Produsen Kue Gapit Bojonegoro Ini Banjir Pesanan Hingga Puluhan Juta di Bulan Ramadan
Selasa, 10 Maret 2026 16:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Momentum bulan suci Ramadan membawa keberkahan tersendiri bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Bojonegoro. Salah satu yang merasakan dampak signifikan adalah produsen kue tradisional gapit, yang mencatatkan lonjakan permintaan hingga mampu meraup omzet puluhan juta rupiah.
Geliat produksi ini salah satunya terlihat di usaha rumahan Griya Camilan yang terletak di Jalan Sunan Kalijaga Nomor 85, Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota. Selama Ramadan, aktivitas pembuatan kue kering jenis gapit di tempat ini meningkat drastis dibandingkan hari-hari biasa.
Gapit sendiri merupakan jajanan tradisional yang sudah melegenda dan tetap menjadi suguhan favorit masyarakat saat hari raya maupun acara keluarga. Rasanya yang manis dan teksturnya yang renyah membuat camilan ini tetap eksis dan diminati di tengah gempuran aneka kue modern. Kue gapit ini ada dua jenis, yaitu gapit gulung dan gapit pipih. Untuk gapit gulung rasanya manis, sedangkan gapit pipih rasanya gurih.
Pemilik usaha Griya Camilan, Safila Nur Auliya, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi dilakukan demi memenuhi lonjakan pesanan dari pelanggan.
"Kalau hari biasa produksi gapit gulung hanya berkisar 12 kilogram per hari. Kini selama Ramadan kapasitasnya naik menjadi 16 kilogram per hari," katanya, Selasa (10/03/2026).
Kenaikan produksi juga terjadi pada varian gapit dolar atau rasa asin, dari yang semula 3 kilogram menjadi 4 kilogram per hari. Untuk harga jual, gapit gulung dibanderol Rp85 ribu per kilogram, sementara varian gapit dolar dijual seharga Rp80 ribu per kilogram.
Pemasaran kue gapit buatan Safila ini ternyata tidak hanya melayani pasar lokal Bojonegoro saja. Pesanan terus mengalir dari berbagai daerah di luar kota, mulai dari Surabaya hingga Yogyakarta. Berkat jangkauan pasar yang luas dan tingginya permintaan, omzet penjualan selama bulan suci ini diperkirakan mencapai puluhan juta.
"Selama Ramadan ini untuk omzetnya kira-kira sampai Rp35 juta," kata Safila.
Safila menjelaskan bahwa proses pembuatan kue gapit memerlukan ketelatenan dan konsentrasi tinggi. Meski terlihat sederhana, pengolahannya harus dilakukan dengan fokus agar kematangan kue merata, tidak gosong, dan tetap mempertahankan kerenyahan yang pas.
Melalui momentum Ramadan ini, Afi berharap usahanya tidak hanya mengalami kenaikan penjualan sesaat. Ia menargetkan dapat menarik pelanggan baru serta memperluas jangkauan pasar hingga ke lebih banyak daerah di masa mendatang.
































.md.jpg)






