News Ticker
  • HXKED BY JAXTOD X UMBRAE1337
  • HXKED BY JAXTOD X UMBRAE1337
  • Perebutan Emas Cabor Futsal dan Bola Tangan Rampung, MMA Jadi Penutup Porkab II Bojonegoro 2026 Hari Ini
  • Kunjungan Kerja di Bojonegoro, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Tinjau Rencana Pengembangan Batalyon TP 885 dan Brigif 33 di Dander
  • 11 Juli dalam Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 11 Juli 2026
  • Kandang Ayam Senilai Rp2 M di Malo, Bojonegoro Ludes Terbakar
  • Panen Melon Bersama, Bupati Bojonegoro Ajak Generasi Muda Bangun Pertanian Modern
  • Pemkab Bojonegoro Alokasikan Rp11,03 Miliar untuk Lima Program Beasiswa Mahasiswa
  • Seorang Lansia Bojonegoro Tewas Tertabrak Kereta Api Jayabaya di Perlintasan Baureno
  • Perkiraan Harga Emas Hari Ini, 10 Jul 2026
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 10 Juli 2026
  • 10 Juli dalam Sejarah
  • Kecamatan Kota Dominasi Emas Kickboxing, Klasemen Sementara Porkab II Bojonegoro Masih Memimpin
  • Dalam Sehari Terjadi Enam Kebakaran Lahan di Bojonegoro, Ini Daftarnya
  • Pemkab Bojonegoro Berikan Pembinaan Ribuan Mahasiswa Penerima Beasiswa Daerah
  • "El Último Tango", Sepatu Spesial Adidas untuk Perjalanan Terakhir Messi di Piala Dunia
  • Kejari Bojonegoro Terima Tahap II Kasus Dugaan Peredaran Rokok Ilegal
  • Paripurna DPRD, Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025 Disetujui
  • Hadapi Musim Kemarau, Pemkab Bojonegoro Distribusikan Air Bersih ke Sejumlah Desa
  • Pemkab Bojonegoro Dorong Setiap OPD Lahirkan Inovasi Lewat BIA 2026
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 9 Juli 2026
  • Rumah Kosong di Kapas, Bojonegoro Terbakar, Kerugian Capai 150 Juta Rupiah
  • Merayakan Detik Ini: Menemukan Kedamaian dalam Jejak Hidup yang Singkat
Merawat Demokrasi Dengan  Karya

Catatan Ringan dari Forum Buntwani Johannesburg

Merawat Demokrasi Dengan Karya

Oleh Kang Yoto

UNDANGAN dari Arfika Selatan memancing rasa penasaran tersendiri. Pertama, demokrasi Afrika Selatan hanya kurang lebih lima tahun lebih awal dari Indonesia dan kini tampak sudah matang. Tentu menarik belajar pengalaman Afrika Selatan.  Kedua, acara yang saya hadiri sendiri sungguh menarik, Buntwani  “The Next Step in Innovation for Good Governance: Moving the dialogue forward from potential to impact” 25-26 August 2015 di Misty Hills Country Hotel, Johannesburg, South Africa. Kegiatan ini dilaksanakan kerja bareng: TechSoup Global, Open Institute and Making all Voices Count. Kegiatan berlangsung sangat dinamis dan difasilitatori oleh Allen Gunn. Bagi saya mendapatkan pengetahuan dan jaringan untuk peningkatan kapasitas pemerintahan saya yakin sangat bermanfaat bagi Bojonegoro. 

Saya sengaja datang dua hari sebelum dimulai, untuk mendapatkan kesempatan istirahat dan ada waktu sehari untuk melihat perkembangan Johannesburg. Saya memilih mengunjungi Museum Apartheid. Dengan cara ini dapat lebih cepat memahami sejarah Arfika Selatan. Terutama, apa latar belakang politik Apartheid dan proses demokratisasi yang melahirkan tokoh menonjol Nelson Mandela. 

Di depan Museum Apartheid, pintu masuk untuk orang kulit putih dibedakan dangan non kulit putih (Robin Backer, Kang Yoto dan  Anna Seicicka (Techsoup Polandia)

