News Ticker
  • Kasus Pungli Tidak Harus Dilanjutkan Pidana Jika Kerugiannya Kecil
  • Tim Teknis dan Komersial Pertamina Masih Lakukan Kajian untuk Negosiasi Dengan EMCL
  • Banyak Hambatan, PEPC Masih Berharap Proyek EPC-GPF JTB Bisa Mulai Tahun Ini
  • Puskesmas Tetap Buka Selama Cuti Lebaran
  • Bupati Salat Id di Sugihwaras, Wabup di Masjid Darussalam
  • Sambutan Bupati Bojonegoro Idul Fitri 1438 H / 2017
  • HMI-KAHMI Bojonegoro Bagikan 3200 Takjil dalam Sebulan untuk Penunggu Pasien Rumah Sakit
  • Hati - Hati Pengguna Kartu Indosat, Nomor Anda Bisa Jadi Dobel Kalau Hal Ini Terjadi
  • Seorang Balita Ditemukan Tewas Tenggelam di Sungai Sukosewu
  • Dinkes Bojonegoro Sediakan Ratusan Petugas Kesehatan Layani Pemudik
  • Ratusan Warga Antri Pembagian Zakat di Masjid At-Taqwa, Jalanan Padat Merayap
  • H-1 Lebaran Ratusan Masyarakat Serbu Pusat Perbelanjaan
  • Anggota Sat Reskrim Polres Bojonegoro Tangkap 2 Orang Penombok Judi Dadu
  • Sat Reskrim Polres Bojonegoro Tangkap Satu Dari Dua DPO Kasus Curat di Gayam
  • Pemudik Diharap Hati-Hati di Pasar Tumpah
  • Hendak Pulang Kampung, Motor Warga Kalitidu Terbakar di Perempatan Sumberrejo
  • Kemenhub akan Kunjungi Blora untuk Reaktifasi Bandara Ngloram
  • Festival Obor pada Malam Colok Songo di Mojodeso
  • Kapolres Blora Imbau Pemudik Waspada Kriminalitas di Tempat Umum
  • Mudik Lebaran, Perempuan Ini Kayuh Sepeda Pancal dari Bandung ke Blora

Kemiskinan dan Migas Bojonegoro, Apa Hubungannya?

Kemiskinan dan Migas Bojonegoro, Apa Hubungannya?

*Oleh Kang Yoto

KEMISKINAN dan migas di Bojonegoro, dua-duanya benar. Kemiskinan sudah lama ada dan migas baru mulai puncak produksi, pendapatan migas belum sepenuhnya diterima Bojonegoro. Jadi bagaimana dengan pertanyaan mengapa daerah penghasil migas rakyatnya masih banyak yang miskin? Lalu ditambahi,"Kita harus malu, prihatin dengan keadaan ini."

Jika pertanyaan ini dimaksudkan untuk menyalahkan keadaan, tepatnya program pembangunan Bojonegoro, maka perlu diperjelas duduk masalahnya. Namun, Bila pertanyaan itu dimaksudkan untuk refleksi, belajar hidup bersama, menemukan cara menciptakan kesejahtaraan lebih baik, maka semangat seperti ini sangat penting.

Untuk keperluan penjelasan hubungan antara kemiskinan dan industri migas dengan semangat refleksi perlu dipahami hal-hal berikut:

