Penyebab Mengapa Warga RI Tak Banyak yang Berumur Panjang
Rabu, 22 Juli 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Penyebab utama belum maksimalnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia kini bergeser. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa pemicu kematian tertinggi saat ini bukan lagi berasal dari ancaman penyakit menular, melainkan penyakit tidak menular seperti stroke, gangguan jantung, kanker, hingga gagal ginjal.
Ancaman penyakit kronis tersebut dinilai menjadi faktor dominan yang menekan rata-rata usia harapan hidup masyarakat. Menanggapi kondisi itu, Menkes menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan atau deteksi dini secara berkala untuk memangkas potensi komplikasi yang mematikan.
"Karena sekarang yang paling banyak bikin usia kita pendek, itu stroke, jantung, kanker, ginjal. Ini semua kalau CKG-nya rutin, ketahuan, ditata laksana, insya Allah kalau tekanan darah selalu di bawah 120/80, gulanya selalu di bawah 200, kolesterol selalu di bawah 200, dan gizinya baik," kata Menkes di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (20/07/2026).
Menkes menilai bahwa langkah preventif atau pencegahan harus menjadi fondasi utama dalam mendongkrak usia harapan hidup nasional. Jika pencegahan penyakit menular mengandalkan program imunisasi, maka penanganan penyakit tidak menular bertumpu pada penguatan skrining kesehatan secara berkala.
Atas dasar itulah, pemerintah menggulirkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang tidak hanya memfasilitasi pemeriksaan awal, tetapi juga penanganan medis bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki faktor risiko.
"Kalau faktor risikonya bisa diketahui lebih awal dan ditata laksana, risiko terkena stroke, serangan jantung, kanker, maupun gagal ginjal bisa ditekan," ujar Menkes.
Berdasarkan data terkini, angka harapan hidup masyarakat Indonesia berada pada kisaran 74 tahun. Lewat agenda transformasi kesehatan yang berfokus pada penguatan layanan promotif serta preventif, pemerintah mematok target peningkatan usia harapan hidup menjadi 76 tahun pada 2029 mendatang.
Di luar urusan deteksi dini, Menkes turut mengingatkan krusialnya pemenuhan gizi yang seimbang sesuai tahap usia kehidupan. Asupan gizi yang teratur dan tepat sasaran diyakini menjadi kunci menjaga kebugaran tubuh hingga memasuki usia senja.
Ia menegaskan, pengendalian tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, serta pemenuhan gizi seimbang menjadi fondasi penting untuk membentengi diri dari ancaman penyakit tidak menular.
"Kalau tekanan darah terjaga, gula darah dan kolesterol terkendali, serta gizinya baik, maka kualitas hidup meningkat dan usia harapan hidup masyarakat juga bisa lebih panjang," pungkasnya.
Editor: Mulyanto
Publisher: Mohamad Tohir






































