News Ticker
  • Peringati Hari Lingkungan Hidup, Bupati Setyo Wahono Ajak Warga Bojonegoro Jaga Mata Air Demi Masa Depan Generasi
  • Anggaran Jalan Randublatung-Cepu Ditambah Jadi Rp 30 Miliar dan Diusulkan Jadi Jalan Nasional
  • Tak Hanya Manual, Pemkab Blora Wacanakan Job Fair Digital Berbasis Website Sepanjang Tahun
  • Lantik Dua Kades PAW, Bupati Setyo Wahono Minta Segera Tancap Gas dan Rangkul Semua Elemen
  • Wujudkan Program 'Golek Gawean Gampang', Pemkab Blora Buka Lowongan 7.439 Posisi di Job Fair 2026
  • 11 Juni dalam Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 11 Juni 2026
  • Tenggelam di Sungai Bengawan Solo, Seorang Anak di Kasiman, Bojonegoro Ditemukan Meninggal
  • Musim Kemarau 2026, 93 Desa di 24 Kecamatan Bojonegoro Berpotensi Alami Kekeringan
  • Diduga Serangan Jantung, Warga Malo Meninggal saat Hendak Beli Elpiji di Kalitidu, Bojonegoro
  • Seorang Kakek Warga Kalitidu Ditemukan Meninggal di Tribun Alun-Alun Bojonegoro
  • Komitmen Anggaran RTLH Tinggi, Kabupaten Bojonegoro Raih Penghargaan Terbaik Kedua dari Gubernur Jawa Timur
  • Sering Mengalami Mimpi tentang Pekerjaan Kantor? Ternyata Ini Penyebab Psikologisnya
  • Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa
  • Optimalkan Kesejahteraan Keluarga, TP PKK Bojonegoro Sisir Desa Sudah di Kecamatan Malo
  • Sempat Viral Aksi Tanam Pohon Pisang di Jalan Rusak Randublatung - Cepu, Pemprov Jateng Pastikan Jadi Prioritas Pembangunan
  • 10 Juni dalam Sejarah
  • Prakiraan Cuaca 10 Juni 2026 di Bojonegoro
  • Pertumbuhan Ekonomi Sektor Pertanian di Bojonegoro Capai 11,38 Persen, Geser Dominasi Migas
  • Rumah Warga Sumberrejo, Bojonegoro Terbakar, Kerugian Capai Rp 250 Juta
  • Tangani Kasus Anak Tidak Sekolah, Dinas Pendidikan Bojonegoro Siapkan Strategi Khusus dan Jalur Alternatif
  • Madrasah dan Pesantren Siap Jadi Basis Solusi Nasional Penuntasan Anak Tidak Sekolah
  • Seperempat Abad Merantau Lansia Sebatang Kara di Bojonegoro Dievakuasi ke Panti Sosial Magetan
  • Faktor Ekonomi Hingga Pernikahan Dini Picu 5.610 Anak di Bojonegoro Tidak Sekolah
Sejak Dulu, Petani Mengandalkan Pengairan dari Bengawan Solo

Bengawan Solo Riwayatmu Kini (bagian 7)

Sejak Dulu, Petani Mengandalkan Pengairan dari Bengawan Solo

Oleh Nasruli Chusna

Bojonegoro – Petani yang mempunyai lahan persawahan di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo menggantungkan pengairan saat musim tanam padi dari air Bengawan Solo. Seperti halnya petani gandum di sepanjang Sungai Nil di Mesir, petani di daerah bantaran Bengawan Solo ini juga selalu bisa memanen padi meski pun pada saat musim kemarau. Tanah di daerah bantaran sungai yang subur dan persediaan air yang cukup membuat petani bisa memanen padi saat musim kemarau maupun musim hujan.

Namun, seiring perubahan iklim dan perubahan alam, perebutan sumber mata air saat ini semakin pelik. Begitu pula yang terjadi di Sungai Bengawan Solo. Selain dimanfaatkan untuk pengairan persawahan, air Bengawan Solo kini juga disedot untuk keperluan industri minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip, Blok Cepu di Bojonegoro. Bila tidak ada pengaturan yang baik mengenai pemanfaatan air Bengawan Solo ini, bukan tidak mungkin di masa mendatang terjadi konflik antara petani yang memerlukan pengairan persawahan dengan kepentingan industri minyak.