  1. Kemiskinan di Bojonegoro sudah ada jauh sebelum migas ditemukan, dieksplorasi dan dieksploitasi. Kemiskinan dan rendahnya kualitas SDM, itu dua hal yang saling terkait dan sama sama ada di Bojonegoro. Jauh sebelum era migas, Dr CLM Penders menyebut sejak era penjajahan Belanda, Bojonegoro telah menjadi salah satu dari dua daerah termiskin di Jawa. Jika menggunakan rumus BPS, setiap orang yang mengaku petani dengan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektare, termasuk miskin, maka hampir semua petani Bojonegoro berarti hidup dalam kemiskinan, karena mayoritas kepemilikan lahannya kurang dari 0,5 hektare. Belum lagi bila dikaitkan dengan pendapatan yang diciptakan dari lahan tersebut, akibat lahan kering, banjir dan kesalahan produksi;
  2. Usaha untuk mengurangi kemiskinan sudah dilakukan sejak zaman Belanda, yang intinya bagaimana membuat orang Bojonegoro punya pendapatan, lebih sehat dan terampil. Pembangunan waduk pacal zaman Belanda, intensifikasi pertanian sejak era Orde Baru, penataan irigasi, pembangunan embung, jalan pedesaan, industri masuk desa, penggiatan wisata, pengenalan komoditas baru bidang pertanian seperti bawang, jambu, melon dan holtikultura, serta pengembangan Sentra Peternakan Rakyat (SPR) bidang peternakan yang sedang dikerjakan belakangan ini adalah diantara usaha nyata yang arahnya untuk peningkatan pendapatan. Beasiswa dua juta, kesehatan gratis bagi yang tidak mampu, pelatihan tenaga kerja dan insentif investasi di pedesaan, semua ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan dan daya saing Bojonegoro dalam bidang ekonomi. Namun, semua upaya ini belum mampu menuntaskan pengurangan kemiskinan. Masih harus diperluas skala dan jangkauan kewilayahanya.
  3. Lalu bagaimanakah dengan sumbangan Migas? Sumbangan migas yang diharapkan dari sisi tenaga kerja, hanya terjadi pada masa kontruksi yang waktunya sekitar tiga tahun dengan jumlah 5 ribuan tenaga kerja. Selanjutnya, diharapkan dari pengolahan seperti adanya mini refinery. Dari kontruksi, eksploitasi dan industri dalam jumlah terbatas dapat melahirkan kesempatan perdagangan, jasa dan wisata. Namun jumlah tenaga kerja yang tersedia tentu saja masih sedikit dibandingkan dengan angkatan kerja Bojonegoro.
  4. Berkah hadirnya migas diharapkan menghasilkan pendapatan. Sejauh ini telah diperoleh pendapatan Rp 37 Miliar (2009), Rp 169 Miliar (2010), Rp 219 Miliar (2011), Rp 456 Miliar (2012), Rp 421 Miliar (2013), Rp 627 Miliar (2014), Rp 660 Miliar (2015) dan Rp 642 Miliar (2016). Jumlah inilah yang penggunaannya difokuskan pada pengembangan SDM, infrastruktur yang relevan pada pertumbuhan ekonomi dan pembentukan modal publik, termasuk rencana dana abadi untuk beasiswa abadi. Buat Bojonegoro jumlah ini sudah lumayan, namun belum seberapa dibanding dengan tantangan yang harus diselesaikan.Mengapa pendapatan migasnya baru sedikit? Ini karena saat ICP (red, Indonesia Crude Price) 2011-2012-2013 lifting baru mencapai 22 juta barrel atau setara 61 ribu barrel per hari. Namun saat lifting naik 2015 sebanyak 31 juta barrel atau setara 86 ribu barrel per hari bahkan 2016 sudah mencapai 68 juta barrel atau setara 188 ribu barrel per hari, harga minyak turun bahkan dibawah 30 USD per barrel. Pendapatan migas ini kadang melahirkan harapan yang tinggi namun dalam kenyataannya kadang jauh dari yang diharapkan. Baru-baru ini Pemerintah pusat menyatakan ada kelebihan salur masing-masing tahun 2014 ada lebih salur Rp 167 Miliar, dan 2015 lebih salur Rp 550 Miliar yang harus dipotong mulai 2016 sampai 2018.  Situasi ini mengharuskan Pemkab Bojonegoro harus pintar-pintar mengelola belanjanya secara tepat, termasuk saat kemungkinan ada lonjakan dana pendapatan.

Jadi kiranya sudah jelas bahwa kehadiran migas itu tidak akan otomatis menyebabkan hilangnya kemiskinan di Bojonegoro dalam sekejap. Kemiskinan Bojonegoro sebenarnya sudah berkurang, dimulai dari 28,38 persen (2006); 26,37 persen (2007); 23,87 persen (2008); 21,27 persen (2009); 18,78 persen (2010); 17,47 persen (2011); 16,60 persen (2012); 15,96 persen (2013); 15,48 persen (2014) dan 15,71 persen (2015). Penurunan ini dimungkinkan salah satunya karena kontribusi sektor migas baik langsung maupun lewat penggunaan anggaran pendapatan yang tepat. Di beberapa daerah yang salah mengelola industri ekstraktif, termasuk migas, kehadirannya bahkan hanya merusak lingkungan, memperparah tingkat korupsi, mental pesta dan konflik sosial, akibatnya tingkat kemiskinan di daerah tersebut tidak berkurang. Situasi inilah yang disebut dengan kutukan sumberdaya alam atau tepatnya kutukan salah kelola sumberdaya alam.

Mari kita berlomba lomba membuat terobosan agar rakyat semakin, sehat, cerdas, trampil, produktif yang mampu menciptakan pendapatannya hingga punya peluang hidup lebih bahagia.

