News Ticker
  • Tips Percantik Visual Foto Produk UMKM dengan Memanfaatkan AI
  • Dudy Oris Ajak Nostalgia Penggemar Bojonegoro dengan Lagu Kasih Putih hingga Engkau Masih Anak Sekolah
  • Bupati Wahono Jelaskan Makna Tema Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026, Kenalkan Marketplace Baru untuk UMKM
  • 18 Juni dalam Sejarah
  • Prakiraan Cuaca 18 Juni 2026 di Bojonegoro
  • Mayat Laki-laki Asal Cirebon Ditemukan di Tepi Rel Kereta Api Jetak Bojonegoro
  • Ketua Dekranasda Jatim Arumi Bachsin Buka Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026
  • Pertunjukan Reog hingga Tari Warnai Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 Sebelum Resmi Dibuka
  • PLN Butuh 154 Juta Ton Batubara, Kementerian ESDM Pastikan Pasokan Aman
  • Hilirisasi Pertanian Bojonegoro Diperkuat Lewat Peresmian Pabrik Porang di Sekar
  • Jalan Sehat 1 Muharram Pemprov Jatim Berakhir Ricuh, Kupon Rusak dan Warga Merangsek Panggung
  • Khidmat, Ratusan Warga Ikuti Ruwatan Murwakala 2026 di Kayangan Api Bojonegoro
  • 17 Juni dalam Sejarah
  • Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 Dimulai Hari Ini, Berikut Rangkaian Acaranya
  • Prakiraan Cuaca 17 Juni 2026 di Bojonegoro
  • EMCL dan PDPM Bojonegoro Bekali Guru dan Siswa Menjadi Pionir Literasi Digital
  • Hubungan Golongan Darah dengan Harapan Hidup, Tipe O Diprediksi Paling Panjang Umur
  • Dukung Raperda Disabilitas Inisiatif DPRD Jatim, Pemprov Tekankan Pendekatan Berbasis Hak Asasi Manusia
  • Atasi Dampak Kemarau, BPBD Bojonegoro Mulai Intensif Salurkan Air Bersih ke Sejumlah Wilayah
  • Memudahkan Peternak, Kelompok Gayatri Desa Sengon Terapkan Sistem Barter Telur dan Pakan
  • Mengintip Manisnya Budidaya Melon Hidroponik di Sambongrejo Sumberrejo, Bisa Petik Sendiri dan Icip Gratis
  • Hilal Tidak Terlihat, PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh Pada Rabu 17 Juni 2026
  • 16 Juni dalam Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 16 Juni 2026
Dahlan, Sedari Kecil Tidak Pernah Mengenyam Pendidikan Formal

Dahlan, Sedari Kecil Tidak Pernah Mengenyam Pendidikan Formal

Ia dilahirkan di Kauman pada 1 Agustus 1869 Masehi dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya bernama Abu Bakar seorang Ketib Amin di Masjid Gede Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan ibunya bernama Siti Aminah seorang perempuan terpandang di Kauman karena anak dari Kyai Haji Ibrahim yang merupakan penghulu besar di Masjid Gede Kasultanan Ngayogyakarta. Darwis anak yang pintar namun sedari kecil tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Saat Darwis meminta ayahnya untuk disekolahkan ke sekolah formal ayahnya menolak mentah-mentah hal tersebut. Menurut ayahnya orang-orang Kauman yang bersekolah milik Governemen Hindia Belanda dianggap kafir. Kedua orang tua Darwis mendidiknya melalui jalur non formal yang lebih banyak membahas soal agama dengan mengikuti banyak pengajian dan kebetan kitab di sekitar Kauman.
 
 
Banyak sekali mempelajari tentang Islam dan kitab pada banyak guru besar membuat Darwis memiliki pemikiran-pemikiran yang kritis mengenai perkembangan Islam, khususnya Islam di Kauman yang cenderung bercampur baur dengan adat istiadat. Ia seringkali bertanya kepada ayah dan para gurunya, namun tetap saja, tidak mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan hatinya. Namun Darwis bersabar, dirinya sadar bahwa orang lain masih melihat Ia sebagai anak kecil, sehingga Ia tidak dapat berbuat apa-apa, yang dapat dilakukannya hanya terus belajar dan mengkaji ilmu agama, hingga nanti ketika sudah waktunya Ia dapat mengajak masyarakat Kauman untuk mengenal Islam yang tidak dicampur adukkan dengan adat istiadat yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
 
Menginjak umur 20 tahun Darwis diminta untuk mengikuti Sunnah Kanjeng Nabi yaitu menikah. Kangmas Nur ingin menikahkan adiknya yaitu Siti Walidah gadis yang berusia 17 tahun dengan Darwis. Darwis pun begitu senang karena memang Siti Walidahlah yang diharapkan untuk menjadi istrinya. Pada bulan Dzulhijjah 1889 dilaksanakanlah pernikahan antara Darwis dan Siti Walidah. Setelah menikah ayah Darwis yaitu Abu Bakar menginginkan Darwis menunaikan ibadah haji ke Mekah untuk memperdalam Islam.
 
 
Sampai di Mekah Darwis dibantu oleh Syekh Muhammad Shodiq dan Syekh Abdullah Zalbani karena belum hafal jalan-jalan di kota Mekah. Darwis mengunjungi ulama-ulama Tanah Air yang sudah menjadi guru Agama di Mekah diantaranya yaitu Kyai Mahfudz yang berasal dari Termas Pacitan, Kyai Nakhrawi atau Muhtarom yang berasal dari Banyumas, dan Kyai Muhammad Nawawi yang berasal dari Banten untuk bersilaturahim dan menimba ilmu.
 
