Musim Kemarau 2026, 93 Desa di 24 Kecamatan Bojonegoro Berpotensi Alami Kekeringan
Rabu, 10 Juni 2026 20:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Memasuki musim kemarau tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro mulai meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah antisipasi penanganan dampak kekeringan kini digenjot, salah satunya dengan menyiapkan skema distribusi air bersih ke sejumlah wilayah yang membutuhkan.
Berdasarkan data hasil pemetaan dan mitigasi bencana yang dilakukan BPBD Bojonegoro, tercatat sebanyak 93 desa yang tersebar di 24 kecamatan dari total 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, masuk dalam peta wilayah berpotensi terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini.
Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi mengungkapkan bahwa jumlah desa rawan kekeringan tersebut didapatkan dari hasil pemetaan intensif yang telah berjalan sejak awal tahun.
“Sebanyak 93 desa di 24 kecamatan diprediksi mengalami kekeringan. Angka ini merupakan hasil mitigasi yang telah dilakukan BPBD Bojonegoro sejak awal tahun,” ujar Heru kepada awak media, Rabu (10/06/2026).
Meski angka tersebut tergolong besar, Heru menyebutkan bahwa jumlah desa yang berpotensi terdampak kekeringan tahun ini sebenarnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. Di mana pada kemarau tahun lalu, jumlah wilayah yang mengalami krisis air bersih mencapai 106 desa.
“Jumlah ini menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 106 desa terdampak kekeringan,” katanya.
Terkait penurunan tersebut, ia menjelaskan bahwa berkurangnya jumlah desa yang masuk dalam kategori rawan kekeringan ini dipengaruhi oleh meningkatnya akses layanan air bersih di tingkat desa. Di antaranya berkat optimalisasi pembangunan jaringan air bersih oleh pemerintah desa (Pemdes) serta perluasan cakupan layanan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bojonegoro.
Kendati demikian, Heru menegaskan bahwa data hasil mitigasi yang dikantongi saat ini masih bersifat prediksi awal. Kondisi tersebut masih sangat dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu, menyesuaikan perkembangan cuaca serta ketersediaan sumber air di lapangan.
“Data mitigasi ini belum bisa memastikan jumlah akhir desa terdampak. Masih ada kemungkinan terjadi penambahan maupun pengurangan, tergantung kondisi di lapangan,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihak BPBD Bojonegoro juga tetap mewaspadai adanya potensi perluasan wilayah terdampak. Apalagi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi karakteristik musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih ekstrem.
“Berdasarkan prediksi BMKG, tahun ini berpotensi terjadi musim kemarau yang lebih ekstrem. Karena itu, kami memperkirakan jumlah desa yang mengalami kekeringan bisa bertambah,” ungkap Heru.
Sebagai informasi, dari total 24 kecamatan yang dipetakan rawan kekeringan tersebut, tiga wilayah yakni Kecamatan Sumberrejo, Kepohbaru, dan Ngasem menjadi titik dengan jumlah desa terdampak paling banyak.
Menyikapi kondisi tersebut, BPBD Bojonegoro mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk mulai melakukan langkah-langkah antisipasi secara mandiri, salah satunya dengan menghemat penggunaan air bersih.
“Kami mengimbau masyarakat untuk lebih hemat dan bijak dalam menggunakan air, karena kondisi cuaca tahun ini diprediksi lebih parah dibandingkan tahun lalu,” pungkas Heru. (red/imm)





































