Bahaya Konsumsi Mi Instan Berlebih: Tinggi Natrium dan Berpotensi Picu Hipertensi
Selasa, 04 Agustus 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Mi instan menjadi salah satu makanan favorit banyak orang karena praktis, terjangkau, dan lezat. Namun, di balik kepraktisannya, mengonsumsi mi instan secara rutin berpotensi memicu masalah kesehatan serius, salah satunya adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi akibat tingginya kadar natrium di dalamnya.
Spesialis jantung dan pembuluh darah dr Badai Bhatara Tiksnadi MM SpJP(K) menjelaskan bahwa hubungan antara asupan natrium yang berlebihan dengan penyakit hipertensi sangat erat. Dalam satu bungkus mi instan saja, kandungan natriumnya bisa mencapai sekitar 1.400 miligram, padahal batas aman konsumsi harian yang dianjurkan berada di angka 2.000 miligram.
"Jawabannya berpotensi memicu hipertensi. Karena hubungan antara asupan natrium dengan tekanan darah tinggi itu cukup jelas," kata dr Badai Bhatara Tiksnadi.
Ia mengingatkan bahwa asupan natrium tidak hanya bersumber dari mi instan, melainkan juga dari makanan olahan gurih lainnya seperti saus, kecap, sambal, mayones, hingga produk makanan cepat saji. Oleh karena itu, dr Badai menyarankan agar masyarakat memangkas porsi bumbu saat menyajikan mi instan.
"Ya, jadi di bumbu yang sebungkus kecil itu yang rasanya sangat gurih dan enak, itu mengandung natrium yang sangat tinggi. Sehingga kurangi sebanyak mungkin bumbu, kalau perlu seperempat," ujar dr Badai.
Untuk menekan risiko kesehatan, ia menyarankan agar bumbu bawaan mi diganti dengan olahan rempah alami buatan rumah serta memprioritaskan sumber karbohidrat utuh seperti nasi, kentang, atau singkong.
Sejalan dengan hal tersebut, spesialis gizi klinis dr Diana Suganda MKes SpGK menekankan pentingnya membatasi frekuensi konsumsi serta melengkapi kecukupan gizi saat memasak mi instan.
"Jarangin, misal sebulan sekali. Atau kita rebus, airnya dibuang, kita ganti pakai air lain. Terus kan mi instan isinya cuma karbo, tambahin protein jadi ada telurnya, ada sayurnya, kita potong-potong kasih sawi, kol," kata dr Diana Suganda.






































