News Ticker
  • Pemkab Bojonegoro Kembali Gulirkan Program Domba Kesejahteraan, Sasar 3.325 Penerima
  • Mengenal Hara Hachi Bu di Jepang, Rahasia Umur Panjang Lewat Kebiasaan Berhenti Makan Sebelum Kenyang
  • Prakiraan Cuaca 05 Mei 2026 di Bojonegoro
  • 05 Mei dalam Sejarah
  • kalender Jawa, Besok tanggal 05 Mei 2026 jatuh pada hari Selasa Pahing
  • BSPS Jawa Timur Naik 10 Kali Lipat, Menteri PKP Targetkan 33 Ribu Rumah Tahun Ini
  • Memahami Diri Sendiri Lebih dari Sekadar Apa yang Terlihat
  • BLT DBHCHT Bojonegoro Cair Paling Lambat Pekan Kedua Bulan Mei
  • Prakiraan Cuaca 04 Mei 2026 di Bojonegoro
  • 04 Mei dalam Sejarah
  • Harga Emas hari ini 4 Mei 2026
  • kalender Jawa, Tanggal 04 Mei 2026 jatuh pada hari Senin Legi
  • Pemerintah Perkuat Perlindungan Buruh Lewat Paket Regulasi Baru
  • Gubernur Khofifah Pastikan Stok Hewan Kurban di Jatim Melimpah, Siap Sokong Daerah Lain
  • Avanza Terperosok ke Sawah di Kapas Bojonegoro, Diduga Sopir Kurang Konsentrasi
  • Semangat Hidup Sehat dan Kelestarian Alam Warnai Spekta Bumi Fun Run 2026 di Pilanggede
  • Prakiraan Cuaca 03 Mei 2026 di Bojonegoro
  • 03 Mei dalam Sejarah
  • Tersengat Listrik, Seorang Pekerja Peternakan Ayam di Sumberrejo, Bojonegoro Meninggal Dunia
  • Kemnaker Terbitkan Aturan Baru Outsourcing, Hanya 6 Bidang Pekerjaan yang Diizinkan
  • Khofifah Tegaskan Jatim Pertahankan Posisi Barometer Pendidikan Nasional
  • Perubahan Urine Bisa Jadi Tanda Awal Gangguan Ginjal, Ini Kata Dokter
  • Prakiraan Cuaca 02 Mei 2026 Bojonegoro
  • 02 Mei dalam Sejarah
Membaca Kehidupan Madura Melalui Pertunjukan Masegit

Pertunjukan Masegit karya Roka Teater

Membaca Kehidupan Madura Melalui Pertunjukan Masegit

Oleh Mohammad Tohir

Adegan The Last Supper atau Perjamuan Terakhir menjadi pembuka pertunjukan Masegit karya Roka Teater dari Yogyakarta, Minggu (28/08/2016) di Gedung Budaya Cak Durasim Surabaya. Adegan ini juga menjadi penutup pertunjukan penuh simbol ini.

Dalam The Last Supper kali ini, bukan Yesus yang tengah berdiri dikelilingi para pengikutnya di sana. Melainkan seorang kiai yang dikelilingi para santrinya. Dan bukan makanan dan anggur yang tersaji pada meja perjamuan, melainkan tulang belulang dan tengkorak sapi, binatang yang begitu dekat dengan masyarakat Madura.

Pertunjukan Masegit ini merupakan sajian penutup dari Parade Teater Jawa Timur 2016 yang digelar pada beberapa malam sebelumnya. Parade teater tahun ini, banyak diwarnai oleh kelompok teater asal Madura. Kelompok Roka Teater sendiri meskipun bermukim di Yogyakarta, didirikan dan diisi oleh para seniman asal Madura.

Masegit adalah bahasa Madura untuk masjid. Roka Teater lewat pertunjukan ini ingin menunjukkan bahwa begitu pentingnya masjid bagi masyarakat Madura. Di Indonesia, Jawa khususnya, ada dua jenis masjid. Masjid besar yang biasa digunakan untuk salat Jumat dan masjid kecil atau yang biasa disebut surau atau langgar. Yang langgar atau surau ini tidak bisa dipakai untuk salat Jumat, ibadah mingguan umat Islam. Namun, yang pasti keduanya memiliki fungsi yang sangat penting bagi masyarakat. Masjid atau Masegit merupakan keriuhan dimana segala aktivitas manusia Madura sangat dekat dengannya. Hampir segala persoalan selalu disandarkan pada masjid dan sesuatu yang dekat dengannya, sebut saja kiai atau ulama. Sebelum dan sesudah laku kebudayaan orang Madura, konsultasinya adalah kepada kiai.

“Bukan bangunannya saja yang penting. Melainkan juga segala aktivitas yang berhubungan dengan masegit,” kata Sohifur Ridho Ilahi, sutradara Masegit.

Menurutnya, Pertunjukan Masegit merupakan sebuah usaha untuk melihat dan memapar kenyataan atas isu-isu sosial dan kebudayaan yang pernah dan tengah berlangsung di Madura.

Masegit melibatkan banyak tokoh dan telah melalui proses yang cukup panjang dan cukup serius sebelum siap dipertunjukkan. Dimulai bulan April lalu, Roka Teater menggelar rangkaian diskusi untuk membahas isu-isu sosial yang telah dan tengah terjadi di Madura. “Masegit ini melibatkan banyak pihak, sejarawan, penyair, perupa, peneliti, juga riset buku-buku yang memapar Madura. Kami diskusi tidak hanya sekali dua kali. Kami menampung segala masukan dari banyak orang,” kata Ridho menerangkan.

