Ikut Pelatihan di Yogyakarta, Kader PKK di Bojonegoro Ini Berhasil Produksi Bakpia
Jumat, 21 November 2025 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Bakpia yang selama ini dikenal sebagai jajanan khas Yogyakarta, kini juga diproduksi di Bojonegoro. Salah satunya oleh seorang kader PKK Desa Klampok, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, yaitu Anik Suparwati (54).
Bakpia produksi Anik yang diberi label bakpia Denik rasanya manis campur gurih dengan komposisi yang pas. Teksturnya lembut, muprul tapi tak mudah hancur. Satu buah bakpia pas untuk sekali lahap. Selain enak di rasa, produk bakpia Anik ini juga telah memiliki nomor P-IRT, NIB, dan sertifikat halal, sehingga aman dan legal untuk diedarkan.
Anik bercerita, nama Bakpia Denik ini asalnya adalah Bakpia Nonik. Pelanggannya pun banyak yang akrab dengan nama Bakpia Nonik. Singkat cerita, karena saat didaftarkan NIB nama Bakpia Nonik sudah ada yang memakai, maka dengan legawa Anik harus ganti nama menjadi Bakpia Denik.
"Nonik ini singkatan dari nama suami saya, Nono, sama nama saya, Anik. Tapi tidak apa-apa ganti nama. Yang penting kualitasnya sama," katanya, Jumat (21/11/2025).
Kepada Beritabojonegoro.com, Anik mengaku mulai belajar membuat bakpia setelah mengikuti pelatihan kewirausahaan yang difasilitasi oleh koperasi swasta tempat dia bekerja. Dalam pelatihan itu, ia bahkan belajar langsung dari perajin bakpia di Yogyakarta.
“Selain kader PKK saya bekerja di Koperasi. Menjelang pensiun, karyawan diberi pelatihan agar bisa mandiri setelah keluar dari perusahaan nantinya. Begitu sudah dapat ilmunya, tinggal pengalamannya. Ya harus berani dan mau,” ujar Anik.

Bakpia buatan Anik Suparwati kemasan kecil. Anik berhasil memproduksi dan memasarkan produk bakpia seteleh pelatihan dari tempat dia bekerja. Aset: Istimewa
Meski awalnya rasa dan tampilan bakpia produksinya belum sempurna, Anik terus memperbaiki kualitas dengan mendengar kritik dan saran dari pembeli. Yang membedakan bakpia buatan Anik dengan bakpia asal Yogyakarta biasanya adalah produknya tidak menggunakan pengawet. Daya tahannya sampai tiga atau empat hari. "Malah sehat tanpa pengawet. terasa lebih fresh, tidak kering," kata Anik.
Selain fokus pada kualitas, ia juga aktif memasarkan produknya dengan menitipkan ke rumah makan, toko kue dan oleh-oleh, serta rutin mengikuti bazar, baik di tingkat desa hingga provinsi. Bakpia Denik sering dipesan untuk acara-acara resmi pemerintah desa tempat dia tinggal selain dipasarkan di toko-toko kue. Produknya juga tak jarang absen dari berbagai bazar baik tingkat kecamatan maupun kabupaten. Pada pertengahan tahun ini, bakpia Denik ikut meramaikan bazar UMKM dalam rangkaian Harkopnas ke-78 di Stadion Letjen Soedirman, Jawa Timur. “Bakpia saya tersedia di bazar itu selama seminggu bersama produk oleh-oleh khas lainnya,” kata Anik.
Rahma (24), salah satu pembeli, mengaku bakpia produksi Anik tak kalah enak dibanding buatan Yogyakarta. Bedanya mungkin di daya tahan. Jadi harus segera dikonsumsi karena tidak kuat sampai lebih dari tiga atau empat hari. “Ada yang dekat kenapa harus jauh-jauh. Pernah pas lagi dari Yogya kelupaan tidak bawa oleh-oleh, akhirnya beli bakpia Bu Anik,” ujarnya. (red/toh)































.md.jpg)






