Ribuan Warga Padati Car Free Night di Alun-Alun, Kulineran Gratisa Sambil Nonton Sandur
Minggu, 25 Oktober 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Ribuan warga Kabupaten Bojonegoro berbondong-bondong memadati kawasan Alun-Alun Bojonegoro dalam perhelatan Bojonegoro Bahagia Car Free Night (Pesta Rakyat), Sabtu (24/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349 ini memanjakan masyarakat lewat suguhan ribuan porsi makanan gratis serta pertunjukan seni budaya lokal.
Sejak sore hari, masyarakat bersama keluarga dan anak-anak tampak antusias mendatangi area alun-alun. Pembagian makanan gratis yang dimulai pukul 18.00 WIB langsung diserbu warga di berbagai stan kuliner. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggaet lebih dari 100 pelaku UMKM lokal untuk menyajikan aneka olahan kuliner gratis tersebut.
Salah seorang pengunjung asal Kecamatan Balen, Sundari, mengaku sangat senang bisa mengajak cucunya menikmati suasana perayaan malam puncak pesta rakyat di pusat kota.
“Senang ada kegiatan seperti ini. Saya bisa mengajak cucu jalan-jalan dan menikmati hiburan di alun-alun. Apalagi ada makanan gratis yang dibagikan kepada masyarakat, jadi tambah senang,” ungkap Sundari.
Kesan mendalam juga dirasakan Dissa, warga Kecamatan Sukorejo. Bagi Dissa, momentum Pesta Rakyat ini menjadi kesempatan perdana baginya untuk menyaksikan secara langsung pertunjukan seni tradisional Sandur khas Bojonegoro.
Rangkaian acara telah bergulir sejak Sabtu pagi dengan diisi lomba mewarnai bertema Sandur tingkat TK, lomba tembang Sandur tingkat SMP/MTs, hingga pameran karya siswa. Sementara itu, panggung utama Festival Sandur menghadirkan tiga kelompok seni legendaris, yakni Teater Awu Art Laboratory dengan lakon *Ngunduh Wohing Pakarti*, Sandur Kembang Desa Bojonegoro (*Suluh Kaweruh*), serta ditutup penampilan Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro membawakan lakon *Lemah Ninggal Warah*.
Melalui Pesta Rakyat dan Festival Sandur ini, peringatan HJB ke-349 berhasil menjadi ruang kebersamaan masyarakat untuk menikmati hiburan, melestarikan kebudayaan daerah, sekaligus menggerakkan roda perekonomian para pelaku UMKM lokal di Bojonegoro.







































