Review Film The Secret Agent , Menziarahi Kabut Sejarah dalam Kesunyian
Minggu, 15 Februari 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Film The Secret Agent (2025) adalah wakil Brazil dalam ajang Oscar tahun 2026 ini. Garapan sutradara Kleber Mendonça Filho ini berhasil menembus nominasi untuk kategori Best International Feature Film dan Best Picture, menjadikannya salah satu kandidat kuat. Menonton The Secret Agent terasa seperti meraba-raba di dalam kegelapan. Untuk waktu yang cukup lama, penonton dibiarkan buta terhadap identitas asli sang protagonis, motif pelariannya, hingga bagaimana kepingan subplot yang tersebar akan saling mengunci. Sesuai judulnya, kerahasiaan adalah napas sekaligus tameng bagi karakternya untuk tetap bertahan hidup.
Ketegangan dibangun sejak adegan pembuka saat Armando (Wagner Moura) memulai perjalanannya menuju Recife. Di sebuah SPBU yang dihantui aroma busuk mayat yang terabaikan, ia dicegat dua polisi. Lewat kepiawaian penyuntingan dan pergerakan kamera, sutradara Kleber Mendonça Filho berhasil memanen kecemasan, membuat kita khawatir akan nasib Armando. Namun, ia lolos hanya dengan modal rokok sebagai pelicin. Setibanya di Recife, suasana kontras menyambut: keriuhan karnaval yang memakan korban jiwa berpadu dengan penemuan mengerikan sepotong kaki manusia di dalam perut hiu macan.
Armando kemudian menjalani hidup dalam penyamaran. Menggunakan nama samaran "Marcelo", ia tinggal di apartemen khusus pengungsi milik Dona Sebastiana (Tânia Maria) dan bekerja di kantor pendataan penduduk. Di tengah rutinitas itu, ia sesekali menjenguk putranya yang kini dirawat sang mertua pasca-kematian istrinya, bahkan sempat beririsan dengan Euclides (Robério Diógenes), seorang kepala polisi yang korup.
Mengambil latar tahun 1977, film ini menangkap potret era yang ambigu. Di satu sisi, ada gairah kebebasan liar lewat pesta yang seolah tak pernah usai—yang juga dinikmati Armando melalui hubungan kasual dengan tetangganya, Claudia (Hermila Guedes). Di sisi lain, ini adalah zaman kegelapan di mana penguasa bisa dengan mudah melenyapkan suara-suara kritis dan menguburnya dengan tumpukan berita palsu sebagai distraksi.
Pada masa tersebut, film horor seperti Jaws dan The Omen menjadi primadona di bioskop sebagai bentuk eskapisme masyarakat dari teror dunia nyata. Namun, The Secret Agent justru mengambil arah sebaliknya. Alih-alih menawarkan pelarian, film ini berfungsi sebagai pengingat pahit tentang bagaimana otoritas memanipulasi kebenaran melalui pertumpahan darah.
Dengan durasi mencapai 161 menit, Filho sengaja tidak menyajikan tontonan yang "ramah" atau mudah dicerna. Penyutradaraannya lebih banyak merangkul keheningan, membuat atmosfernya terasa lebih teduh ketimbang gaya sinema grindhouse kelas B yang menjadi inspirasinya. Film ini menolak menjadi sekadar hiburan berbasis kekerasan eksplisit demi memberi kenyamanan semu bagi penontonnya.
Kompleksitas narasi makin terasa lewat naskah yang ditulis sendiri oleh sang sutradara. Alurnya bergerak liar, melompati dimensi waktu—bahkan hingga ke masa kini—serta menyisipkan subplot yang tidak langsung menjelaskan hubungannya dengan alur utama, seperti kehadiran dua pembunuh bayaran, Augusto (Roney Villela) dan Bobbi (Gabriel Leone). Meski bagi sebagian orang struktur ini mungkin terasa berserakan, saya justru melihatnya sebagai ambisi naskah yang sangat kaya dan berlapis.
Di jantung kerumitan narasi ini, Wagner Moura tampil memukau dengan akting yang sangat subtil. Sorot matanya yang sendu seolah terus menerawang masa depan yang buram, sementara beban luka masa lalu tampak nyata memberatkan setiap langkahnya.
Pilihan Filho untuk menutup film dengan kesenyapan—tanpa akhir yang bombastis—adalah sebuah keputusan yang brilian. Konklusi yang tenang namun menyesakkan ini menjadi potret sempurna bagi mereka yang nasibnya dihapus secara paksa dari sejarah, dikunci rapat oleh "amnesia kolektif" dan fitnah yang dipelihara penguasa.(red/toh)































.md.jpg)