Sejak memerdekakan diri dari Inggris, orang orang kulit putih yang umumnya keturunan Inggris dan Belanda, berjumlah kurang lebih 11 persen. Mereka membentuk pemerintahan dan menyelenggarakan pemilu yang hanya diikuti laki-laki kulit putih. Hampir dalam segala hal terdapat pembedaan dengan tegas dan pengistemewaan orang kulit putih. Sistem inilah yang disebut dengan apartheid. Sistem ini berakar pada sejarah yang dimulai abad ke 16 atau abad ke 17 (1662).   Nenek moyang orang kulit putih dari Inggris dan Belanda datang untuk membuka pertambangan berlian, emas dan chrome.  Mereka datang membawa pekerja dari Asia. Penduduk asli terpinggirkan karena tidak memiliki kemampuan dan peralatan. Pemerintah kolonial Inggris tentu saja memberikan dukungan militer. Dominasi ekonomi dan politik kulit putih memang membawa ekonomi Afrika  Selatan menjadi paling maju di antara negara-negara Afrika lainnya, meskipun kesenjangan antara kaya dan miskin masih sangat tinggi. Penduduk non kulit putih yang mayoritas berkulit hitam lebih banyak hidup dalam kemiskinan, tidak memiliki hunian yang layak, tingkat pendidikan rendah dan mendapatkan fasilitas kesehatan yang kurang memadai. Semua bentuk perlawanan terhadap rezim apartheid akan menyebabkan penjara bagi pelakunya. Termasuk Nelson Mandela yang sempat menghuni penjara selama 27 tahun dan baru dibebaskan oleh Presiden F.W. De Klerk tahun 1990.  Proses negoisasi demokrasi memakan waktu hampir 3 tahun, hingga menghasilkan pemilu demokratis pertama tahun 1994. Pemilu itu diikuti oleh seluruh penduduk usia 18 tahun ke atas laki maupun perempuan. Apapun warna kulitnya. Berdasar undang-undang baru yang dirancang untuk menghormati HAM. Pemilu ini dimenangkan partainya Mandela dan mengantarkannya menjadi Presiden. Namun perjuangan Mandela setelah berkuasa tidak kalah beratnya dibanding dengan perjuangannya saat mendekam di penjara. 

Tantangan terberat Mandela adalah tuntutan balas dendam dan kehendak dominasi  oleh kulit hitam. Namun Mandela menjawab dengan tegas, "Tujuan membangun demokrasi bukanlah mengubah dominasi dari kulit putih ke kulit hitam. Demokrasi itu untuk hidup berdampingan dengan saling respek dan menghargai." Mandela membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Salah satu kalimatnya yang terkenal: "Masa lalu dapat dimaafkan walau tidak untuk dilupakan." Selama memerintah, Mandela membangun 700.000 rumah layak untuk orang miskin. Memberi fasilitas kesehatan gratis kepada anak-anak dan melaksanakan wajib belajar 12 tahun. Tentu, yang paling menonjol adalah keberhasilan Mandela dalam menyembuhkan luka masa lalu dan menyatukan rakyat Afrika Selatan apapun kulit dan keyakinannya. Saat ini, pergi kemanapun di kota besar akan bertemu orang berlalu lalang, berbeda warna kulit dan keyakinan dalam damai. 

Sepanjang perjalanan kembali ke Indonesia, penulis tiba-tiba berpikir bahwa demokrasi Indonesia tidak kalah hebat. Mandela membangun demokrasi dengan musuh yang secara simbolik sangat jelas: apartheid / kulit putih.  Kita membangun demokrasi melawan watak dan sikap otoriter, radikal, ingin benar dan menang sendiri yang justru dari sesama saudara. Saudara yang kulit dan agamanya sama.  Siapa  yang dilawan sebenarnya tidak jelas. Tugas transformasi membangun terwujudnya Bhineka Tunggal Ika, penghargaan terhadap kemanusian dan keadilan, moralitas atas dasar ketuhanan dan permusyawaratan yang dipimpin dengan hikmat kebijaksanaan memerlukan usaha keras dan panjang. 

Namun baik Afrika Selatan maupun Indonesia (baca: Bojonegoro) saat ini sama-sama menghadapi tantangan bagaimana merawat demokrasi dan menjadikannya efektif untuk mewujudkan kesejahteraan bersama, keadilan dan kemajuan berkelanjutan. Demokrasi di mana Pemerintah hadir di semua masalah rakyat, pemimpin nyambung dengan yang dipimpin dan penggunaan kekuasaan dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk lnilah, pertemuan Buntwani terasa sangat relevan. Pertemuan dihadiri 60-an orang dari berbagai dunia terutama Afrika, Eropa, Asia dan USA, dengan latar belakang: pemerintah, CSO (baca: LSM) dan lembaga donor. Semangatnya sama; bagaimana mematangkan demokrasi. Pertemuan ini percaya bahwa keterbukaan data dan inovasi penggunakan teknologi informasi akan memperkuat efektifitas akuntabilitas publik, lahirnya berbagai terobosan yang mampu meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. 

Workshop yang saya ikuti kali ini berbeda dari biasanya. Tidak ada pembicara. Tidak ada paper dan tidak ada presentasi. Masing-masing dapat menawarkan pengalaman dan usulan, lalu berdiskusi kecil sesuai minatnya. Peserta yang datang adalah orang-orang terpilih yang sangat kompeten di bidangnya dan telah memiliki karya. 

Usai acara: David (Vice Presiden Techsoup Afsel), Kang Yoto, Alen (fasilitator) Imran dan Ali (Pakistan).

