Era Digital dan Mobile Journalism, Peluang Besar Jurnalis Muda Menjaga Kebenaran Informasi
Selasa, 22 September 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Tuban - Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang kian pesat telah mengikis batasan wilayah (borderless) sekaligus mengubah lanskap media massa. Kehadiran platform digital serta ponsel pintar (smartphone) kini memungkinkan siapa saja untuk merekam dan mempublikasikan peristiwa secara cepat melalui konsep mobile journalism.
Kendati demikian, nilai kebenaran dan etika jurnalistik dinilai tetap menjadi benteng utama dalam menyaring arus informasi di masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP (Pertamina Hulu Energi Zona 11), Wazirul Luthfi, saat memberikan pemaparan dalam pelatihan jurnalistik tingkat pelajar yang digelar Ronggolawe Press Solidarity di Kabupaten Tuban, Selasa (22/09/2026).
Wazirul Luthfi mengungkapkan, teknologi modern memberikan keunggulan tersendiri bagi generasi muda. Untuk memproduksi karya jurnalistik yang berdampak, seseorang tidak lagi harus bergantung pada peralatan atau kamera besar.
"Jurnalistik tidak lagi harus menggunakan kamera besar, cukup dengan smartphone, cerita besar bisa dimulai. Di era konvergensi media saat ini, satu cerita bisa menjangkau banyak platform dan audiens," ujar Wazirul di hadapan para peserta pelatihan.
Kendati akses publikasi kini berada di genggaman setiap orang, Wazirul mengingatkan maraknya penyebaran informasi palsu (hoax) serta fenomena sosial masyarakat yang kerap lebih mendahulukan merekam gambar ketimbang menolong korban saat terjadi insiden di lapangan. Oleh karena itu, integritas dan pemahaman verifikasi menjadi hal krusial bagi jurnalis muda.
"Informasi yang baik akan membangun masa depan yang lebih baik, tetapi informasi hoaks dapat memicu perpecahan. Di situlah peran jurnalis hadir sebagai penjaga kebenaran," tegasnya.
Ia mencontohkan narasi spekulatif mengenai proses teknis industri migas dan distribusi energi—seperti tuduhan pengoplosan bahan bakar—yang dapat diluruskan apabila masyarakat maupun jurnalis memahami prosedur pengujian laboratorium yang ketat dan tersertifikasi.
Selain itu, Wazirul menekankan pentingnya penguasaan teknologi yang diimbangi dengan adab serta karakter positif. Menurutnya, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) maupun perangkat canggih akan mendatangkan manfaat luas jika didasari etika yang kuat.
Di sisi lain, Wazirul membeberkan tantangan ketahanan energi nasional. Dengan populasi Indonesia yang mencapai 290 juta jiwa, kebutuhan BBM nasional menyentuh angka 1,6 juta barel per hari. Sementara produksi minyak bumi dalam negeri saat ini baru berkisar 600 hingga 610 ribu barel per hari, sehingga Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari untuk menutup defisit.
Pemerintah menargetkan produksi minyak bumi nasional mencapai 1 juta barel per hari pada tahun 2030. Sektor energi fosil diprediksi masih tetap dibutuhkan hingga tahun 2050, meskipun pada periode tersebut porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) ditargetkan telah mencapai 35 persen dari total kebutuhan nasional.






































