Kisah Singkat Sosok Mbah Singonoyo, Tokoh Penyebar Islam di Desa Sukorejo
Sabtu, 25 Juli 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Di balik kentalnya kesan mistis pada Kompleks Kuburan Kembar Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, tersimpan rekam jejak sejarah dan spiritualitas seorang tokoh leluhur pemangku wilayah setempat. Di pemakaman yang diperkirakan berdiri sejak era kolonial Belanda tersebut, bersemayam Mbah Singonoyo, atau yang memiliki nama asli Raden Subkhan alias Raden Mas Ngadi Joyo Hadikusumo.
Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Desa Sukorejo, Masrukan, mengungkapkan bahwa julukan Singonoyo melekat pada almarhum lantaran ketangguhan dan kepiawaian ilmu olah kanuragannya yang kerap dipakai membela warga dari tindak kejahatan. Arti julukan tersebut merujuk pada ketangguhan sosok macan yang kuat. Selain sakti, Mbah Singonoyo dikenal sebagai tokoh penyebar syiar Islam di wilayah setempat.
Garis keturunan Mbah Singonoyo pun terhubung dengan jajaran ulama besar Nusantara. Ayahnya bernama Syahidu bin Raden Santri bin Raden Paku, yang tersambung hingga Sunan Gunung Jati.
"Menurut kepercayaan warga setempat, Mbah Singonoyo ini merupakan wali menyebarkan ajaran agama Islam di Desa Sukorejo," kata pria kelahiran 1971 itu.
Rekam jejak spiritual tersebut membuat peziarah yang datang ke makam Mbah Singonoyo tidak hanya berasal dari wilayah Bojonegoro. Peziarah dari berbagai daerah seperti Tuban, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat kerap berdatangan untuk memanjatkan doa.
Meski begitu, Masrukan menegaskan bahwa area pemakaman ini bukanlah tempat untuk perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama.
"Jadi ketika ada orang yang punya niat jelek atau musyrik ke makam Mbah Singonoyo pasti tidak akan direstui. Kadang ditampakkan setan agar orang itu pergi dari makam," bebernya.
Masyarakat Desa Sukorejo sendiri rutin memperingati tradisi keagamaan di sekitar pemakaman tersebut. Peringatan Haul Mbah Singonoyo dihelat saban tanggal 10 bulan Sapar dengan memusatkan kegiatan pengajian di pertigaan Kuburan Kembar.
"Haulnya tanggal 10 bulan Sapar. Mulai 1995 acaranya pengajian, kalau dulunya manganan atau sedekah bumi yang syarat dengan kegiatan mabuk-mabukan," jelasnya.
Masrukan tidak menampik bahwa kisah-kisah mistis di Kuburan Kembar masih sering terdengar, seperti penampakan sosok pocong yang diceritakan secara turun-temurun. Namun di samping cerita horor, ada pula kisah unik dari masa kecilnya mengenai empat orang pelaku kejahatan yang kabur dari kejaran warga serta aparat kepolisian lalu bersembunyi di area pemakaman tersebut.
"Saat sembunyi, empat penjahat itu tidak ditemukan warga. Akhirnya karena merasa berutang budi dengan leluhur kuburan kembar yakni Mbah Singonoyo, keempat penjahat diceritakan insaf atau taubat," pungkasnya.





































