Gayatri Bojonegoro Dorong Pendapatan Harian 5.400 KPM dari Beternak Ayam Petelur
Kamis, 08 Oktober 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
BOJONEGORO – Ribuan keluarga penerima manfaat (KPM) di Kabupaten Bojonegoro kini memiliki sumber pendapatan harian dari usaha ayam petelur melalui Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri). Selain menjadi usaha produktif bagi keluarga, program Pemkab Bojonegoro tersebut mampu menghasilkan sekitar 216.950 butir telur per hari dengan nilai produksi mencapai Rp306 juta.
Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Elfia Nuraini mengatakan, Program Gayatri pada 2025 menyasar 5.400 KPM. Program tersebut kembali dilanjutkan pada 2026 dengan sasaran 4.400 KPM. Setiap KPM mendapatkan 54 ekor ayam petelur yang dikembangkan sebagai usaha produktif keluarga.
Berdasarkan data Disnakkan, produksi telur dari program tersebut mencapai 216.950 butir atau sekitar 12.761 kilogram per hari. Dengan nilai produksi sekitar Rp306.264.000 per hari, rata-rata produksi setara 22–23 butir telur per KPM setiap hari. Dari hasil penjualan, setiap KPM secara umum memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 per hari. “Program ini tidak hanya menjadi bantuan usaha, tetapi juga mendorong ribuan keluarga miskin memiliki sumber pendapatan produktif yang dapat diperoleh secara harian,” kata Elfia, Selasa (6/10).
Menurut Elfia, Gayatri juga berkontribusi terhadap peningkatan produksi telur ayam di Bojonegoro. Produksi telur yang pada 2024 tercatat sekitar 2.318 ton meningkat menjadi 5.444 ton atau naik sekitar 134 persen. Peningkatan produksi tersebut diharapkan dapat mengurangi defisit telur ayam sekaligus memperkuat ketersediaan pangan sumber protein bagi masyarakat. “Nilai produksi telur ayam saat ini mencapai sekitar Rp306 juta per hari dan menjadi bagian dari perputaran ekonomi sektor peternakan,” ujarnya.
Elfia menambahkan, dampak Program Gayatri tidak hanya diukur dari tambahan pendapatan KPM, tetapi juga dari penyerapan tenaga kerja keluarga, pemenuhan kebutuhan protein hewani, serta kontribusi sektor peternakan terhadap PDRB Bojonegoro. Untuk menjaga keberlanjutan program, Disnakkan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala guna memantau perkembangan usaha serta mengidentifikasi kendala di lapangan. Dari sisi anggaran, Pemkab Bojonegoro mengalokasikan Rp86,7 miliar melalui P-APBD 2025 untuk 5.400 KPM, sedangkan pada 2026 kembali dialokasikan sekitar Rp74 miliar dengan sasaran 4.400 KPM.





































