Khofifah Pimpin Misi Dagang Perdana Jatim–Jateng 2026, Nilai Transaksi Lampaui Rp3,15 Triliun
Selasa, 03 Februari 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Jawa Timur - Misi Dagang dan Investasi antara Jawa Timur dan Jawa Tengah pada awal 2026 mencatat capaian signifikan. Kegiatan yang dipimpin langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu membukukan komitmen transaksi dengan nilai lebih dari Rp3,15 triliun, menandai penguatan kerja sama ekonomi antardaerah di awal tahun.
Nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp3.152.408.358.000, terdiri dari transaksi Jatim Jual sebesar Rp2,76 triliun, Jatim Beli senilai Rp296,86 miliar, serta komitmen investasi sebesar Rp96 miliar. Capaian tersebut menunjukkan tingginya respons pelaku usaha terhadap forum bisnis yang mempertemukan penjual dan pembeli dari dua provinsi bertetangga itu.
“Matur nuwun semuanya, ini sinergi yang luar biasa. Dari business matching terlihat jelas kebutuhan yang saling melengkapi antara Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ujar Khofifah. “Jawa Timur membutuhkan produk Jawa Tengah, begitu juga sebaliknya. Alhamdulillah, hingga pukul 17.00 WIB transaksi sudah menembus Rp3,152 triliun lebih.”
Misi dagang yang digelar di Semarang tersebut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, jajaran perangkat daerah kedua provinsi, serta perwakilan berbagai asosiasi dunia usaha. Forum ini dimanfaatkan sebagai sarana memperluas akses pasar sekaligus memperkuat rantai pasok dalam negeri.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah memaparkan bahwa transaksi yang terjalin mencerminkan karakter ekonomi masing-masing daerah. Produk unggulan Jawa Timur dipasarkan melalui skema Jatim Jual, antara lain rokok, beras, kopi, gula kristal putih, pakan ikan dan udang, benih pertanian, daging dan produk olahannya, susu, hasil perikanan, hingga pupuk organik cair.
Sebaliknya, melalui skema Jatim Beli, Jawa Timur menyerap berbagai komoditas dari Jawa Tengah, seperti kayu bulat, telur ikan, cengkeh, tembakau, bahan pangan olahan, hingga produk UMKM. Pola transaksi dua arah ini dinilai mampu menciptakan keseimbangan perdagangan antarwilayah.
“Produk yang diperdagangkan dalam misi dagang ini menunjukkan bahwa kita saling melengkapi, bukan saling bersaing,” kata Khofifah.
Selain sektor perdagangan, kegiatan ini juga menghasilkan komitmen investasi, termasuk di sektor perumahan. Sejumlah transaksi bernilai besar tercatat berasal dari sektor peternakan, gula kristal putih, serta industri hasil tembakau dengan nilai ratusan miliar hingga triliunan rupiah per tahun.
“Kita semua punya kekuatan dan keterbatasan. Mari tumbuh bersama, berkembang bersama, maju bersama, dan sejahtera bersama. Kuncinya sinergi dan kolaborasi,” tuturnya.
Khofifah menambahkan, misi dagang merupakan instrumen strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah. Jawa Timur tercatat memiliki kinerja ekonomi yang solid, termasuk surplus perdagangan antarwilayah terbesar secara nasional. Sejak 2019, puluhan misi dagang domestik dan internasional telah digelar dengan total komitmen transaksi mencapai puluhan triliun rupiah.
Kegiatan misi dagang Jatim–Jateng ini juga ditandai dengan penandatanganan sejumlah kerja sama antara perangkat daerah dan pelaku usaha sebagai dasar penguatan kolaborasi ekonomi jangka panjang.(red/toh)
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir































.md.jpg)






