Kebutuhan Industri Tinggi Impor Kedelai Jawa Timur Melonjak 23,8 Persen Pada Awal 2026
Rabu, 03 Juni 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Jawa Timur - Arus impor komoditas kedelai di Provinsi Jawa Timur mencatatkan lonjakan yang cukup signifikan pada awal tahun 2026. Kenaikan volume masuknya barang tersebut dipicu oleh tingginya permintaan bahan baku untuk sektor industri pangan lokal, yang diperparah oleh tekanan harga akibat dinamika konflik geopolitik global yang belum mereda.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur melaporkan adanya pertumbuhan kuantitas impor kedelai selama periode Januari hingga Februari 2026 yang menyentuh angka 23,8% jika disandingkan dengan perolehan pada fase yang sama tahun lalu.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jawa Timur, Erivina Lucky Kristian, menjabarkan bahwa pergerakan naik ini berlangsung di tengah situasi penguatan mata uang dolar Amerika Serikat yang menekan posisi rupiah. Fenomena fluktuasi nilai tukar tersebut secara otomatis memberikan dampak langsung terhadap beban biaya impor yang harus ditanggung di pasar domestik.
“Impor kedelai pada Januari–Februari 2026 mengalami kenaikan volume sebesar 23,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” beber Lucky, Selasa (02/06/2026).
Berdasarkan data operasional, volume kedelai yang didatangkan ke Jawa Timur pada dua bulan pertama tahun ini menyentuh angka 188.014.939 kilogram. Nilai transaksi dari pengadaan tersebut menembus angka US$89.575.663. Data ini memperlihatkan lompatan yang jelas dari periode yang sama di tahun sebelumnya yang tertahan di posisi 151.875.612 kilogram.
Kawasan Amerika Utara sejauh ini masih menempati posisi teratas sebagai wilayah pemasok utama bagi kebutuhan kedelai di Jawa Timur. Negara Amerika Serikat mendominasi kiriman dengan volume mencapai 186.050.019 kilogram yang setara dengan nilai US$88.641.634. Sementara itu, Kanada ikut menyuplai sebanyak 1.964.920 kilogram dengan proyeksi nilai transaksi US$934.029.
Lucky menerangkan ketergantungan pasokan yang berpusat pada kedua negara tersebut membuat skema harga kedelai di dalam negeri menjadi sangat sensitif terhadap nilai tukar mata uang. Keadaan kian menantang lantaran adanya penyesuaian tarif bahan bakar minyak serta biaya logistik pengiriman internasional yang ikut merangkak naik imbas situasi politik global.
“Negara utama asal impor kedelai adalah Amerika Serikat dan Kanada, sehingga penguatan dolar terhadap rupiah sangat memengaruhi harga kedelai. Ditambah kenaikan harga bahan bakar dan logistik,” jelasnya.
Kendati tekanan dari sektor hulu cukup kuat, intervensi harga di tingkat konsumen untuk area Jawa Timur dilaporkan masih berada dalam batas aman dan terkendali. Merujuk pada pembaruan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok, rata-rata banderol kedelai impor per 2 Juni 2026 berada di angka Rp12.591 per kilogram, sedangkan untuk jenis kedelai lokal dijual seharga Rp13.032 per kilogram.
Guna mengamankan situasi tersebut, pihak Disperindag menegaskan bakal memperketat pengawasan di jalur distribusi guna memperkecil ruang gerak spekulan yang mencoba memanfaatkan momen untuk melakukan penimbunan barang.
“Monitoring harga kami lakukan secara rutin melalui Siskaperbapo, termasuk pengawasan stok di lapangan agar tidak terjadi penimbunan oleh distributor,” pungkasnya.


















.sm.jpg)



















