisa melilit dinamo sampai berfungsi. Dia bilang kalau jumlah lilitannya tidak tepat, hasilnya tidak akan stabil,” kata Andik menirukan penjelasan anaknya.
Andik juga menceritakan pengalaman unik saat Daffa masih TK. Kala itu, Daffa pernah menolak berangkat sekolah karena gurunya tidak dapat menjawab pertanyaan tentang fungsi busi pada kendaraan.
“Sejak usia sekitar 3 tahun, saya sudah mengizinkan dia menonton YouTube dengan pendampingan. Yang ditonton bukan kartun, tapi video tentang robot dan mesin,” tuturnya.
“Waktu itu dia belum bisa membaca, tapi sudah bisa menggunakan fitur suara di YouTube. Kalau hasil pencariannya tidak sesuai, dia langsung protes,” lanjutnya.
Walaupun memiliki kemampuan teknis yang menonjol, prestasi akademik Daffa di sekolah tergolong biasa saja. Ia kurang tertarik dengan metode belajar formal dan lebih menyukai pembelajaran praktik.
Melihat potensi tersebut, kedua orang tuanya kini berusaha mencari metode pendidikan yang lebih cocok agar bakat Daffa dapat berkembang optimal. Selain itu, Daffa juga memiliki cita-cita besar, yaitu menjadi seorang insinyur yang dapat menciptakan berbagai alat yang bermanfaat bagi banyak orang.(red/Toh)
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mulyanto





































