Pengalaman Kulineran Bebek THR Surabaya yang Khas dan Unik
Kamis, 08 Januari 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Oleh Bias Cepewe*
Kata sebagian orang, ada yang namanya cinta pada pandangan pertama. Jujur saja, aku pribadi belum pernah merasakannya. Tapi kalau soal makanan, itu pengecualian. Aku bisa jatuh cinta begitu saja pada makanan tertentu. Salah satu yang berhasil membuatku seperti itu adalah Bebek THR Surabaya.
THR sendiri adalah Taman Hiburan Rakyat, suatu destinasi hiburan dan perbelanjaan atau mall di Surabaya yang eksis sejak zaman dulu. Berbagai hiburan baik tradisional maupun modern sering digelar di THR. Ludruk Cak Kartolo sering manggung di THR, juga yang lainnya. Letaknya persis di depan Taman Makam Pahlawan Sepuluh November, Jalan Kusuma Bangsa. Nah, letak warung bebek ini pas di tepi jalan sempit samping kanan Makam Pahlawan ini.
Sebenarnya aku sudah tahu Bebek THR ini dari cukup lama, dari kakakku. Aku sendiri adalah orang Surabaya yang tinggal di Bojonegoro, kabupaten terpencil yang cita rasa bebeknya hambar di lidahku. Meski kakakku cerita bahwa bebek THR ini khas, tapi aku sama sekali nggak tertarik mencoba. Alasannya sederhana. Surabaya ini kan surganya bebek. Ada banyak sekali brend warung bebek, dari masakan orang Madura sampai olahan orang Yaman, ada semua. Dan rata-rata ya begitu-begitu saja. Begitu saja itu bukan berarti biasa saja. Semua enak kalau bebek Surabaya. Karena semua enak ya jadinya begitu-begitu saja, biasanya bebek digoreng, disajikan dengan nasi panas, di atasnya diteplok bumbu kuning dan serundeng, dilengkapi lalapan timun, kemangi, dan kol.
Nah, aku pikir Bebek THR juga begitu. Ternyata salah besar.
Yang bikin penesaran cuma satu, kata kakakku bebek ini laris banget meski cuma buka sebentar. Bahkan sebelum buka, yang nunggu sudah banyak. Buka cuma satu atau dua jam sudah habis. Beda dari warung bebek lain yang punya banyak karyawan, Bebek THR hanya dikelola oleh pasangan suami-istri dibantu satu orang, yang ternyata adik dari pemiliknya. Pemilik warung bebek ini namanya Pak Roni, warga Surabaya tinggal di Pacar Kembang. Di rumahnya inilah Pak Roni bersama istrinya memasak bebeknya.
Singkat cerita, aku memberanikan diri datang ke sana. Meskipun kakakku sudah memperingatkan: “Tempatnya kecil, meja-kursinya sedikit, dan harus siap sabar antre panjang.” Tapi saat pertama kali aku ke sana, ternyata nggak sepadat yang kubayangkan. Aku langsung dapat tempat duduk dan bisa memesan.
Bebek THR ini bukan warung makan seperti restoran yang memiliki bangunan tetap. Ini murni warung pinggir jalan yang bongkar pasang. Hanya gerobak dorong yang dilingkupi spanduk kain warna kuning bertuliskan Nasi Bebek dan atap dari terpal dengan rangka kayu nangka. Tempat makannya di tepian gerobak dorong dengan atap terpal dan dua meja lagi tanpa atap. Tempat duduknya kursi plastik yang kadang kurang.

Seporsi nasi bebek di samping Taman Makam Pahlawan Jalan Kusuma Bangsa Surabaya. Lokasinya di depan THR Mall.
Begitu duduk, aku perhatikan sekeliling—kok nggak ada kompor ya? Penyajiannya juga cepat sekali. Tak lama, seporsi nasi bebek sudah mendarat di mejaku. Bebeknya berukuran besar, disandingkan dengan nasi panas yang di atasnya ditaburi bumbu berwarna hitam. Awalnya kukira itu sambal atau bumbu cair seperti di tempat bebek lain. Eh, ternyata bawang goreng yang dimasak sampai hitam pekat! Entah bagaimana caranya, bawang yang mentahnya berwarna hijau bisa jadi sehitam itu. Rasanya? Luar biasa. Menurutku, bumbu hitam inilah signature-nya. Inilah yang bikin Bebek THR jadi khas.
