Perkuat Hilirisasi Pertanian, Pemkab Bojonegoro Pertemukan Petani dengan Jejaring Ritel dan Perhotelan di Agribisnis Matching
Minggu, 18 Oktober 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat rantai pasok dan pemasaran hasil pertanian daerah dengan menggelar Agribisnis Matching di Alun-Alun Bojonegoro pada Sabtu (17/10/2026) kemarin. Kegiatan yang menjadi bagian dari ajang Gumregah Tani Bojonegoro Festival (Gutanbo Fest) ini mempertemukan langsung para petani dan kelompok tani (poktan) lokal dengan jajaran penyerap hasil panen (offtaker dan end user) kelas nasional.
Sejumlah mitra besar turut hadir dalam forum bisnis tersebut, di antaranya PT Lion Superindo, PT Indomarco Prismatama, PT Samudra Sukses Mandiri, SPPG, CV Surya Sakti Bojonegoro, serta pelaku industri perhotelan seperti Eastern Hotel.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, menyampaikan bahwa ajang ini dirancang untuk menjawab tantangan hilirisasi produk pertanian segar maupun hortikultura. Menurutnya, potensi budidaya dan kapasitas produksi sektor hulu di Kabupaten Bojonegoro sudah sangat mumpuni, seperti komoditas kelengkeng, alpukat, hingga buah tin.
“Sisi hulu kita sudah sangat bagus. Hari ini kita pertemukan produsen dengan offtaker dan end user agar dari sisi hilir dan pemasarannya makin terarah,” ujar Zaenal Fanani.
Zaenal memaparkan, Kabupaten Bojonegoro secara konsisten menempati posisi strategis sebagai lumbung pangan Jawa Timur. Capaian tersebut ditunjukkan melalui produksi padi yang berada di peringkat ke-2 se-Jatim dengan estimasi mencapai 822 ribu ton pada Oktober 2026, produksi jagung sebesar 337.636 ton, serta peringkat ke-5 untuk komoditas bawang merah sebesar 38.783 ton.
Selain itu, produksi tembakau varietas Virginia Bojonegoro menempati urutan pertama se-Jatim, komoditas kedelai mencapai 7.811 ton (peringkat ke-1 Jatim), dan kacang hijau menghasilkan 6.979 ton (peringkat ke-4 Jatim). Di sektor peternakan, Bojonegoro menduduki peringkat pertama populasi domba dan peringkat ke-5 populasi sapi di Jawa Timur.
Sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Pemkab Bojonegoro berkomitmen mewujudkan daerah sebagai sentra agroindustri yang mampu menyuplai kebutuhan bahan baku secara berkelanjutan.
“Bojonegoro siap menyediakan bahan baku industri yang cukup dari segi jumlah, kualitas, maupun kontinuitasnya. Harapan kita, kebutuhan komoditas di Bojonegoro dapat dicukupi oleh produk lokal kita sendiri, sehingga perputaran ekonomi tetap berada di daerah,” tegasnya.
Guna mengatasi tantangan ketersediaan air pada musim kemarau, Pemkab Bojonegoro merencanakan pembangunan 92 titik sumur bor pertanian yang saat ini sedang dalam proses fasilitasi perizinan regulasi. DKPP juga menyediakan stan khusus yang memamerkan bawang merah, sayuran, buah-buahan, dan beras organik ramah lingkungan tanpa pestisida hasil olahan petani lokal.
Kehadiran produk pertanian lokal tersebut mendapat respons positif dari pelaku industri. Buyer Fresh Regional Jatim PT Lion Superindo, Yusuf, menyatakan kesiapannya untuk menampung pasokan hasil tani Bojonegoro selama memenuhi standar kualifikasi mutu ritel modern.
“Semua produk pada dasarnya bisa diterima, dengan catatan memenuhi standar kualitas (aman dari cemaran bahan kimia/pestisida berlebih), keterpenuhan tonase/kuantitas, serta standar tampilan (display). Biasanya poktan yang bekerja sama dengan kami sudah dibantu oleh dinas terkait dalam pengurusan perizinan dan kelengkapan dokumen seperti sertifikasi Halal dan SNI,” jelas Yusuf.
Rangkaian kegiatan Agribisnis Matching ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara DKPP Bojonegoro dan para buyer guna mengoptimalkan pemasaran produk pangan segar dan olahan pertanian secara berkelanjutan, dilanjutkan dengan peninjauan area display produk unggulan daerah.





































