Antisipasi Dampak Kemarau Panjang, Pemkab dan Kecamatan Purwosari Petakan 3 Skenario Irigasi Pertanian
Rabu, 16 September 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Dampak kemarau panjang terhadap sektor pertanian terus mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Untuk memastikan ketersediaan pasokan air irigasi, Pemerintah Kecamatan Purwosari bergerak cepat melakukan koordinasi intensif bersama Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), serta Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Purwosari.
Kecamatan Purwosari mencatatkan total luas lahan pertanian mencapai 3.376 hektare, di mana 95 persen di antaranya merupakan lahan tadah hujan. Selama musim kemarau, para petani umumnya mengandalkan aliran Kali Gandong untuk mengairi tanaman komoditas tembakau dan jagung, namun keterbatasan pasokan air membuat kualitas hasil panen belum bisa maksimal.
Camat Purwosari, Ike Widiyaningrum, memaparkan bahwa pihaknya bersama dinas terkait telah merumuskan tiga skenario strategis sebagai penanganan jangka panjang:
- Pembangunan Cek Dam Kali Gandong: Dilengkapi pintu air untuk mengatur dan menampung alokasi air irigasi.
- Jaringan Pengairan Bendungan Karangnongko: Memanfaatkan koridor Solo Valley pasca-selesainya konstruksi fisik bendungan.
- Pengambilan Air (Intake) Bengawan Solo: Mengalirkan air dari Bengawan Solo menuju embung-embung desa yang sudah tersedia.
Dari ketiga opsi tersebut, skenario pengambilan air dari Sungai Bengawan Solo dinilai paling realistis untuk direalisasikan dalam waktu dekat. Pemkab bersama pihak kecamatan bahkan telah menyelesaikan pemetaan awal jaringan pengairan mulai dari titik pangkal Bengawan Solo menyisir Embung Blibis (Desa Purwosari), Embung Oro-Oro Geneng (Desa Gapluk), hingga embung di Desa Pojok, Punggur, Sedahkidul, dan Pelem.
"Pengairan dari Sungai Bengawan Solo yang dirasa paling memungkinkan karena sudah tersedia tampungan air berupa embung dan mempertimbangkan luasan areal pertanian. Hasil pemetaan jaringan ini tentunya membutuhkan kajian teknis dari dinas terkait, termasuk untuk alokasi anggaran dan kewenangannya," ujar Ike Widiyaningrum, Selasa (15/09/2026).
Sebagai bentuk tindak lanjut konkret, tim konsultan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) didampingi DKPP Kabupaten Bojonegoro telah menerjunkan tim untuk melakukan survei lokasi lapangan pada 10 September 2026 lalu.
Sementara itu, Koordinator Wilayah BPP Kecamatan Purwosari, Etty Nurdariyanti, optimistis jika proyek intake Bengawan Solo ini terealisasi, Indeks Pertanaman (IP) di wilayah Purwosari akan melonjak drastis.
"Dengan adanya strategi pemenuhan air dari Sungai Bengawan Solo ini, harapannya bisa meningkatkan produksi pertanian dan meningkatkan indeks pertanaman. Dari IP 1 bisa menjadi 2 atau bahkan 3. Karena saat ini kebutuhan pupuk dan bibit sudah terpenuhi, masalah utamanya tinggal kecukupan air," pungkas Etty.
Langkah terobosan ini diharapkan dapat membebaskan lahan pertanian kawasan Bojonegoro bagian barat dari ketergantungan hujan, sekaligus mengokohkan Purwosari sebagai salah satu benteng ketahanan pangan daerah.






































