Pengakuan Aurelie Moeremans Soroti Bahaya Child Grooming, Modus Manipulasi yang Sering Tak Disadari
Selasa, 13 Januari 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Nasional - Isu child grooming atau proses manipulasi anak untuk tujuan eksploitasi kembali menjadi perbincangan hangat di masyarakat Indonesia. Fenomena ini mencuat kuat setelah aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans secara terbuka mengungkap pengalaman traumatisnya sebagai korban grooming sejak usia 15 tahun melalui memoar buku berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth (atau Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah dalam versi Indonesia).
Dalam buku elektronik yang dibagikan secara gratis melalui akun Instagram pribadinya @aurelie pada awal Januari 2026, Aurelie menceritakan bagaimana seorang pria dewasa—yang usianya hampir dua kali lipat darinya—membangun hubungan emosional secara bertahap. Proses itu dimulai dari pertemuan di lingkungan kerja (seperti lokasi syuting iklan), kemudian berubah menjadi manipulasi, kontrol ketat, isolasi dari keluarga, pengaturan cara berpakaian, hingga pembatasan komunikasi dengan orang terdekat. Aurelie menggambarkan pengalaman itu sebagai ikatan traumatis (trauma bond) yang membuatnya merasa tersiksa, penuh rasa bersalah, dan baru berani mengakhiri serta memulihkan diri bertahun-tahun kemudian. Apa yang dilakukan terhadap Aurelle tersebut disebut sebagai child grooming.
Child grooming adalah proses manipulasi halus di mana pelaku—biasanya orang dewasa—membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan anak atau remaja. Tujuannya adalah mempersiapkan korban untuk dieksploitasi secara seksual, emosional, atau psikologis. Menurut berbagai sumber kesehatan seperti Halodoc dan organisasi internasional NSPCC, grooming sering dimulai dengan pendekatan yang tampak penuh perhatian: pujian berlebih, hadiah, peran sebagai "teman" atau "mentor", hingga penciptaan rasa istimewa dan rahasia.Modus ini bisa terjadi secara offline (seperti di lingkungan kerja, sekolah, atau keluarga) maupun online (melalui media sosial, game daring, atau chat pribadi). Pelaku kerap mengincar anak yang terlihat kesepian, kurang perhatian orang tua, atau aktif di dunia maya. Prosesnya bertahap: mulai dari perhatian ekstra, isolasi sosial, hingga permintaan yang bernuansa seksual.Tanda-tanda yang Perlu Diwaspadai
Korban grooming jarang langsung menunjukkan luka fisik, tapi sering muncul perubahan perilaku seperti tiba-tiba tertutup tentang aktivitas online atau kehidupan sehari-hari, menghapus riwayat chat, enggan menunjukkan gadget, atau stres saat ada notifikasi, menerima hadiah/uang dari orang tak dikenal keluarga, perubahan suasana hati drastis, menarik diri, cemas berlebih, atau sulit tidur serta sering membicarakan "teman baru" misterius.
Dampaknya pun jangka panjang seperti gangguan kecemasan, depresi, PTSD, rasa malu berlebih, kesulitan membangun hubungan sehat, hingga penurunan prestasi belajar.
Pengakuan Aurelie bukan hanya cerita pribadi, melainkan alarm bagi orang tua, guru, dan masyarakat. Grooming sering tak terdeteksi karena pelaku menyamar sebagai orang terpercaya, dan korban sendiri merasa bingung atau bahkan "mencintai" pelaku akibat manipulasi. Keberaniannya berbagi kisah ini telah mendapat dukungan luas dari netizen, sekaligus memicu diskusi tentang perlunya edukasi batasan tubuh, komunikasi terbuka dengan anak, dan ruang aman untuk bercerita tanpa takut disalahkan.
Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) juga mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan layanan pengaduan seperti SAPA 129 jika mencurigai kasus serupa. Pencegahan terbaik adalah edukasi sejak dini dengan mengajari anak tentang batasan, dorong mereka bercerita jika ada interaksi tak nyaman, dan waspadai tanda-tanda manipulasi halus.
Kisah Aurelie menjadi pengingat kuat bahwa child grooming bisa menimpa siapa saja, bahkan di lingkungan yang tampak aman. Mari lindungi generasi muda dengan kesadaran dan empati—karena pemulihan dari trauma seperti ini butuh waktu, dukungan, dan keberanian untuk bersuara.(red/toh)










.sm.jpg)



















.md.jpg)






