Lantik 28 PAC HKTI, Bupati Wahono Targetkan Bojonegoro Ungguli Lamongan dan Indramayu sebagai Lumbung Padi Nasional
Sabtu, 17 Oktober 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Bupati Bojonegoro Setyo Wahono secara resmi melantik 28 pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) se-Kabupaten Bojonegoro periode 2026–2031. Pelantikan ini digelar bertepatan dengan pembukaan Gumregah Tani Bojonegoro Festival (Gutanbo Fest) 2026 di Alun-Alun Bojonegoro pada Jumat (16/10/2026) kemarin.
Dalam arahannya, Bupati Setyo Wahono menegaskan bahwa pengukuhan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan amanah untuk bersinergi bersama pemerintah daerah dalam menggenjot produktivitas sektor pertanian.
Bupati Wahono memaparkan data pemantauan ketahanan pangan Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2026, di mana Jawa Timur memimpin produksi padi nasional dengan capaian 7,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada periode Januari–Juli 2026, disusul Jawa Tengah (7,00 juta ton GKG) dan Jawa Barat (5,98 juta ton GKG). Di tingkat provinsi, Kabupaten Lamongan menjadi produsen tertinggi, diikuti Bojonegoro dan Ngawi sebagai penopang utama.
“Kita target tahun depan mengungguli Kabupaten Lamongan yang sebelumnya kita sudah mengungguli Kabupaten Ngawi. Kemudian tahun 2029 di atas Kabupaten Indramayu yang menjadi salah satu penghasil padi tertinggi di Indonesia,” tegas Bupati Wahono.
Untuk mencapai target strategis tersebut, tiga faktor utama akan diperkuat, yakni kecukupan air, ketersediaan pupuk, dan penerapan teknologi pertanian berbasis kemitraan dengan perguruan tinggi. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga merencanakan pencetakan sawah baru seluas minimal 300 hektare dalam kurun dua hingga tiga tahun ke depan bekerja sama dengan Perhutani dan pemilik lahan.
Sementara itu, Ketua DPC HKTI Kabupaten Bojonegoro yang juga Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menyampaikan bahwa pengukuhan pengurus hingga tingkat kecamatan ini mempermudah HKTI menyerap aspirasi petani di lapangan.
Nurul mengungkapkan, produksi padi Bojonegoro melonjak signifikan dari sekitar 710.000 ton pada tahun 2025 menjadi 886.000 ton pada tahun 2026. Keberhasilan ini berdampak langsung pada kesejahteraan warga. Berdasarkan rilis BPS per 15 Oktober 2026, Kabupaten Bojonegoro berhasil mencatatkan penurunan angka kemiskinan tertinggi sebesar 0,80 persen dalam kurun dekade terakhir dan resmi keluar dari daftar 11 daerah termiskin di Jawa Timur.
Menurut Nurul, peningkatan tersebut tidak terlepas dari upaya menjawab persoalan utama petani, seperti ketersediaan air, pupuk, harga pascapanen, bibit, dan pengendalian hama.
"Arah kebijakan makro Pak Bupati berimbas pada peningkatan pendapatan petani. Alhamdulillah kemiskinan di Bojonegoro sesuai dengan rilis data BPS bahwa selama decade tahun 2003-2026 penurunan kemiskinan ada diangka 17,43%,” katanya.
Apresiasi tinggi turut disampaikan Bendahara DPD HKTI Jawa Timur, Budi, yang berharap jajaran pengurus terlantik semakin nyata mewujudkan kesejahteraan petani di seluruh wilayah Bojonegoro.
"Atas nama pimpinan DPD HKTI Jawa Timur, kami mengucapkan selamat atas pelantikan 28 PAC se-Kabupaten Bojonegoro. Semoga semakin nyata dalam mewujudkan petani yang makmur,” ujar Budi.
Pada kesempatan tersebut, Pemkab Bojonegoro turut menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara simbolis, meliputi 26 unit pompa air, 16 unit traktor roda dua, 3 unit combine harvester besar, 2 unit hand tractor, bantuan biaya listrik persawahan untuk 6 kelompok tani, serta unit mesin perajang tembakau.
Reporter: Tim Redaksi





