Seniman-seniman yang terlibat antara lain Abdul Ghafur, Efendy Mazila, Eka Wahyuni, Habiburrahman, Neneng Maryam, Radha Puri, Imam Syaifurrahman, Suvi Wahyudianto, Giyarian Harik, Oong M. Pathor.

Mereka terlibat begitu aktif dan penting dalam lahirnya Masegit. Misalnya, adegan seperti The Last Supper seperti disebut di awal tadi, merupakan ide seorang perupa asal Bangkalan Suvi Wahyudianto. Pada awal tahun lalu, Ridho menceritakan, Suvi menggelar pameran tunggal bertajuk Homo Sapirnis. Di pameran itu, salah satunya, Sivu memamerkan karya berupa tulang belulang sapi, binatang yang akrab di masyarakat Madura itu. “Di situ ingin dikatakan bahwa sapi yang kita agung-agungkan itu, dagingnya kita makan. Dan sapi itu siapa? Kita sendiri,” kata Ridho mengulang paparan Sivu saat pameran.

Itu adalah salah satu yang ingin ditunjukkan pertunjukan Masegit kepada masyarakat Madura, juga masyarakat lainnya di luar Madura tentu saja. Dan yang lebih penting lagi, kata Ridho, dia ingin bahwa pertunjukan ini tidak hanya tehenti sebagai sebuah pertunjukan. Melainkan bisa menjadi refleksi bagi pelaku dan penontonnya. Masyarakat diharapkan dapat menangkap sesuatu dari wacana dan isu-isu yang mereka temukan di masyarakat, selanjutnya menjadi bahan refleksi bersama dalam melihat kenyataan sosial kita.

“Teater ini selain sebagai sebuah pertunjukan, juga berfungsi sebagai sebuah alat baca. Alat untuk membaca realitas masyarakat kita,” kata Ridho mempertegas.

Sebagai sebuah alat, ada hal-hal yang tak selesai di dalamnya. Banyak adegan yang justru berupa sebuah pertanyaan. Misalnya, ada adegan para tokoh melambai-lambaikan gayung yang melambangkan para orang di sekeliling masegit di Madura, kerap sekali meminta sumbangan untuk pembangunan masjid. “Pekerjaan rumah kita adalah mempertanyakan sebenarnya untuk apa kita meminta-minta itu. Untuk mengajak seluas mungkin masyarakat untuk beramal atau justru menunjukkan bahwa kita sebenarnya tidak mampu membangun masjid tetapi memaksakan diri,” kata Ridho menjelaskan.

Pertunjukan yang berlangsung selama sekitar 60 menit ini adalah penerima anugerah Yayasan Kelola 2016, yang selain digelar di Gedung Cak Durasim pada 28 Agustus, juga di Auditorium STAIN Pamekasan, Madura pada 03 September kemarin.

Afrizal Malna, komite teater Dewan Kesenian Jakarta, yang juga hadir saat pertunjukan di Cak Durasim , pagi ini menulis di Jawa Pos tentang teater Madura yang cukup mewarnai pentas teater nasional saat ini. Menurut Afrizal, teater seperti yang tengah dipertunjukkan salah satunya Roka Teater, tengah membawa medan baru dalam teater. Yakni kecenderungannya menggunakan tubuh lokal, bukannya tubuh urban atau budaya kota yang lebih banyak mewarnai teter modern Indonesia saat ini. “Sebuah pos teater modern Indonesia. Bahwa teater Indonesia tidak ada dalam arti platform yang harus diikuti. Yang ada adalah berbagai kemungkinan tetaer yang digali dalam lingkungan lokalitas dengan mata rantai budaya masing-masing sebagai laboratorium utamanya,” demikian tulis penulis buku Sesuatu Indonesia itu.(*/moha)

Kredit foto: dokumentasi Asri 

 

Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark (PIGG) Bojonegoro, yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro, ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Memahami Diri Sendiri Lebih dari Sekadar Apa yang Terlihat

Memahami Diri Sendiri Lebih dari Sekadar Apa yang Terlihat

Di tengah kehidupan yang berjalan semakin cepat dan penuh tuntutan, tidak sedikit orang yang diam-diam merasa tertinggal, seolah-olah dirinya belum ...

Sosok

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bojonegoro - Berbeda dari anak-anak seusianya, seorang bocah dari Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini justru memiliki minat besar ...

Infotorial

ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

Bojonegoro - Sepanjang 2025, produksi minyak Blok Cepu kembali melampaui target pemerintah. ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), sebagai operator salah satu ...

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Blora - Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan warga sekitar terus melakukan pencarian terhadap serpihan pesawat tempur T-50i Golden ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

Hiburan

Film Para Perasuk, Ruang Aman di Balik Magis Desa Latas

Film Para Perasuk, Ruang Aman di Balik Magis Desa Latas

Sutradara Wregas Bhanuteja kembali menggebrak sinema tanah air melalui karya terbarunya, Para Perasuk. Berbeda dengan pakem film bertema mistis pada ...

1777956494.8334 at start, 1777956495.1079 at end, 0.27445793151855 sec elapsed