Film The Furious Sajikan Cerita Berbalut Seni Bela Diri Pemicu Adrenalin
Minggu, 28 Juni 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Sinema laga global diguncang oleh kehadiran karya terbaru sutradara Kenji Tanigaki yang berjudul The Furious (2026). Melalui pengarahan sinematografinya yang eksplosif, film ini berhasil membawa penonton untuk mempercayai eksistensi nyata dari manusia-manusia super di dunia luar, lewat deretan pelakon berbakat yang mampu melontarkan jurus-jurus bela diri mematikan, berlari secepat kilat, hingga melakukan gerakan gimnastik ekstrem bak akrobat profesional hanya dalam waktu sepersekian detik.
Alur cerita yang diusung dalam film ini sejatinya tergolong sangat sederhana namun emosional. Fokus utama berpusat pada kisah seorang pria bisu yang baru diketahui namanya di penghujung durasi film, diperankan oleh aktor Xie Miao, dalam perjuangan berdarah-darah untuk menolong sang putri bernama Rainy yang dimainkan secara apik oleh aktris cilik Yang Enyou dari sekapan sindikat perdagangan anak internasional. Di sisi lain, muncul karakter Navin yang diperankan aktor laga kebanggaan Indonesia, Joe Taslim, yang tengah berupaya keras menyelidiki keberadaan istrinya, Matia diperankan Jeeja Yanin, seorang jurnalis yang hilang misterius saat menginvestigasi sindikat kriminal tersebut.
Kedua pria ini akhirnya memutuskan menyatukan kekuatan, berpacu dengan waktu yang kian menipis sembari mempertontonkan kapasitas fisik di atas rata-rata manusia biasa guna menghadapi lawan-lawan tangguh yang tidak kalah gila. Mereka harus berhadapan dengan gerombolan penjahat kelas berat mulai dari Ho diperankan Brian Le selaku tukang pukul brutal, Tak diperankan Yayan Ruhian sosok pembunuh sadis bersenjatakan panah maut, hingga Paklung diperankan Joey Iwanaga selaku aktor intelektual sekaligus dalang dari segala kejahatan.
Setiap lapis koreografi dalam film ini benar-benar memerlukan kemampuan atletik tingkat tinggi dari para aktornya, bahkan di luar adegan baku hantam sekalipun. Hentakan kaki sang jagoan sewaktu berlari kencang dikemas sedemikian rupa hingga seolah mampu mengguncang bumi, sementara momen ketika sang karakter utama dihantam kendaraan melaju kencang digambarkan dengan dampak benturan yang sungguh terasa mematikan di layar lebar. Pengarahan Tanigaki secara tegas menggarisbawahi kata "arts" atau seni dalam istilah bela diri martial arts, di mana aspek estetika visual dinomorsatukan, seperti saat adegan Xie Miao beraksi heroik sambil berdiri kokoh di atas tumpukan tubuh musuh-musuhnya yang sudah tidak berdaya, atau bagaimana Joe Taslim memamerkan jurus judo yang selama ini dipandang kurang sinematik menjadi tontonan yang sangat memukau.
Kenji Tanigaki tampak tanpa ragu menerapkan apa pun yang mampu menguatkan unsur kekerasan estetis di dalam The Furious, kendati dirinya harus mengacungkan jari tengah pada hukum realisme dunia nyata. Tokoh-tokoh di dalamnya secara kreatif memanfaatkan barang apa pun di sekitar mereka untuk berkelahi, mulai dari sepeda kayuh hingga senjata berat berupa palu godam raksasa. Uniknya, penonton tidak perlu khawatir dengan nasib karakter yang menerima pukulan telak palu godam di kepala, karena mereka bukan saja berhasil bertahan hidup, melainkan masih cukup kuat terlibat pertarungan sengit melawan empat pria sekaligus, di mana satu-satunya realisme yang tersisa hanyalah potret tajam mengenai tindak korupsi aparat yang mementingkan keuntungan personal.
Hampir seluruh pelakon dalam mahakarya aksi ini diberi ruang yang sangat luas untuk unjuk kebolehan akting dan fisik mereka. Xie Miao secara lantang mampu menyuarakan ketangguhan karakternya tanpa perlu berkata-kata, Joe Taslim kembali mendemonstrasikan ekspresi wajah marah bak monster yang menjadi ciri khas ikoniknya, Yayan Ruhian hadir dengan seringai khas yang menguarkan aroma kematian, serta Brian Le yang sanggup bergerak sangat lincah layaknya rudal kendali biarpun memiliki postur badan yang besar. Bahkan, aktris cilik Yang Enyou terbukti bukan sekadar bocah lemah yang pasrah menunggu pertolongan, melainkan berani menyayat leher penculiknya demi menyelamatkan diri.
Satu-satunya catatan kecil atau keluhan untuk film The Furious ini hanyalah pada momen pengepungan di area tangga yang terkesan disajikan terlampau berlarut-larut layaknya sebuah tes daya tahan bagi sang protagonis. Meskipun awalnya adegan tersebut dikira sebagai puncak klimaks film, rupanya sutradara masih menyimpan satu lagi kesintingan sinematik di babak akhir yang dikemas layaknya sebuah encore bombastis pasca cerita utama selesai. Melalui kolaborasi apik pertempuran royal rumble berdarah yang dipadukan dengan pergerakan kamera dinamis arahan Meteor Cheung, penonton dipastikan akan bertepuk tangan riuh sembari berteriak meminta lagi dan lagi setelah menyaksikan kekacauan terkendali paling gila sejak era film The Raid pertama.
Melalui perpaduan akting tanpa batas dari para bintang laga lintas negara dan keberanian sutradara dalam mendobrak batas realitas fiksi, The Furious sukses menempatkan dirinya sebagai standar baru dalam genre film aksi modern global tahun ini. Kehadiran aktor-aktor kenamaan asal Indonesia di panggung internasional ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang unjuk gigi kemampuan beladiri tradisional di kancah dunia, melainkan juga semakin menegaskan posisi para sineas tanah air sebagai pilar penting yang diperhitungkan dalam industri perfilman laga internasional.
Editor: Mohamad Tohir






































