Siti Urifaturosiyah: MOW adalah Upaya Kontrasepsi Terakhir
Kamis, 17 Maret 2016 18:00 WIBOleh Mulyanto
Oleh Mulyanto
Kota-Metoda Operasi Wanita (MOW) dilakukan jika peserta Keluarga Berencana (KB) sudah tidak mampu lagi menggunakan alat kontrasepsi lainnya. Hal itu ditegaskan oleh Kasubid Pembinaan dan Peningkatan KB (P3KB) BPPKB Kabupaten Bojonegoro, Siti Urifaturosiyah, dalam pelayanan MOW di RSUD Sosodorojatikusumo, hari ini, Kamis (17/03).
Siti Urifaturosiyah menerangkan, kegiatan itu digelar dalam rangka meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Yang menggelar adalah BPPKB Bojonegoro dan Ikatan Bidan Indonesia, bekerjasama dengan Kodim 0813 Bojonegoro.
"Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan jumlah peserta KB yang baru, di semua Metode Kontrasepsi Jangka Panjang," ujar Siti Urifaturosiyah.
MOW ini bersifat permanen. Artinya saat MOW dilakukan, peserta KB tidak bisa memiliki anak lagi, sebab sudah dilakukan tubektomi, yaitu pengikatan dan pemotongan saluran sel agar tidak dapat dibuahi oleh sperma.
Siti Urifaturosiyah mengaku, pelayanan MOW dilaksanakan sebagai upaya terakhir apabila peserta sudah tidak mampu lagi menggunakan alat kontrasepsi yang lain, seperti PIL, Suntik, Implant, Kondom dan IUD. Namun, MOW tidak bisa dilakukan tanpa ijin dari suami.
“Di samping itu, juga atas permintaan dari peserta sendiri. Sebab, peserta sudah tidak menginginkan anak lagi. Juga tentu saja selama ada ijin dari suami, yakni didukung dengan adanya surat pernyataan yang ditanda tangani oleh isteri dan suami,” tandasnya.(mol/moha)































.md.jpg)






