MWCNU Kapas Gelar Lailatul Ijtima di Desa Tapelan, Kiai Komari Ajarkan Doa Manjur Jadi Orang Baik
Minggu, 05 Juli 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, kembali menggelar pertemuan rutin Lailatul Ijtima di Desa Tapelan, Sabtu (04/07/2026). Kegiatan rutin di tingkat kecamatan ini dilaksanakan secara bergilir dari tingkat ranting (desa) ke ranting, dan kali ini ditempatkan di Musala Nurul Huda Desa Tapelan.
Ketua Syuriah Ranting NU Tapelan, Kiai Salamun, menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran ratusan warga NU se-Kecamatan Kapas. Dalam kesempatan tersebut, Kiai Salamun menceritakan bagaimana praktik beragama di Desa Tapelan dijaga dengan baik dari generasi ke generasi.
Sebagai pengurus NU yang selalu aktif, Kiai Salamun menyaksikan perkembangan warga NU dan juga masyarakat sekitar di Desa Tapelan dari masa ke masa. Salah satu saksi sejarahnya adalah Musholla Nurul Huda yang dikelolanya, yang menjadi saksi nyata kesalehan warga Tapelan. Dia menceritakan bahwa sebelum menjadi musala yang representatif seperti sekarang, bangunan tersebut dulunya merupakan sebuah lumbung. Menurut Kiai Salamun, sejak zaman Calak Sukaryo kemudian dilanjutkan oleh Mbah Yai Lantip, tempat itu awalnya adalah lumbung. Seiring berjalannya waktu, tempat tersebut mulai disebut langgar, hingga akhirnya berkembang menjadi musala seperti sekarang.
“Pada tahun 1966, langgar itu sempat digunakan untuk pelaksanaan salat Jumat karena jarak masjid besar yang cukup jauh, yakni berada di Desa Tanjungharjo. Alhamdulillah setiap kegiatan, baik salat jamaah maupun pengajian, jamaahnya selalu maju. Nggak pernah mundur,” kata Kiai Salamun berkelakar disambut tawa jemaah.
Sementara itu, Pengurus MWC NU Kapas, Kiai Komari, dalam kesempatan yang sama menjabarkan tentang kajian ke-NU-an. Terlebih dahulu dia menjelaskan arti Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi pedoman warga NU. Frasa itu terdiri dari dari tiga kata utama. Ahl, Sunnah dan Jamaah.
Dalam menjelaskan arti ahl, Kiai Komari menjabarkan sajak Li Khomsatun. Menurut beliau ahl atinya adalah ahlu bait, keluarga Nabi. Serta menjelaskan arti sunnah yaitu segala apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, Kiai Komari mengulas makna jamaah. Dia menjelaskan bahwa warga saat ini bukanlah jamaah nabi secara langsung, karena jamaah Nabi adalah para sahabat dan para tabiin yang masanya sangat jauh.
“Warga saat ini adalah jamaah kiai atau ulama, yang saat ini meneruskan dan mengamalkan ajaran Nabi,” kata Kiai Komari.
Kiai Komari juga memberikan wejangan terkait kebaikan yang perlu dilakukan di bulan Muharam atau bulan Sura, salah satunya adalah anjuran untuk tidak pelit. Dia mengingatkan agar warga tidak pelit karena orang pelit tidak bakal masuk surga. Di bulan Sura ini, warga diajak untuk rajin bersedekah, termasuk mendatangi anak yatim secara langsung untuk memberi santunan tanpa harus dipamerkan ke publik. Selain banyak sedekah, di akhir zaman, kebaikan utama lain adalah tidak meninggalkan salat jamaah. Kiai Komari mengingatkan bahwa banyak orang yang mulai meninggalkan salat jamaah.
Selanjutnya, Kiai Komari menjabarkan ada tiga hal yang membuat hidup orang tentram. Tiga hal tersebut yaitu, pertama, orang meramaikan masjid dan musala. Karena di akhir zaman musala hanya tinggal bangunannya saja. Termasuk meramaikan pengajian, istigasah, dan Lailatul Ijtima seperti ini. Kedua adalah bangun malam untuk beristigfar. Ketiga, menjaga kerukunan.
“Sebab di akhir zaman terkadang sesama kiai pun ada yang tidak rukun karena perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat itu biasa tapi jangan sampai tidak rukun karena beda pendapat, apalagi karena perbedaan pendapatan,” ujar Kiai Komari.
Kiai Komari mengajak seluruh jemaah untuk bersama-sama membangun hikmah di Nahdlatul Ulama, karena jika semua warga rukun, maka akan mendatangkan berkah.
Sebagai penutup, Kiai Komari beliau juga memberikan ijazah doa kepada para jemaah. Doa berbahasa Jawa. Doa yang pertama, insyaallah manjur. Doanya adalah Bismillah, apa-apa sing tak lakoni bakal nurun anak putu (Bismillah, apapun yang saya perbuat akan menurun ke anak cucu).
“Insyaallah ini akan membuat kita jadi orang baik. Kalau mau berbuat jahat baca doa ini, pasti tidak jadi berbuat,” kata Kiai Komari disambut tawa jemaah.
Lailatul Ijtima ini ditutup dengan doa yang dipimpin Rais Syuriah MWC NU Kapas, Kiai Maskun. Sekigtar pukul 22.00 WIB, jemaah membubarkan diri. (red/toh)
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir
























.sm.jpg)













