Skrining Kanker Kolorektal Masuk Program Cek Kesehatan Gratis
Selasa, 02 Juni 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia resmi memperluas jangkauan layanan preventif bagi masyarakat dengan mengintegrasikan skrining kanker kolorektal atau kanker usus besar ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis Nasional. Langkah strategis ini menyasar masyarakat berusia 45 tahun ke atas yang dinilai memiliki faktor risiko tinggi terhadap penyakit tersebut.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menjelaskan bahwa kanker kolorektal saat ini menjadi salah satu persoalan mendesak di bidang onkologi, baik di tingkat nasional maupun global. Berdasarkan data, penyakit ini menempati urutan ketiga kanker paling umum di dunia dengan mencatatkan sekitar 1,9 juta kasus baru setiap tahun. Sementara di Indonesia, kanker usus berada di peringkat keempat untuk jumlah kasus terbanyak dan menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi kelima dengan lebih dari 19.000 kematian per tahun.
Menurut Dante, masalah utama penanganan penyakit ini di Indonesia terletak pada keterlambatan deteksi. Ia menyebutkan bahwa dari 100 pasien kanker kolorektal yang datang ke fasilitas kesehatan saat ini, lebih dari 70 di antaranya sudah dalam kondisi stadium lanjut.
"Kondisi ini terjadi bukan karena kelalaian pasien, melainkan karena tidak adanya deteksi yang cukup dini," kata Dante.
Guna mengatasi persoalan tersebut, Kemenkes menerapkan pendekatan alur skrining berlapis. Metode pemeriksaan dalam program ini dimulai dari tahap awal berupa pengisian kuesioner skrining kolorektal, dilanjutkan dengan pemeriksaan colok dubur digital. Bagi individu yang teridentifikasi berisiko tinggi, petugas medis akan melakukan tes darah samar tinja atau Fecal Occult Blood Test sebagai langkah spesifik.
Di sisi lain, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan terkait pembiayaan penanganan kanker. Layanan BPJS Kesehatan pada dasarnya menanggung penanganan kanker secara umum, namun terdapat pengecualian untuk beberapa jenis terapi mutakhir berbiaya sangat tinggi. Nadia mencontohkan obat targeted therapy untuk kasus metastasis atau kanker yang sudah menyebar luas kemungkinan belum semuanya masuk dalam skema BPJS karena harganya yang sangat mahal.
"Mengingat mahalnya biaya pengobatan untuk stadium lanjut, pemerintah terus menggencarkan edukasi mengenai pentingnya langkah pencegahan. Masyarakat diimbau untuk konsisten menerapkan pola hidup sehat, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, serta memanfaatkan program cek kesehatan gratis ini sebagai langkah perlindungan sejak dini," katanya. (red/toh)
Editor: Mohamad Tohir







.sm.jpg)





























