Ghost in the Cell, Fim Terbaru Joko Anwar Penuh Horror Sadis dan Kritik Sosial
Sabtu, 25 April 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Ghost in the Cell hadir sebagai sebuah karya yang memancarkan kepercayaan diri tinggi sekaligus menandai fase pendewasaan seorang Joko Anwar (Jokan). Film ini bukan hasil dari kontrol diri yang kaku, melainkan sebuah manifestasi dari keberanian sang sineas untuk melepaskan segala pakem saklek sinema yang selama ini membelenggu.
Dalam karya terbarunya ini, Jokanseolah meruntuhkan kurungan kreativitasnya. Ia tidak lagi ambil pusing dengan kerumitan sensor terkait kevulgaran, bahkan menjadikannya sebagai materi candaan. Lebih jauh, film ini menjadi corong lantang untuk menyuarakan keresahan terhadap perilaku figur-figur publik di tanah air yang kian memprihatinkan.
Latar penjara dipilih sebagai ruang yang sangat masuk akal untuk memotret realitas tersebut. Lapas yang dipimpin oleh Sapto (Kiki Narendra) dan tangan kanannya, Jefry (Bront Palarae), justru digambarkan sebagai sarang kriminalitas baru, mulai dari pelecehan hingga bisnis narkotika. Di tengah dominasi kuasa mafia seperti Rendra (Yuhang Ho), sosok Anggoro (Abimana Aryasatya) muncul sebagai figur karismatik yang menjadi tumpuan harapan para narapidana lemah.
Keunikan lain dalam film ini adalah absennya wajah perempuan. Jokan seolah ingin memperlihatkan potret dunia yang hanya berisi laki-laki, yang pada akhirnya bermuara pada kekacauan dan pertumpahan darah sebagai satu-satunya solusi. Dinamika cerita mulai bergeser saat Dimas (Endy Arfian), seorang jurnalis yang dituduh membunuh, masuk ke dalam sel dan mulai diperkenalkan pada kerasnya kehidupan bui oleh Irfan (Dimas Danang).
Melalui interaksi antar-karakter, Jokan menumpahkan kritik tajam yang mungkin terlalu berisiko jika disampaikan di media sosial. Mulai dari politikus busuk, selebritas bermasalah, hingga kaum ekstremis, semua tidak luput dari sentilannya. Salah satu karakter yang mencuri perhatian adalah Prakasa Kitabuming (Arswendy Bening Swara), seorang penghuni blok koruptor yang selnya menyerupai hotel mewah, yang secara gamblang memparodikan sosok di dunia nyata.
Alur cerita semakin mencekam saat serangkaian kematian tragis mulai menghantui lapas. Mayat-mayat ditemukan terpotong dan disusun menyerupai instalasi seni, memicu berbagai teori spekulatif di kalangan penonton. Apakah ini ulah hantu atau simbolisasi dari elemen tertentu? Joko tidak memberikan jawaban instan, ia justru mengajak penonton menikmati puncak kreativitasnya yang unik, menyakitkan, sekaligus mencengangkan.
Ghost in the Cell juga menjadi ajang Jokan untuk bersenang-senang dengan menghadirkan sadisme ala b-movie yang dipadukan dengan humor konyol dan absurd. Dengan mengesampingkan tuntutan pasar arus utama yang sering kali terlalu memuja logika, Joko Anwar membuktikan bahwa kebebasan dari kekangan pola bercerita justru mampu melahirkan karya yang mengagumkan.
Film ini sedang tayang di bioskop tanah air. Tonton segera sebelum turun layar.






































