Jembatan Akses Desa Wotan dan Sambongrejo di Bojonegoro Ambrol Tergerus Aliran Sungai
Rabu, 15 April 2026 16:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Infrastruktur penghubung antar desa di wilayah Kecamatan Sumberrejo, Bojonegoro, kini dalam kondisi memprihatinkan. Jembatan yang menghubungkan Desa Wotan dan Desa Sambongrejo dilaporkan putus total setelah konstruksinya tergerus oleh derasnya arus sungai, sehingga melumpuhkan aktivitas transportasi warga setempat.
Insiden tersebut terjadi sejak dini hari pada akhir Maret lalu dan hingga memasuki pertengahan April ini belum mendapatkan perbaikan secara permanen. Akibatnya, masyarakat di kedua desa harus mencari jalan memutar karena sarana penyeberangan utama mereka tidak lagi bisa dilalui.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Heru Wicaksi, mengungkapkan bahwa kerusakan ini disebabkan oleh kondisi aliran Kali Gandong yang tidak stabil. Menurutnya, curah hujan tinggi di wilayah hulu memicu kenaikan debit air secara mendadak yang merusak bagian bawah konstruksi.
“Naik turunnya debit air sungai menyebabkan bagian sayap jembatan tergerus, hingga akhirnya konstruksi tidak mampu menahan beban dan mengalami putus,” ujar Heru, Senin (14/04/2026) lalu.
Berdasarkan tinjauan di lapangan, jembatan yang ambrol tersebut memiliki spesifikasi panjang mencapai 13,5 meter dengan lebar 1,5 meter dan ketinggian 4 meter dari dasar sungai. Kerusakan yang sangat masif pada struktur bangunan memaksa petugas menutup akses secara total demi menghindari jatuhnya korban jiwa.
“Untuk sementara waktu, jembatan tidak dapat dilalui baik oleh pejalan kaki maupun kendaraan roda dua,” tambah Heru.
Hingga saat ini, BPBD Bojonegoro terus melakukan pemantauan di lokasi kejadian sembari berkoordinasi dengan pihak dinas terkait untuk merumuskan langkah penanganan konstruksi lebih lanjut. Warga yang bermukim di sekitar bantaran sungai juga diminta untuk tetap waspada terhadap potensi pergeseran tanah susulan, terutama saat cuaca buruk melanda.
“Keselamatan warga menjadi prioritas. Kami terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk langkah penanganan selanjutnya,” tutup Heru.
Untuk sementara, mobilitas warga dialihkan ke jalur alternatif meskipun jarak yang ditempuh menjadi lebih jauh dibandingkan akses jembatan yang kini tinggal puing tersebut.(red/toh)






































