Review Film 5 Centimeters per Second Versi Live-Action yang Sukses Memperkaya Kisah Klasik Makoto Shinkai
Kamis, 12 Februari 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Adaptasi live-action dari anime legendaris 5 Centimeters per Second (2007) karya Makoto Shinkai telah berhasil menarik perhatian pecinta film Jepang. Disutradarai oleh Yoshiyuki Okayama, versi ini membuktikan bahwa pendekatan baru dapat memperkaya cerita orisinal tanpa menghilangkan esensi emosionalnya.
Menurut ulasan dari blog Movfreak yang ditulis oleh Rasyidharry pada 1 Februari 2026, jika anime asli ibarat "kilasan memori-memori" yang singkat dan penuh nostalgia, maka film live-action berdurasi 123 menit ini justru memungkinkan penonton untuk benar-benar meresapi momen ketika peristiwa terjadi. Pendekatan berbeda tersebut, ditambah naskah yang cerdas dari Fumiko Suzuki, berhasil membenarkan keberadaan adaptasi ini.
Cerita tetap berpusat pada Takaki Tōno (diperankan oleh Haruto Ueda sebagai anak kecil, Yuzu Aoki sebagai remaja, dan Hokuto Matsumura sebagai dewasa) serta Akari Shinohara (Noa Shiroyama dan Mitsuki Takahata). Meski keinginan mereka untuk bersatu begitu kuat, takdir terus memisahkan keduanya. Garis besar plot masih sama: Takaki hidup dalam kesendirian sendu setelah berpisah dengan Akari sejak SD, meski sempat bertemu perempuan lain seperti Kanae Sumida (Nana Mori) di masa SMA dan Risa Mizuno (Mai Kiryû) di lingkungan kerja.
Yang membedakan adalah struktur narasi. Alih-alih tiga segmen pendek seperti anime, film ini menyajikan untaian panjang yang saling berkelindan dengan transisi mulus. Keputusan paling cerdas adalah membalik struktur materi asli, sehingga reuni singkat Takaki dan Akari di tengah badai salju—disertai lagu ikonik "One More Time, One More Chance"—ditempatkan di akhir sebagai puncak emosi. Hal ini membuat penonton semakin terikat dengan perjalanan emosional kedua tokoh.
Durasi yang lebih panjang memungkinkan pengembangan karakter lebih dalam. Hubungan masa kecil Takaki dan Akari terasa lebih hangat karena penonton diberi waktu lebih banyak untuk mengamati kebersamaan mereka. Takaki bukan lagi sosok penuh ragu yang pasif; ia menjadi manusia biasa yang tak berdaya melawan takdir, sesekali menunjukkan senyum simpul yang membuatnya lebih relatable. Akari pun mendapat eksplorasi lebih luas, mengubah cerita dari perspektif satu orang menjadi kisah sepasang manusia—mirip dua satelit Voyager 1 dan Voyager 2 yang meluncur hampir bersamaan namun terus menjauh di angkasa, membawa kenangan abadi.
Visual film ini dibungkus nuansa klasik dengan tekstur bergrain, menangkap lanskap alam indah termasuk senja ungu khas Shinkai. Meski beberapa bagian terasa berlarut-larut karena durasi panjang, penokohan dan dinamika hubungan justru semakin berkembang.
Secara keseluruhan, adaptasi ini merupakan reinterpretasi cukup sukses yang memperkaya gagasan Shinkai, membangun ikatan emosional lebih kuat, dan menjadikan kisah tentang takdir, jarak, serta kenangan yang terpatri abadi sebagai cerita dua orang, bukan satu. Bagi penggemar anime asli, versi live-action ini menawarkan perspektif segar yang layak ditonton, meski tetap mempertahankan nuansa melankolis yang mendalam tentang cinta yang tak tersampaikan.
Film ini menjadi salah satu adaptasi menonjol di 2025-2026, membuktikan bahwa karya klasik bisa hidup kembali dalam medium berbeda dengan cara yang bermakna.
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir































.md.jpg)






