Film Verity, Thriller Erotis yang Kurang Menegangkan
Sabtu, 03 Oktober 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Perjumpaan Lowen Ashleigh (Dakota Johnson) dan Jeremy Crawford (Josh Hartnett) diawali oleh sebuah adegan yang terbilang ekstrem. Saat berjalan menuju tempat rapat, seorang pria di dekat Lowen tertabrak mobil hingga darahnya menyembur deras membasahi wajah sang novelis.
Ketimbang kecelakaan lalu lintas biasa, intensitas dan volume darah yang mengenai Lowen justru terasa berlebihan layaknya dampak ledakan bom.
Beruntung, Jeremy—pria asing yang secara kebetulan berada di lokasi—bersedia meminjamkan kemeja cadangannya. Di dalam bilik sempit saat berganti pakaian, keduanya menggelar sesi curhat dadakan mengenai tragedi memilukan di kehidupan masing-masing.
Pengadegan yang sarat hiperbola tersebut seolah memberikan sinyal bahwa penonton akan diajak mengarungi sebuah erotic thriller yang liar dan menyenangkan. Apalagi film ini merupakan adaptasi dari novel populer karya Colleen Hoover yang sempat viral di platform BookTok. Namun sayang, ekspektasi tersebut berbanding terbalik dengan eksekusi akhirnya.Kelak terungkap bahwa Jeremy merupakan klien yang hendak ditemui Lowen. Jeremy menawari Lowen pekerjaan berbayaran tinggi untuk menyelesaikan sisa buku karya istrinya, Verity Crawford (Anne Hathaway), seorang penulis ternama yang tengah terkapar tak berdaya akibat kecelakaan.
Lowen kemudian menetap sementara di kediaman pasangan Crawford untuk menyusun bahan tulisan. Di sanalah panggung drama dan opera sabun dimulai. Di antara pementasan selingkuh yang nisbi jinak serta adegan mandi dan berganti baju yang sensual, muncul elemen misteri saat Lowen menemukan manuskrip rahasia buatan Verity. Temuan tersebut secara perlahan mulai mengikis keyakinan Lowen terhadap kondisi kesehatan mental Verity yang sebenarnya.
Sutradara Michael Showalter sejatinya memegang amunisi yang mencukupi untuk memanjakan penikmat genre ini. Namun, pengarahannya terasa miskin gaya dan kurang bertenaga untuk sebuah B-movie beraroma opera sabun yang membutuhkan dorongan energi ekstra.
Sebagian besar alur film berfokus pada momen saat Lowen membaca manuskrip Verity yang menjadi pintu masuk menuju adegan kilas balik (flashback). Pendekatan tutur yang canggung ini membuat jalannya cerita terasa membosankan. Upaya membangun intensitas justru dipaksakan lewat teknik penyuntingan yang melompat-lompat tanpa mengindahkan kontinuitas, sehingga lebih banyak memicu disorientasi ketimbang ketegangan.
Dari segi keaktoran, penampilan Dakota Johnson yang cenderung minim ekspresi—sejalan dengan pengakuan karakternya yang memiliki resting bored face—turut memperparah ritme film yang lemas. Sebaliknya, Anne Hathaway yang mendapatkan porsi kemunculan lebih terbatas justru tampil lebih mencuri perhatian. Daya kejut dari plot twist film ini mampu tereksekusi dengan baik berkat gestur-gestur kecil yang ditampilkan Hathaway.
Verity sejatinya menghadirkan kejutan cerita berlapis. Lapisan pertama cukup cerdik dalam memainkan formulasi klise genre thriller untuk mengelabui prasangka penonton. Sementara itu, lapisan kedua mencoba menyoroti batasan antara fiksi dan realita serta bagaimana seorang penulis memanipulasi persepsi pembacanya.
Sayangnya, poin utama mengenai batas antara fiksi dan fakta tersebut tidak dieksplorasi secara bertahap atau konfrontatif. Film ini sekadar menumpahkan seluruh kejutan tersebut secara mendadak di akhir cerita. Hasilnya, Verity terasa terlalu dangkal sebagai sebuah eksplorasi proses kreatif penulisan, sekaligus terlalu jinak sebagai tontonan thriller yang bersedia mengesampingkan logika demi spektakel konyol.
Editor: Mohamad Tohir






































