Film Dokumenter Oasis Don't Look Back in Anger, Catatan Ringkas
Sabtu, 19 September 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bagi yang menghabiskan lebih dari satu dekade menanti gencatan senjata Gallagher Bersaudara namun kurang beruntung disambangi oleh tur mereka pada tahun 2025 lalu, menyaksikan film dokumenter Oasis: Don't Look Back in Anger adalah hal yang paling mendekati pengalaman menonton konsernya secara langsung.
Sensasi emosional terasa begitu kental sepanjang dua jam penayangan. Tidak perlu sungkan untuk menangis, bahkan bagi yang bukan bukan penggemar berat band asal Manchester ini. Sutradara Will Lovelace dan Dylan Southern berhasil membuktikan satu hal bahwa lagu-lagu Oasis memang punya daya sihir yang bisa menyatukan siapa saja.
Lagu buatan Gallagher Bersaudara sejatinya sederhana. Musik mereka tidak serumit Blur atau sepuitis Suede, tapi justru karena itulah karya Oasis terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Siapa pun bisa menikmati dan merasa "relate" tanpa perlu paham teori musik yang berat.
"Kami bukan mewakili kelompok politik mana pun," kata Noel Gallagher dalam salah satu cuplikan wawancara.
Oasis tidak pernah berniat menggurui atau mengajak pendengarnya berpolitik. Lagu-lagu mereka murni jadi tempat pelarian yang menyenangkan bagi siapa saja yang ingin menikmati hidup dan melupakan sejenak rutinitas harian.
Lewat film ini, penonton juga diajak mengintip suasana latihan jelang tur reuni mereka di Cardiff. Sang penulis cerita, Steven Knight, pintar mengaduk emosi penonton saat memperlihatkan momen-momen cemas sebelum Liam Gallagher datang ke ruang latihan. Namun begitu Liam pegang mikrofon dan gitar Noel mulai berbunyi, semua kekhawatiran itu langsung sirna.
Sisi menarik lainnya adalah cerita-cerita menyentuh dari para penggemar di berbagai belakangan dunia. Ada kisah seorang ibu yang akhirnya bisa makin dekat dengan anaknya yang autis lewat lagu Talk Tonight, hingga korban tragedi bom Manchester yang merasa dikuatkan kembali saat mendengarkan Don't Look Back in Anger.
Film ini mengajak kita sebagai penonton untuk melihat bahwa meski sempat bubar selama 15 tahun, lagu-lagu Oasis tidak pernah mati. Karya mereka terus diwariskan dari orang tua ke anak-anak muda zaman sekarang, menembus batas usia dan zaman.
Film ini tayang di bioskop pada awal bulan September ini. Sayang tidak bertahan lama dan tidak merata di tiap kota. Kota kecil seperti Bojonegoro yang bioskopnya hanya satu yaitu New Star Cineplex jelas tidak menayangkannya. Belum lagi masalah ini film dokumenter. Padhala penggemar Oasis tidak sedikit di sini. Ya, ada baiknya kita tunggu tayangan streamingnya saja. Ingat, jangan nonton bajakan.
Editor: Mohamad Tohir






































