Mengapa Tahun Baru Dirayakan pada 1 Januari? Ini Sejarah di Baliknya
Kamis, 01 Januari 2026 09:00 WIBOleh Tim Redaksi
Setiap pergantian tahun, jutaan orang di seluruh dunia merayakan Tahun Baru pada tanggal 1 Januari dengan pesta kembang api, resolusi baru, dan harapan segar. Namun, mengapa tanggal ini dipilih sebagai penanda awal tahun? Penetapan 1 Januari sebagai Hari Tahun Baru bukanlah kebetulan, melainkan hasil evolusi panjang kalender dari peradaban kuno hingga reformasi modern.
Perayaan tahun baru tertua tercatat sekitar 2000 SM di Mesopotamia (sekarang Irak), dengan festival Akitu yang berlangsung 12 hari pada ekuinoks musim semi sekitar Maret. Di Mesir Kuno, tahun baru dimulai saat munculnya bintang Sirius sekitar Juli, sementara di Tiongkok kuno, perayaan Imlek jatuh pada akhir Januari atau awal Februari berdasarkan siklus lunar.
Di Roma Kuno, kalender awal hanya memiliki 10 bulan (304 hari) dan dimulai pada Maret, sesuai nama dewa perang Mars. Raja Numa Pompilius (abad ke-7 SM) menambahkan bulan Januarius (Januari, dari dewa Janus yang bermuka dua—melambangkan melihat masa lalu dan masa depan) dan Februarius.
Pada 153 SM, 1 Januari mulai digunakan sebagai awal masa jabatan konsul Romawi untuk sinkronisasi administrasi. Reformasi besar terjadi pada 46 SM saat Julius Caesar, atas saran astronom Sosigenes, memperkenalkan Kalender Julian berbasis matahari dengan 365 hari dan tahun kabisat. Caesar menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun sipil, menghormati dewa Janus yang melambangkan permulaan dan transisi.
Kalender Julian menyebar luas bersama Kekaisaran Romawi, tapi memiliki kesalahan akumulatif pada tahun kabisat, menyebabkan pergeseran musim dan masalah penentuan Paskah. Pada 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan Kalender Gregorian yang lebih akurat, memperbaiki aturan kabisat dan mengembalikan 1 Januari sebagai Hari Tahun Baru.
Kalender ini diadopsi bertahap: Italia dan negara Katolik segera, Inggris serta koloni Amerika pada 1752, Cina pada 1912. Kini, Kalender Gregorian digunakan secara global untuk urusan sipil, meski beberapa budaya tetap merayakan tahun baru tradisional seperti Imlek atau Rosh Hashanah.
Penetapan 1 Januari mencerminkan kombinasi mitologi Romawi, kebutuhan administrasi, dan koreksi ilmiah. Simbol dewa Janus yang melihat ke belakang dan ke depan pun selaras dengan tradisi refleksi akhir tahun dan harapan baru. Di tengah kemeriahan Tahun Baru 2026, sejarah ini mengingatkan bahwa waktu adalah konstruksi manusia yang terus berevolusi untuk menyinkronkan kehidupan bersama. (red/toh)




































.md.jpg)






