Mengenal Kanker Usus Besar yang Menewakan Penulis Jepang Keigo Higashino
Selasa, 28 Juli 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Kanker usus besar atau yang dikenal dalam dunia medis sebagai kanker kolorektal merupakan salah satu jenis penyakit ganas yang membutuhkan kewaspadaan tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit ini menempati urutan kedua sebagai penyebab kematian akibat kanker terbanyak di dunia dengan catatan sekitar 900 ribu jiwa meninggal dunia setiap tahunnya.
Merujuk penjelasan medis Siloam Hospitals, kanker usus besar merupakan kondisi hadirnya tumor ganas pada area usus besar. Penyakit ini pada umumnya berawal dari pembentukan polip atau tumor jinak yang lambat laun mengalami mutasi genetik hingga berubah menjadi ganas.
"Kanker usus besar biasanya diawali oleh polip atau tumor jinak yang terus bertumbuh karena mutasi genetik. Apabila tidak mendapatkan penanganan medis dengan segera, tumor jinak ini dapat berkembang menjadi kanker," tulis Siloam Hospitals dalam keterangan resminya.
Meskipun penyebab pastinya belum diketahui secara pasti, terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan potensi seseorang terkena kanker kolorektal. Faktor-faktor tersebut meliputi usia di atas 50 tahun, keberadaan polip usus, riwayat keluarga dengan penyakit serupa, penyakit radang usus, diabetes, hingga obesitas.
Selain itu, gaya hidup tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol, kurangnya aktivitas fisik, pola makan rendah serat, serta konsumsi daging merah secara berlebihan turut memicu munculnya penyakit ini. Kendati mayoritas dialami oleh kelompok usia lanjut, tren kasus belakangan menunjukkan kanker usus besar mulai ditemukan pada kelompok usia muda.
Satu di antara tantangan terbesar penanganan kanker kolorektal adalah sifatnya yang minim gejala pada stadium awal. Hal ini kerap membuat penderita terlambat menyadari kondisi kesehatannya.
"Kanker kolorektal sering kali tidak memiliki gejala atau hanya gejala ringan pada stadium awal," demikian keterangan resmi WHO.
Sejumlah indikasi fisik yang patut diwaspadai antara lain perubahan pola buang air besar, diare atau konstipasi berkepanjangan, pendarahan saat BAB, tinja berwarna gelap, nyeri atau kram perut secara terus-menerus, penurunan berat badan secara mendadak, tubuh cepat lelah, hingga anemia.
Sebagai langkah antisipasi, WHO menegaskan bahwa risiko kanker usus besar dapat ditekan melalui penerapan pola hidup sehat serta skrining kesehatan secara rutin. Masyarakat diimbau untuk memperbanyak asupan serat dari buah dan sayur, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta menghindari rokok dan alkohol. Skrining berkala seperti metode kolonoskopi sangat dianjurkan bagi warga yang memiliki faktor risiko tinggi agar potensi polip prakanker dapat diangkat sebelum berkembang lebih jauh.
Editor: Mulyanto






