Kelak sejarah akan mencatat bahwa tidak ada kabupaten miskin, yang hanyalah kabupaten yang salah urus. (*/inc)

*) Disunting ulang oleh Imam Nurcahyo

 

Berita Bojonegoro
Berita Terkait
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro

Berita TerkiniBerita Poluler

Sosok

Fotografi Bisa Menjelaskan yang Tak Bisa Ditulis

Wahyu Budianto Toak, Fotografer Bojonegoro

Fotografi Bisa Menjelaskan yang Tak Bisa Ditulis

Oleh Vera Astanti Lelaki itu sibuk menangkap momen. Bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan sebuah kamera yang tercengkeram erat ...

Quote

Sambutan Bupati Bojonegoro Idul Fitri 1438 H / 2017

Sambutan Bupati Bojonegoro Idul Fitri 1438 H / 2017

Sambutan Bupati Bojonegoro Idul Fitri 1438 H/ 2017 "Bersatu Melangkah Maju" Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarakaatuh. Alhamdullilahiribbil alamin wasolatubwassakamu ala Asrofil mursalin ...

Opini

Pendaftaran Siswa Baru dengan Sistem Baru

Opini

Pendaftaran Siswa Baru dengan Sistem Baru

*Oleh Totok Sujatmiko PADA Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun sebelumnya, sistem yang dipergunakan adalah system online berbeda dengan tahun ...

Eksis

Belajar Mencintai Hewan-Hewan kepada Solikin Ular

Belajar Mencintai Hewan-Hewan kepada Solikin Ular

Oleh Vera Astanti Untuk mencari lokasi rumahnya, tidak begitu sulit. Di jalan raya Bojonegoro Padangan, saya masuk Desa Pungpungan Kecamatan ...

Pelesir

Festival Obor pada Malam Colok Songo di Mojodeso

Festival Obor pada Malam Colok Songo di Mojodeso

Oleh Vera Astanti Kapas - Baik di sisi kiri maupun kanan jalan sudah berderet ratusan nyala obor. Lampu listrik di ...

Religi

Puasa Tanpa Jiwa

Puasa Tanpa Jiwa

Oleh Drs H Sholikhin Jamik SH PADA suatu hari seseorang menemui Nabi Syuaib dan berkata, Allah SWT telah melihat semua ...

Kegiatan Masyarakat Bojonegoro

Minggu, 25 Juni 2017

Berita Foto

Ratusan Warga Antri Pembagian Zakat di Masjid At-Taqwa, Jalanan Padat Merayap

Ratusan Warga Antri Pembagian Zakat di Masjid At-Taqwa, Jalanan Padat Merayap

Oleh Piping Dian Permadi RATUSAN warga terlihat mengantri berdesakan dalam pembagian zakat fitrah di depan masjid At-Taqwa jalan Teuku Umar ...

Infotorial

Program Pendukung Operasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Mengolah Sampah Jadi Berkah

Program PHBS dan Pengelolaan Sampah di Sekolah

Program Pendukung Operasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Mengolah Sampah Jadi Berkah

Oleh Imam Nurcahyo Operator minyak dan gas bumi Lapangan Banyu Urip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama pemerintah terus melakukan berbagai ...

Resensi

Cerita Penuh Hikmah Selama Seribu Satu Malam

Cerita Penuh Hikmah Selama Seribu Satu Malam

Oleh Vera Astanti BUKU ini adalah legenda. Namanya akrab dan melekat di benak masyarakat dunia. Cerita cerita di dalamnya tak ...

Feature

Mudik Lebaran, Perempuan Ini Kayuh Sepeda Pancal dari Bandung ke Blora

Cerita Mudik Unik Hatning Natalia Maindra (36)

Mudik Lebaran, Perempuan Ini Kayuh Sepeda Pancal dari Bandung ke Blora

Oleh Priyo Spd Blora Menempuh perjalanan ribuan kilometer saat mudik lebaran dengan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor atau ...

Teras

Surabaya Kini Jadi Kota Nyaman Ditinggali

Surabaya Kini Jadi Kota Nyaman Ditinggali

Oleh Heriyanto Bojonegoro Wajah Kota Surabaya kini banyak berubah. Tidak seperti dulu. Dulu Kota Pahlawan itu kesannya seperti lagunya Franky, ...

Statistik

Hari ini

2.297 pengunjung

4.561 halaman dibuka

137 pengunjung online

Bulan ini

112.034 pengunjung

330.510 halaman dibuka

Tahun ini

536.323 pengunjung

2.204.736 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 578.884

Indonesia: 9.221

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015

\