Film The Mummy Versi Lee Cronin, Horor Mengerikan dari Mitologi Klasik
Minggu, 10 Mei 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Dunia perfilman kembali dikejutkan dengan reinterpretasi radikal terhadap salah satu monster ikonik layar perak. Menjauh dari nuansa petualangan arkeologis ala Stephen Sommers, sutradara Lee Cronin membawa The Mummy kembali ke akar horornya yang murni. Film ini menawarkan perpaduan unik antara mitologi supernatural Mesir dengan versi kelam dongeng Snow White, dibalut sentuhan gore yang mengingatkan pada karya Cronin sebelumnya, Evil Dead Rise.
Cerita bermula dari tragedi yang menimpa Katie (Emily Mitchell), putri sulung pasangan Amerika, Charlie Cannon (Jack Reynor) dan Larissa Cannon (Laia Costa), yang menetap di Mesir. Katie diculik oleh sosok perempuan misterius setelah memakan buah beracun, sebuah referensi jelas pada hikayat Putri Salju. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan setelah terbangun, Katie justru menghilang dalam badai pasir dahsyat. Delapan tahun kemudian, saat keluarga Cannon telah memulai hidup baru di Albuquerque, New Mexico, sebuah kabar mengejutkan datang: Katie ditemukan masih bernyawa di dalam sebuah sarkofagus pasca kecelakaan pesawat.
Namun, Katie yang kembali (kini diperankan Natalie Grace) bukan lagi gadis kecil yang mereka kenal. Perubahan fisiknya digarap dengan apik oleh departemen tata rias, menciptakan sosok yang berada di ambang batas antara manusia dan monster. Lee Cronin bersama sinematografer Dave Garbett menggunakan teknik split diopter shot untuk menciptakan atmosfer ketidaknyamanan yang konsisten sepanjang film. Mumifikasi dalam film ini bukan sekadar proses pengawetan mayat, melainkan simbol kuat dari upaya pembungkaman dan penguburan kebenaran sejarah.
Meski memiliki durasi 133 menit, film ini sempat mengalami kendala pada pacing akibat subplot investigasi Detektif Dalia (May Calamawy) di Mesir yang sering kali memutus intensitas teror di rumah keluarga Cannon. Kendati demikian, Cronin tetap berhasil menjaga kualitas horornya. Penonton yang terbiasa dengan kegilaan Evil Dead mungkin akan merasa Cronin sedikit menahan diri dalam jumlah korban jiwa, namun ia tidak berkompromi soal kualitas adegan sadis. Salah satu momen yang paling membekas adalah "adegan kuku" yang dieksekusi secara efektif untuk memicu rasa sakit imajiner bagi penonton.
The Mummy versi ini berhasil menjadi sebuah horor yang memuakkan sekaligus memikat. Penggunaan cairan tubuh jenazah dan adegan-adegan ekstrem yang menguji toleransi rasa sakit menjadikannya salah satu film horor paling berani tahun ini. Lee Cronin sukses mendekonstruksi mitologi mumi menjadi manifestasi fisik dari rahasia yang terkubur, mengubah monster klasik ini menjadi teror modern yang mampu membuat penonton berteriak sekaligus merasa mual di dalam bioskop.
Film ini membuktikan bahwa mitologi lama masih memiliki ruang untuk dieksplorasi jika berada di tangan sutradara yang tepat. Dengan visual yang mengganggu dan narasi yang emosional, The Mummy bukan lagi sekadar kisah tentang kutukan kuno, melainkan tentang luka keluarga yang kembali terbuka dalam bentuk yang paling mengerikan.






































