Gramedia Bojonegoro dan Perpus Jenggala Hadirkan Penulis Mahfud Ikhwan, Bagikan Pengalaman Berkarya
Minggu, 23 Agustus 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Toko Buku Gramedia Bojonegoro bersama Perpustakaan Jenggala menggelar acara Menyelami Pikiran Mahfud Ikhwan, Sabtu (22/08/2026) sore di Kedai Mantri di Desa Wedi. Makhfud Ikhwan sendiri adalah penulis asal Kabupaten Lamongan.
Perwakilan Gramedia Bojonegoro, Dini, mengatakan kegiatan ini merupakan ini bagian dari tur penulis ke berbegai daerah. Di acara ini narasumber akan menceritakan pengalaman penulis dalam menciptakan karyanya. Mahfud Ikhwan sendiri merupakan penulis yang memiliki beberapa buku terkenal.
“Mahfud Ikhwan memiliki banyak buku. Di antaranya Kambing dan Hujan, Ulid, Dawuk, dan lain sebagainya. Mari kita ikuti bersama kegiatan ini,” kata Dini.
Dalam paparannya, Mahfud Ikhwan mengaku punya ikatan emosional khusus dengan Bojonegoro. Dia mengaku mempunyai kawan dari Bojonegoro yang sudah mulai dekat semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada. Namanya Anas AG. Mahfud sering terlibat dalam kerja bersama Anas dan menjalin pertemanan layaknya saudara. Anas ini merupakan kritikus pertamanya ketika Mahfud selesai menulis.
“Anas itu kalau mengkritik pedas sekali. Dan sulit sekali untuk dipuaskan,” katanya.
Anas AG sendiri merupakan jurnalis di Bojonegoro dan sempat menjadi ketua Aliansi Jurnalis Independen Bojonegoro. Anas meninggal dunia pada tahun 2017 lalu. Semenjak itu Mahfud jarang ke Bojonegoro. “Meninggalnya Anas merupakan kehilangan terberat buat saya,” kata Mahfud.
Dalam acara yang diikuti sekitar 30 peserta ini Mahfud menceritakan perjalanan panjangnya dalam menjadi seorang penulis yang bisa dikenal karyanya seperti saat ini. Mahfud mulai menulis saat usia 19 tahun. Saat menjadi mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di UGM, Mahfud juga terlibat aktif di pers kampus. Mahfud juga pernah menulis banyak hal sebelum menulis novel. Misalnya dia pernah menulis buku pelajaran untuk anak sekolah. Novel pertama Mahfud berjudul Ulik Tak Ingin ke Malaysia yang terbit pada tahun 2009. Novel itu tidak laku dan berakhir diobral dengan harga Rp10 ribu di pameran-pameran buku murah. Tapi yang menyedihkan dan menjadi pukulan berat buatnya bukan hanya novel itu tak laku, tapi karena karyanya tidak dibaca.
“Lebih sakit karya tidak dibaca dari pada mendapat kritik pedas,” kata Mahfud.
Setelah Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Mahfud menulis Kambung dan Hujan pada tahun 2014 yang menang novel terbaik Sayembara Dewan Kesenian Jakarta tahun itu juga. Novel itu terjangkau lapisan usia pembaca karena ada romance, isu sosial hingga problem agama.
“Sebelum itu tersbilang sukses, sempat ditolak penerbit juga. Awalnya judulnya Mif dan Fauzia, kemudian saat kuikutkan sayemnara DKJ kuganti Kambing dan Hujan,” kata Mahfud.
Saat ini Mahfud telah menulis banyak buku dari yang fiksi hingga yang non fiksi. Yang non fiksi berupa esa-esai menyangkut tema sepak bola, film india dan musik dangdut. Di antara karyanya adalah Bek, Dawuk, Anwar Tohari Mencari Mati, Dushman Duniyaka Aku dan Film India Melawan Dunia, Dari Kekalahan ke Kematian, Setelah Argentina Juara: Delapan Catatan Sepakbola, Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop Lainnya, Terkenang Nona Risa: Riwayat Bacaaan Buruk. Novelnya Ulid Tak Ingin ke Malaysia yang tidak laku di awal karirnya sebagai penulis juga dicetak uang dengan sentuhan desain dan penyuntingan lebih baru dengan judul Ulid. (mul/toh)













































