Peluang Kembali Normal, Kenali Serba-Serbi Prediabetes dan Cara Pencegahannya
Senin, 10 Agustus 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Kadar gula darah yang tinggi kerap diidentikkan langsung dengan penyakit diabetes. Namun, sebelum seseorang jatuh pada kondisi diabetes tipe 2, terdapat satu fase transisi yang sering kali luput dari perhatian, yakni prediabetes. Kondisi ini menandakan bahwa kadar glukosa dalam darah sudah berada di atas batas normal, tetapi belum memenuhi kriteria untuk didiagnosis sebagai diabetes.
Prediabetes umumnya tidak menunjukkan gejala yang khas, sehingga banyak penderitanya baru mengetahui kondisi tersebut secara tidak sengaja melalui pemeriksaan kesehatan atau medical check-up rutin. Faktor pemicunya pun beragam, mulai dari kelebihan berat badan atau obesitas, riwayat keturunan dalam keluarga, hipertensi, hingga kurangnya aktivitas fisik sehari-hari.
Kabar baiknya, fase prediabetes bukanlah vonis mutlak seseorang pasti akan menderita diabetes di masa depan. Menurut Ketua Cabang PERSADIA Jakarta Barat, dr. Marshell Tendean, Sp.PD., Subsp. E.M.D., FINASIM, kondisi prediabetes sangat berpeluang untuk kembali normal apabila ditangani dengan langkah pencegahan yang tepat.
Berdasarkan studi Diabetes Prevention Program (DPP), intervensi gaya hidup terbukti memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perjalanan penyakit ini.
"Ternyata lifestyle modification yaitu diet dan olahraga itu menurunkan kejadian prediabetes menjadi diabetes sampai 58 persen," ujar dr. Marshell dalam diskusi media Kalbe bertajuk "End-to-End Diabetes Ecosystem Support: Dari Pencegahan hingga Manajemen Jangka Panjang".
Artinya, konsistensi dalam menjaga pola makan yang lebih sehat serta rutin berolahraga mampu memangkas risiko perkembangan penyakit secara drastis. Bahkan, dalam kondisi tertentu, pasien yang telah terdiagnosis diabetes tipe 2 pun memiliki peluang untuk mencapai fase remisi.
Kendati demikian, para ahli mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut memerlukan kedisiplinan tinggi. Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD-KEMD, menjelaskan bahwa hasil optimal dalam riset didukung oleh pengawasan ketat, termasuk kepatuhan terhadap diet rendah kalori dan aktivitas fisik yang terukur selama berbulan-bulan.
"Kalau kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari mungkin akan sedikit ada perbedaan, kalau kita tidak seketat penelitian itu," tegas dr. Ida.
Oleh karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala memegang peranan krusial agar masyarakat dapat segera menyadari risiko kesehatan sejak dini. Pendampingan berkelanjutan serta edukasi publik yang komprehensif juga dinilai sangat penting agar setiap individu mampu mempertahankan komitmen gaya hidup sehat dalam jangka panjang demi mencegah komplikasi serius di masa mendatang.






































