Film Para Perasuk, Ruang Aman di Balik Magis Desa Latas
Selasa, 28 April 2026 16:00 WIBOleh Tim Redaksi
Sutradara Wregas Bhanuteja kembali menggebrak sinema tanah air melalui karya terbarunya, Para Perasuk. Berbeda dengan pakem film bertema mistis pada umumnya yang sering kali menonjolkan kengerian, Wregas justru membingkai mistisisme sebagai medium perlawanan dan ruang bebas bagi imajinasi manusia untuk meruntuhkan batas-batas kemustahilan.
Berlatar di Desa Latas, film ini memperkenalkan tradisi unik bertajuk Pesta Sambetan. Dalam ritual ini, para peserta yang dijuluki pelamun membiarkan tubuh mereka dirasuki roh melalui bimbingan musik dari seorang perasuk. Bayu (Angga Yunanda), seorang pemuda yang mahir meniup selompret, berambisi menjadi perasuk andal di sanggar pusat yang dipimpin oleh Guru Asri (Anggun). Ambisi ini didorong oleh desakan ekonomi demi menyelamatkan rumah keluarganya dari ancaman korporasi Wanaria.
Dunia magical realism yang dibangun Wregas bersama penulis naskah Alicia Angelina dan Defi Mahendra terasa sangat unik. Roh-roh yang dihadirkan bukanlah sosok menyeramkan, melainkan roh hewan seperti semut, bulus, hingga kutu. Bagi para pelamun seperti Laksmi (Maudy Ayunda), sambetan adalah bentuk eskapisme dari trauma dan kepenatan dunia nyata. Di sana, mereka bisa merasakan kebahagiaan semu yang tidak bisa didapatkan dalam realitas yang pahit.
Visualisasi alam roh dalam film ini dieksekusi dengan sangat kreatif, menggabungkan ide-ide artistik segar dengan sentuhan humor absurd yang mencegah alur terasa repetitif. Namun, di balik keajaiban fantastisnya, Para Perasuk menyimpan subteks realis yang tajam. Wregas menyentil ketamakan pembangunan serta arogansi logika masyarakat urban yang sering kali meremehkan paham spiritualitas lokal.
Performa Angga Yunanda dan Maudy Ayunda berhasil menjadi jembatan emosi yang kuat bagi penonton. Keduanya memerankan karakter yang terjebak antara ambisi, luka hati, dan adiksi terhadap dunia eskapisme. Meski konklusi cerita mungkin terasa sedikit naif dengan dramatisasi tinggi khas Wregas, film ini tetap berdiri kokoh sebagai pengingat akan kekayaan budaya mistis Indonesia. Para Perasuk mengajak kita untuk tidak sekadar takut pada klenik, melainkan meresapinya sebagai cara untuk menjalin keselarasan antara diri sendiri dengan semesta.
Editor: Mohamad Tohir






































