Alvin Putra dan Ridwan Firdaus, Dua Pelajar SMPN 1 Purwosari yang Sulap Limbah Bonggol Pisang Jadi Kandidat Pencegah Kanker
Rabu, 06 Mei 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Inovasi membanggakan kembali lahir dari tangan kreatif pelajar asal Kabupaten Bojonegoro. Alvin Putra Pratama dan M. Ridwan Firdaus, dua siswa SMP Negeri 1 Purwosari, sukses mengembangkan penelitian bertajuk “The Invisible Killer: Bio-Skrining Sitotoksisitas Musa paradisiaca sebagai Kandidat Agen Kemopreventif Alami” yang memanfaatkan limbah bonggol pisang sebagai bahan kesehatan alternatif.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap tingginya angka penderita kanker serta biaya pengobatan modern yang sangat mahal. Alvin dan Ridwan melihat potensi besar pada bonggol pisang yang selama ini hanya dianggap limbah pertanian tak bernilai di wilayah Bojonegoro. Melalui sentuhan ilmiah, mereka mengolah limbah tersebut menjadi agen kemopreventif yang berpotensi menghambat perkembangan sel kanker.
Dalam prosesnya, kedua siswa ini melakukan ekstraksi bonggol pisang menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol. Tujuannya adalah untuk menarik senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin. Senyawa-senyawa aktif tersebut dikenal luas memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi serta efek sitotoksik yang mampu menekan pertumbuhan sel-sel abnormal di dalam tubuh.
Keunggulan dari inovasi ini terletak pada penggunaan metode bio-skrining yang terukur melalui Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Dengan memanfaatkan larva udang Artemia salina, mereka menguji tingkat toksisitas ekstrak bonggol pisang dalam berbagai konsentrasi. Indikator potensi antikanker ditentukan dari nilai LC50, di mana semakin kecil konsentrasi yang dibutuhkan untuk mematikan organisme uji, maka semakin besar potensi bahan tersebut sebagai agen antikanker.
Selain itu, penelitian ini juga mencakup pengujian aktivitas antioksidan dengan metode berbasis larutan iodin. Uji sederhana ini dilakukan guna memastikan kemampuan ekstrak dalam menetralisir radikal bebas, yang sering kali menjadi pemicu utama kerusakan DNA dan pembentukan sel kanker pada manusia.
Tak hanya bermanfaat bagi dunia kesehatan, proyek ini juga membawa misi lingkungan melalui konsep upcycling limbah organik. Dengan mengubah bonggol pisang menjadi produk bernilai guna, Alvin dan Ridwan memberikan solusi ganda berupa alternatif kesehatan yang terjangkau sekaligus upaya pengurangan limbah pertanian yang biasanya hanya dibiarkan membusuk.
Riset yang berlangsung sejak April hingga Agustus 2026 ini dilakukan secara mandiri di laboratorium sekolah dengan dukungan penuh dari berbagai instansi, seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BRIDA, Dinas Kesehatan, hingga aparat Kecamatan Purwosari. Kehadiran berbagai pihak ini menjadi bukti nyata dukungan pemerintah kabupaten terhadap kreativitas dan inovasi generasi muda.
Melalui temuan ini, kedua peneliti muda tersebut berharap bonggol pisang tidak lagi dipandang sebelah mata dan dapat menjadi pijakan awal bagi pengembangan obat berbasis bahan alam asli Indonesia. Inovasi pelajar SMPN 1 Purwosari ini membuktikan bahwa anak muda Bojonegoro mampu menjawab tantangan global di bidang kesehatan dengan mengangkat potensi lokal yang ada di sekitar mereka.
Karya ilmiah ini diharapkan terus dikembangkan ke tahap yang lebih lanjut agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat sebagai solusi pencegahan penyakit yang alami dan ekonomis.(red/toh)





































