Ulasan Film: Seni Merayu Tuhan — Saat Beragama Tak Lagi Soal Egoisme Mayoritas
Minggu, 30 Agustus 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
"Jangan terlalu bangga kalau ada orang mualaf. Bisa jadi memang dia belum mendalami agama lamanya." Ucapan Habib Ja'far dalam sebuah siniar tersebut menjadi premis tak tertulis yang melandasi film Seni Merayu Tuhan. Sebuah tipikal sinema religi yang membedah keimanan dan perjalanan spiritual tanpa nada menggurui maupun arogansi beragama.
Diadaptasi dari buku karya Husein bin Ja'far Al Hadar, naskah buatan Gina S. Noer, Salman Aristo, dan Rino Sarjono berhasil menyulap esai nonfiksi menjadi narasi fiksi yang utuh. Disutradarai oleh Cesa David Luckmansyah, film ini berfokus pada dinamika batin Hikmah (Ari Irham), pemuda penyunting video yang ogah beribadah, memiliki hubungan renggang dengan ibunya, Halimah (Rieke Diah Pitaloka), serta menjalin asmara beda agama dengan Sophia (Lutesha).
Kehidupan Hikmah berubah drastis saat sang ibu meninggal dunia akibat serangan jantung. Didera rasa bersalah dan mimpi buruk berulang, Hikmah mencoba hijrah secara instan. Namun, Seni Merayu Tuhan menolak penyederhanaan bahwa keimanan cukup diselesaikan dengan "asal rajin ibadah". Film ini menangkap pesan dakwah sejuk bahwa segala hal yang berlebihan—baik ekstrem kanan maupun kiri—tidak akan melahirkan pencerahan yang sejati.
Tak hanya menyoal pencarian batin, film ini berani menyentil egoisme kaum mayoritas melalui dialog-dialog tajam namun subtil antara Hikmah dan Sophia. Fenomena cinta beda agama dipandang secara lebih bijak, memperlihatkan bagaimana manusia sering kali membuat sekat dan superioritas atas nama keyakinan.
Didukung performa akting memikat dari Ari Irham, Lutesha, hingga Teuku Ryzki, Seni Merayu Tuhan menjadi tontonan reflektif yang memberi ruang bagi penonton untuk meresapi arti kedamaian beragama dan proses berdamai dengan duka.
Editor: Mulyanto














































