Musim Kemarau Mulai Berdampak, BPBD Bojonegoro Petakan 93 Desa Rawan Kekeringan
Senin, 15 Juni 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Menghadapi musim kemarau 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro mulai mengintensifkan langkah antisipasi dampak kekeringan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah penyaluran bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang mulai mengalami kesulitan pasokan air.
Hasil pemetaan kerawanan yang dilakukan BPBD menunjukkan terdapat 93 desa di 24 kecamatan yang berpotensi terdampak kekeringan selama musim kemarau tahun ini. Jumlah tersebut mencakup sebagian besar wilayah di Kabupaten Bojonegoro yang memiliki total 28 kecamatan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, menjelaskan bahwa data tersebut diperoleh melalui kegiatan pemetaan dan mitigasi yang telah dilakukan sejak awal tahun sebagai dasar penyusunan langkah penanganan.
“Berdasarkan hasil mitigasi yang kami lakukan, ada 93 desa yang tersebar di 24 kecamatan yang diperkirakan berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini,” kata Heru.
Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah wilayah yang masuk kategori rawan kekeringan mengalami penurunan. Pada musim kemarau tahun lalu, tercatat sebanyak 106 desa terdampak kekurangan air bersih.
Menurut Heru, berkurangnya jumlah desa yang masuk dalam peta kerawanan tidak lepas dari meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan air bersih. Sejumlah desa telah membangun sarana penyediaan air secara mandiri, sementara cakupan layanan PDAM Bojonegoro juga terus diperluas.
“Penurunan jumlah desa rawan kekeringan dipengaruhi oleh bertambahnya jaringan layanan air bersih, baik yang dibangun pemerintah desa maupun pengembangan layanan PDAM,” jelasnya.
Meski demikian, BPBD menegaskan bahwa angka tersebut masih berupa proyeksi awal. Kondisi sebenarnya sangat bergantung pada perkembangan cuaca, curah hujan, dan ketersediaan sumber air di masing-masing wilayah selama musim kemarau berlangsung.
Heru mengatakan, tidak menutup kemungkinan jumlah desa terdampak akan berubah seiring dinamika kondisi di lapangan.
“Data ini masih bersifat prediksi. Jumlah desa yang mengalami kekeringan bisa bertambah ataupun berkurang sesuai perkembangan situasi di lapangan,” ujarnya.
BPBD juga terus memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG. Berdasarkan prediksi yang diterima, musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang dan ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko kekurangan air di sejumlah wilayah yang selama ini masuk kategori rawan.
“Prediksi BMKG menunjukkan potensi kemarau yang lebih ekstrem. Karena itu kami tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bertambahnya wilayah yang terdampak,” tambah Heru.
Dari seluruh kecamatan yang masuk dalam pemetaan, Kecamatan Sumberrejo, Kepohbaru, dan Ngasem menjadi daerah dengan jumlah desa rawan kekeringan paling banyak.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan pola penggunaan air yang lebih hemat serta menjaga sumber-sumber air yang tersedia. Kesadaran dalam mengelola kebutuhan air dinilai penting untuk mengurangi dampak kekeringan yang diperkirakan lebih berat pada tahun ini.
“Kami mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak dan tidak berlebihan. Upaya penghematan sejak dini sangat penting mengingat potensi kemarau tahun ini diprediksi lebih berat dibandingkan tahun lalu,” pungkas Heru.






