Yang lebih unik lagi, bebeknya sama sekali nggak terasa digoreng kering. Teksturnya lembab, tapi sudah matang sempurna dan empuk. Pak Roni bercerita, proses memasaknya ada tiga tahap: dibakar dulu, lalu direbus, baru kemudian digoreng. Anehnya, aku sama sekali nggak merasakan minyak berlebih atau kulit yang krispi. Rasanya tetap juicy dan basah—sempurna banget.
Kalau kalian sedang di Surabaya, wajib hukumnya mampir ke Bebek THR milik Pak Rony ini. Tapi ingat, tempat ini bukannya tanpa risiko. Stok bisa habis sewaktu-waktu, dan antrean kadang panjang. Saranku: kalau mau makan di tempat atau bungkus, lebih baik WhatsApp dulu untuk reservasi atau tanya stok. Daripada datang tiba-tiba, eh malah cuma dapat capek doang tanpa dapat bebek.
Kunjunganku yang kedua bareng-bareng sama keluarga kakakku. Kami pesan 7 porsi melalui pesan WhatsApp. Dari sini saya mulai paham bahwa bebek istimewa ini dimasak di rumah, sampai di warung tinggal menyajikan. Yang pesan melalui WhatsApp dilayani dulu, sudah dibungkusi dari rumah sesuai pesanan. Yang belum pesan dikasih nomor antrean. Yang dapat nomor antrean belakang akan dapat ultimatum; “Gak janji masih keduman lho ya!”
Bagi yang kuat mental dan kesabaran yang cukup akan menanggapinya dengan legawa, menunggu sambil berharap masih ada jatah porsi. Bagi yang pesimis ya akan balik kanan.
Aku dan rombonganku yang sudah pesan melalui WhatsApp saja masih harus nunggu cukup lama. Soalnya saat kami tiba di warung pukul 18.30, Pak Rony belum ada. Hanya ada adik Pak Rony yang sabar menjawab setiap pertanyaan dan sapaan pembeli. Saat kami tiba baru ada satu pembeli yang nunggu sejak setengah jam. Saat kami tanya jam berapa datangnya Pak Rony, sang adik tak bisa menjawab. Antrean makin banyak, adik pak Rony masih belum punya jawaban baru. Hanya ada kasak-kusuk di antara pengantre, mungkin Pak Rony naik becak dari rumahnya, atau kejebak macet, atau masih ngiyup karena hujan. Hujan benar-benar turun dan para pengentre tetap bertahan. Wajah para pengantre itu terlihat tabah meski tak sedikit yang nampak suntuk dan kesal.
Kira-kira satu jam setengah menunggu, Pak Rony dan istrinya datang naik motor modif dengan gerobak boks di bagian belakang. Di boks itulah harta karun yang ditunggu pelanggan selama dua jam disimpan. Wajah-wajah sabar para pengantre terlihat cerah. Pak Rony dan istrinya akhirnya datang menyapa para pengentre dengan ramah.
Tak lama kemudian, pesanan segera menghampiri mulut-mulut lapar para pengantre. Mereka makan dengan lahap. Aku dan rombonganku sebenarnya mau nambah lagi tapi sudah tidak bisa. Sungguh bebek THR memberikan cita rasa yang khas dan pengalaman menunggu yang tak terlupakan.
Sekian ceritaku tentang Bebek THR Pak Rony. Dengan penuh keyakinan, aku nobatkan ini sebagai bebek terenak di Surabaya—versi aku tentunya. Kalau saja bebek nggak bikin kolesterol naik, mungkin aku akan makan di sini setiap hari. (red/imm)




































.md.jpg)