Selama belajar di pondokan Syekh Ahmad Khatib, Darwis sempet bertemu dengan Dimas Hasyim yang berasal dari Jombang. Meskipun kami berasal dari budaya masyarakat yang berbeda kami mempunyai kesamaan pandangan dalam melihat kondisi umat Islam di Tanah Air yang sudah jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. Darwis menerima sertifikat haji yang tertera nama “Haji Ahmad Dahlan” yang diberikan langsung oleh Syekh Bakhri Syatho.
 
Setelah bapak Dahlan meninggal, Dahlan menggantikan tugas-tugas beliau sebagai Ketib Amin dan guru pengajian bagi warga Kauman yang rutin dilaksanakan di langgar. Saat menjabat sebagai Ketib Amin banyak rintangan yang dihadapi Dahlan salah satunya adalah saat Kanjeng Kyai Penghulu mengutus Dahlan untuk membongkar langgar yang kiblatnya tidak sesuai dengan Masjid Gede. Jika tidak segera dilaksanakan maka akan merobohkan bangunan langgar. Selain itu, Kyai Penghulu juga menilai Dahlan telah melanggar peraturan Struktur Kepenghuluan karena tidak dapat menjalankan tugas sebagai Ketib Amin secara maksimal dan menganggap terlalu egois karena lebih mementingkan jamaah pengajian di Langgar Kidul daripada jamaah Masjid Gede.
 
Akhir tahun 1908 Masehi Dahlan meendengar bahwa di Yogyakarta sudah berdiri sebuah organisasi yang peduli terhadap nasib pendidikan dan kesehatan orang-orang pribumi. Organisasi pendidikan dan kesehatan itu bernama Budi Utomo. Pada pertemuan ketiga kalinya dengan pengurus Budi Utomo, Dahlan menyatakan diri bergabung dengan perkumpulan tersebut atas desakan Dr. Wahidin. Sejak bergabung dengan perkumpulan Budi Utomo pemikiran Dahlan soal pembaharuan Islam semakin disambut baik oleh para pengurus dengan memberikan pengajian agama Islam bagi pengurus Budi Utomo dan guru-guru  yang mengajar di Kweekschool, Jetis, Yogyakarta, sesuai dengan bidang yang dikuasainya. Keikut sertaan Dahlan dalam organisasi Budi Utomo dipandang negatif oleh keluarga sehingga mereka memaksa Dahlan untuk keluar dari Budi Utomo dan berhenti menjadi tenaga pengajar di Kweekschool.
 
 
Untuk mewujudkan cita-citanya, pada tahun 1911 Dahlan membangun sekolah yang diberi nama Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Awal berdiri memiliki murid berjumlah sembilan orang yang terdiri dari murid-muridnya dan anggota keluarganya. Namun, lama kelamaan terus bertambah jumlah muridnya.
 
Pada bulan Desember tahun 1912 Dahlan membuat perkumpulan yang diberi nama Muhammadiyah. Dengan nama Muhammadiyah, Dahlan berharap semua anggota perkumpulan dapat menjadikan Kanjeng Nabi Muhammad sebagai teladan, bersemangat mengikuti ajarannya, dan menghidupkan sunah-sunah beliau.
 
Seiring berkembangnya Persyarikatan Muhammadiyah, Dahlan mengumpulkan seluruh perempuan di Kauman untuk diajak mengaji dan bersekolah. Tujuannya untuk membimbing kaum perempuan Kauman agar dapat menjalankan syariat Islam secara benar. Juga memberikan pendidikan ilmu pengetahuan, sehingga mereka dapat bangkit dari keterpurukan dan kebodohan. Pengajian itu diberi nama Sopo Tresno yang artinya Siapa Cinta dan diasuh oleh Wahidah. Setelah kelompok pengajian Sopo Tresno mengalami perekmbangan yang baik pada 22 April 1917 atau bertepatan dengan 27 Rajab 1355 Hijriyah, organisasi kaum perempuan Muhammadiyah resmi di dirikan dengan nama “Peryarikatan Aisyiyah” yang diketuai oleh Siti Bariyah.
 
 
 
Keunggulan novel ini :
1).Di dalam novel Dahlan banyak sekali istilah jawa yang tidak dapat dimengerti namun terdapat arti sehingga pembaca mudah memahaminya.
2).Menggambarkan budaya desa Kauman dengan terperinci.
3). Dapat memahami adat istiadat dan Islam yang dapat dipadukan di desa Kauman.
 
Kekurangan :
1).Terdapat beberapa istilah yang tidak ada artinya.
 
 
Judul Buku    : Dahlan
Penulis          : Haidar Musyafa
Penerbit         : PT Kaurama Buana Antara
Cetakan         : Cetakan ke-1
Halaman        : 414 halaman
ISBN              : 978-602-6799-20-3
Tahun Terbit  : Januari 2017
 
Penulis: Delfariza Amaliya AMd (Penulis resensi adalah guru Bimbel Gugusan Bintang YKIB)
 
Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark (PIGG) Bojonegoro, yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro, ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Menjadi "Raksasa" yang Lupa Cara Jadi Manusia

Menjadi "Raksasa" yang Lupa Cara Jadi Manusia

Pernahkah Anda merasa paling benar setelah memenangkan debat di kolom komentar? Atau merasa paling sukses saat melihat angka di saldo ...

Sosok

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bojonegoro - Berbeda dari anak-anak seusianya, seorang bocah dari Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini justru memiliki minat besar ...

Infotorial

Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa

Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa

Bojonegoro - Berakhirnya fase pengembangan Proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) pada 2021 menjadi titik balik bagi ratusan pemuda Desa Bandungrejo, ...

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Blora - Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan warga sekitar terus melakukan pencarian terhadap serpihan pesawat tempur T-50i Golden ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

1781761526.6684 at start, 1781761526.9016 at end, 0.23326802253723 sec elapsed