Saya sendiri tertarik dengan pengalaman Bank Dunia dalam membanguan management banjir berbasis masyarakat dan peta drone, disamping open data berbasis masyarakat di Kenya. Apa yang dilakukan mirip dengan di Bojonegoro. Bedanya penggunagaan IT sudah lebih dahulu. Kepada Edward Charles Anderson, senior ICT Policy Specialist (kantor Tanzania), saya menyatakan tertarik dan dia menyanggupi memberikannya secara cuma-cuma. Ptatform Ushahidi, perusahaan non profit di Nairobi juga sangat menarik. Selain membuka open source secara gratis, Daudi Were,  salah seorang pendirinya membuat terobosan yang luar biasa; berbisnis tanpa harus memulainya dengan uang. Dia buktikan lewat Ushahidi. 

Secara berantai, saya bercerita soal pembangunan demokrasi di Bojonegoro. Juga bagaimana penggunaan teknologi informatika. Awalnya saya hanya bercerita kepada seorang peserta dari Belanda soal: saya memberikan nomor hand phone kepada rakyat Bojonegoro, dialog publik hari jumat dan LAPOR sebagai upaya membangun hubungan horizontal dengan publik. Publikasi data-data pemerintah di web dan open data Indonesia. Penggunaan WA untuk group Kepala Satker dan group diskusi untuk pengembangan beberapa agenda.

Demokrasi di Bojonegoro dibangun bersama-sama. Tidak hanya oleh pemimpinnya, tapi juga rakyat dan seluruh stake holder. Kawan Belanda ini menceritakan kepada yang lain, lalu berturut mendatangi saya Dr George Mukundi, Lucia dari Making All Voice Account, Jeb dari USA, Ketie Benner, kawan Jeb dari New York Times. Daudi dari Ushahidi bahkan meminta saya menyampaikannya kembali dalam ngobrol kecil. Saya malu ketika di sesi penutupan peserta dari Muzambique  merasa sangat terinspirasi soal Bojonegoro dan akan membawa kisahnya ke negerinya. Dr George Mukundi, African United Council berbicara agak panjang di sesi penutupan hanya untuk mengatakan terimakasihnya atas pencerahan demokrasi model Bojonegoro. Di perjalanan pulang, ia kirim pesan lewat WA kepada saya: "Many thanks Mayor, You were my greatest inspiration this entire meeting and hope keep in touch and invite you to our experiences sharing and hope some day will see you...."

Sambil menunggu jemputan, di lobby Misty Hotel (bukalah di internet soal hotel ini. Sebuah hotel di bukit yang sangat menyatu dengan alam) terdengar lirih gema  Michael  Jackson: We Are Not Alone... Dunia benar-benar flat, horizontal dan tidak berjarak. Bojonegoro bagian dari dunia! lilin kecil yang kita nyalakan untuk merawat dan menggunakan demokrasi untuk membuat hidup bersama lebih baik terlihat oleh dunia.

Nyanyian kecil ... wujudkan masa depan nan jaya. .. saling mencinta senafas dan sejiwa... terdengar juga dari sudut kecil Afrika Selatan. Mari kita rawat lilin itu dan biarkan nyanyian kecil itu terus terdengar....

Kang Yoto

Antara Johannesburg - Doha Qatar, 27 Agustus 2015

Berita Terkait
  • Proses

  • Apa yang Terlihat

  • Cerita Kehidupan

  • Sering Kali

  • Apa yang Dicari

  • Kemauan

  • Kadang

  • Dahsyatnya Cinta

  • Istirahat

  • Perlu Contoh

  • Peduli

  • Kehormatan

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Berita Video

Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 Resmi Ditutup

Berita Video

Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 Resmi Ditutup

Setelah berlangsung selama empt hari mulai Rabu (17/06/2026), ajang Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2026 resmi ditutup oleh Ketua Dekranasda ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Merayakan Detik Ini: Menemukan Kedamaian dalam Jejak Hidup yang Singkat

Merayakan Detik Ini: Menemukan Kedamaian dalam Jejak Hidup yang Singkat

Pernahkah Anda terbangun di suatu pagi, menatap cermin, dan menyadari bahwa garis-garis halus di wajah bukan sekadar tanda penuaan, melainkan ...

Sosok

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bojonegoro - Berbeda dari anak-anak seusianya, seorang bocah dari Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini justru memiliki minat besar ...

Infotorial

Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa

Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa

Bojonegoro - Berakhirnya fase pengembangan Proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) pada 2021 menjadi titik balik bagi ratusan pemuda Desa Bandungrejo, ...

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Blora - Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan warga sekitar terus melakukan pencarian terhadap serpihan pesawat tempur T-50i Golden ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

1783789024.4612 at start, 1783789025.4487 at end, 0.98748087882996 sec elapsed