Film Operasi Pesta Copet, Sisi Gelap di Tengah Riuk Pesta Musik
Sabtu, 05 September 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Geliat festival musik tidak hanya menghadirkan panggung megah dan alunan nada, tetapi juga menyisakan celah kerawanan bagi para pengunjungnya. Fenomena maraknya aksi pencopetan di tengah kerumunan konser diangkat secara ciamik oleh sutradara Edy Khemod lewat karya layar lebar teranyarnya bertajuk Operasi Pesta Copet.
Film bergenre heist ini mengisahkan sepak terjang Ijal (Iqbaal Ramadhan), seorang pemuda kelas bawah yang menggantungkan hidupnya dari aksi mencopet. Bersama tiga rekannya—Adut (Kristo Immanuel), Tia (Zulfa Maharani), dan Melodi (Kawai Labiba)—Ijal merencanakan aksi pencopetan berskala besar di tengah riuh festival musik Pesta Pora. Di bawah bimbingan Silet (Fauzan Lubis), mentor yang membekalinya dengan berbagai trik licik, Ijal dan timnya memetakan setiap sudut area konser untuk melancarkan misinya.
Edy Khemod, yang juga dikenal sebagai penggebuk drum grup musik Seringai, berhasil mengemas latar kejahatan ini dengan balutan komedi dan kritik sosial yang bernas. Mengambil lokasi pengambilan gambar langsung di gelaran Pesta Pora, film ini menyajikan atmosfer konser yang teramat nyata dan imersif. Tidak sekadar menyuguhkan hiburan, film ini juga secara edukatif mengenalkan berbagai istilah teknis serta modus operandi dunia pencopetan agar penonton lebih waspada di dunia nyata.
Penampilan para pelakon menjadi nilai tambah yang menguatkan narasi. Iqbaal Ramadhan tampil beda membawakan karakter pemuda jalanan, didukung kemahiran Kristo Immanuel dalam mengolah komedi serta daya tarik akting Zulfa Maharani dan Kawai Labiba. Debut akting vokalis Sisitipsi, Fauzan Lubis, sebagai karakter "abang-abangan" tongkrongan juga memberikan nuansa natural yang menyegarkan.
Secara teknis, Operasi Pesta Copet menawarkan alur perencanaan heist yang solid dan mudah diikuti. Didukung kejelian sutradara dalam memadukan efek visual berwarna dengan intensitas adegan ala musik rok, film ini berhasil menyajikan potret realitas sosial yang matang tanpa kesan membenarkan tindak pidana yang dilakukan oleh para tokohnya.
Editor: Mulyanto






