Tradisi memanfaatkan air Bengawan Solo untuk pengairan persawahan ini sudah dilakukan oleh petani di daerah bantaran Bengawan Solo sejak turun temurun. Sejak masa Majapahit, masa Kolonial Belanda, hinga masa sekarang, air Bengawan Solo mengalir memenuhi kebutuhan pengairan pertanian itu. Namun, apabila dilihat sekarang debit air Bengawan Solo saat musim kemarau sudah banyak berkurang dibandingkan masa lalu. Dulu, meskipun musim kemarau tidak ada warga yang bisa membangun jembatan dari bambu untuk menyeberangi sungai terpanjang di Pulau Jawa itu. Namun kini lihatlah, saat musim kemarau terlihat jelas bebatuan dan endapan pasir di dasar sungai itu.

Proses pengambilan air dari Bengawan Solo ke persawahan akrab disebut arealan atau irigasi. Mekanismenya sendiri ada dua macam. Yang pertama adalah bergabung di Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), dimana biasanya dikelola oleh pemerintah desa. Yang kedua memakai jasa irigasi yang dikelola oleh perorangan.

Seorang petani asal Desa Ngulanan, Kecamatan Dander Parwidi (28), mengaku belum punya pilihan lain kecuali mengandalkan irigasi dari air Bengawan solo. Padahal sawahnya terletak sekitar 4 kilometer dari bibir Bengawan solo. Dengan begitu dia bisa memperoleh 3 kali panen
padi setiap tahunnya.

"Kalau di sini belum ada HIPPA, rata-rata masih ikut perorangan," kata pemuda yang saban hari juga berprofesi sebagai agen elpiji dan air isi ulang itu.

Untuk mendapat aliran air Bengawan, terang Parwidi, diperlakukan sistem proliman. Atau seperlima dari hasil panen. Artinya jatah 20 persen dari panen adalah milik jasa sedot air dari Bengawan. Meski berat, lanjut dia, para petani tidak punya pilihan lain untuk mendapatkan air. Apalagi saat musim kemarau bagi petani yang hanya mengandalkan hujan.

Sistem tersebut juga berlaku bagi petani yang mengambil air lewat jasa irigasi yang disediakan oleh HIPPA. Di beberapa tempat HIPPA dikelola oleh pemerinta desa. Sebab itu HIPPA diharapkan menjadi salah satu sumber pendapatan desa.

Seperti halnya berlaku di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam. Ongkos penyaluran air lewat jasa HIPPA sebesar 20 persen dari hasil panen. Dengan demikian pembayaran akan dilakukan jika petani telah memanen hasil tanamnya.

"Orang sini biasa menyebutnya patang jangkah lima jangkah. Maksudnya dari lima jangkah luas sawah, HIPPA berhak memiliki satu jangkah," kata Kepala Desa Ngraho, Samad.

Dengan demikian pihak HIPPA harus menanggung terlebih dulu biaya operasional seperti bahan bakar dan akomodasi operator. Sistem itu, lanjut Samad, sudah berlangsung sejak dulu kala. Menurutnya di daerah-daerah lain juga menggunakan sistem yang sama.

Pria yang akrab disapa Bang Samad itu mengaku harus berpikir keras untuk menyediakan permodalan awal dalam pengelolaan HIPPA. Sebab itu dia sempat mengajak beberapa orang untuk menggadaikan sertifikat tanah. Akhirnya uang pinjaman itu yang digunakan untuk dana awal pengelolaan HIPPA di masa kepemimpinannya yang sudah memasuki tahun kedua.

"Tahun pertama kemarin sempat merugi hingga Rp 175 juta, tapi Alhamdulillah sekarang bisa punya saldo sebesar 6 juta," ujarnya ketika ditemui beritabojonegoro.com. (rul)

Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark (PIGG) Bojonegoro, yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro, ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Menjadi "Raksasa" yang Lupa Cara Jadi Manusia

Menjadi "Raksasa" yang Lupa Cara Jadi Manusia

Pernahkah Anda merasa paling benar setelah memenangkan debat di kolom komentar? Atau merasa paling sukses saat melihat angka di saldo ...

Sosok

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bojonegoro - Berbeda dari anak-anak seusianya, seorang bocah dari Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini justru memiliki minat besar ...

Infotorial

Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa

Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa

Bojonegoro - Berakhirnya fase pengembangan Proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) pada 2021 menjadi titik balik bagi ratusan pemuda Desa Bandungrejo, ...

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Blora - Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan warga sekitar terus melakukan pencarian terhadap serpihan pesawat tempur T-50i Golden ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

Hiburan

Film Monster Pabrik Rambut, Dobrak Kejenuhan Formula Horor Domestik

Film Monster Pabrik Rambut, Dobrak Kejenuhan Formula Horor Domestik

Ranah sinema genre cekam tanah air kembali dikejutkan oleh keberanian sutradara Edwin melalui buah karya sinematik terbarunya yang bertajuk Monster ...

1781163751.3245 at start, 1781163751.868 at end, 0.54349803924561 sec elapsed