Angka Kasus Batu Ginjal di Bojonegoro Cukup Tinggi, Masyarakat Perlu Waspada dan Paham Pencegahannya
Kamis, 16 Juli 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan serta memahami secara mendalam mengenai penyebab dan gejala penyakit batu ginjal. Hal itu penting mengingat angka kasus batu ginjal di Bojonegoro tergolong cukup tinggi, di mana dalam satu bulan pihak RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro rata-rata menangani hingga sekitar 100 tindakan operasi batu saluran kemih. Dokter Spesialis Urologi RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, dr. Roy Dwi Antariksa Kristanto mengungkap hal itu.
Dr. Roy menjelaskan bahwa batu ginjal merupakan kondisi terbentuknya batu pada saluran kemih akibat adanya endapan zat dari sisa makanan dan minuman. Zat-zat tersebut kemudian mengkristal karena adanya gangguan tertentu di dalam tubuh, sehingga tidak dapat terbuang atau keluar secara alami bersama dengan urine.
Salah satu faktor lokal yang diduga kuat turut memengaruhi tingginya grafik kasus batu ginjal di wilayah Bojonegoro adalah tingginya kandungan zat kapur pada sumber air konsumsi masyarakat. Kendati demikian, dr. Roy menegaskan bahwa penyebab utama terbentuknya batu ginjal tidak melulu bersumber dari air minum, melainkan akumulasi dari faktor genetik atau keturunan serta pola hidup harian masyarakat.
"Selain faktor lingkungan, riwayat keluarga juga berpengaruh. Karena itu masyarakat perlu melakukan deteksi dini agar batu ginjal dapat diketahui sebelum menimbulkan keluhan yang lebih berat," jelas dr. Roy.
Sebagai langkah deteksi awal, masyarakat disarankan untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, minimal melalui pengecekan urine lengkap dan fasilitas ultrasonografi (USG). Mengingat penyakit ini mayoritas mulai bermanifestasi pada usia dewasa, screening kesehatan bahkan sudah dapat diinisiasi sejak sebelum menikah, yang diimbangi dengan perbaikan pola hidup sehat.
Terkait metode penanganan medis, dr. Roy menjabarkan bahwa tindakan operasi bukan lagi menjadi satu-satunya jalan keluar utama bagi penderita. Pilihan terapi medis akan disesuaikan secara dinamis berdasarkan kondisi klinis pasien, mulai dari pembatasan gaya hidup, intervensi obat-obatan, hingga pemanfaatan teknologi Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) atau pemecahan batu ginjal dengan gelombang kejut tanpa sayatan.
Jika terpaksa harus melalui tindakan pembedahan, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena sistem kedokteran modern saat ini jauh lebih aman dan minim luka. Tindakan medis kini jamak memanfaatkan alat endoskopi yang dikombinasikan dengan teknologi tembakan laser, sehingga tidak lagi memerlukan sayatan besar di tubuh pasien. Proses pemulihan dengan metode minimal invasif ini tergolong cepat, di mana pasien rata-rata sudah diperbolehkan pulang dalam waktu satu hingga dua hari.
"Operasi sekarang tidak identik dengan sayatan besar. Teknologi yang kami miliki memungkinkan tindakan dilakukan secara minimal invasif sehingga proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat. Layanan ini sudah tersedia di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo," ungkapnya.
Guna menekan potensi pembentukan kristal di dalam ginjal, dr. Roy mengimbau warga Bojonegoro untuk disiplin mengonsumsi air putih minimal 1,5 hingga 2 liter setiap hari. Selain itu, rutinitas berolahraga dan aktif bergerak secara fisik sangat disarankan karena batu ginjal yang masih berukuran mikro memiliki peluang besar untuk luruh atau hancur dengan sendirinya apabila didukung oleh metabolisme tubuh yang aktif.






































