Transportasi dan Jalan di Bojonegoro (Bagian 1)
Angkutan Kota di Bojonegoro Semakin Memprihatinkan
Minggu, 06 Desember 2015 19:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota - Keberadaan moda transportasi angkutan kota (angkota) di wilayah Kota Bojonegoro semakin memprihatinkan. Enam Belas tahun lalu, sebelum sepeda motor mendominasi jalanan, angkota masih jadi angkutan umum pilihan utama warga kota. Angkutan yang khas berwarna kuning dengan tempat duduk saling berhadapan membelakangi jendela.
Namun kini, kondisinya mati segan hidup pun tak mampu. Keberadaan angkota sudah tidak masuk perhitungan warga kota. Membanjirnya jumlah sepeda motor menjadi salah satu penyebab sepinya penumpang.
Kondisi fisik kendaraannya pun sudah sangat uzur. Tidak ada kebijakan dari Dinas Perhubungan untuk dilakukan peremajaan. Perhitungannya, selain sepi penumpang, juga wilayah Kota Bojonegoro itu tergolong kota kecil. Tidak imbang antara pemasukan dan cicilan kendaraan.
Kepala Dinas Perhubungan Bojonegoro Iskandar, mengatakan, di wilayah Kota Bojonegoro sebenarnya dibuka lima trayek angkot, yakni Lyn A, B, C, D dan E.
Angkota Lyn A, melayani rute pulang pergi (PP) trayek Terminal Rajekwesi, Jalan Monginsidi, Panglima Polim, Untung Suropati, MH Tamrin, dan Pasar Kota. Angkota Lyn B, melayani rute PP trayek Terminal Rajekwesi, Jalan Gajah Mada, Untung Suropati, Pasar Kota, Jaksa Agung Suprapto, Lettu Suyitno, dan Pasar Kapas.
Selanjutnya, angkota Lyn C, rute PP-nya dari Terminal Rajekwesi, Jalan Gajah Mada, Untung Suropati, MH Tamrin, Pasar Kota, Jaksa Agung Suprapto, dan Desa Banjarsari. Angkota Lyn D, dari Terminal Rajekwesi, Jalan Gajah Mada, Untung Suropati, MH Tamrin, Pasar Kota, dan Pasar Dander. Terakhir Lyn E, dari Terminal Rajekwesi, Jalan Monginsidi, dan Pasar Desa Sumber Arum, Kecamatan Dander.
"Dari lima trayek, jumlah totalnya 46 armada angkutan kota yang terdaftar. Sekarang ini tinggal 20 persen dari jumlah angkot yang beroperasi. Tiap hari paling banyak 10 angkota yang beroperasi. Angkutan Kota sudah ditinggalkan masyarakat, karena kebanyakan sudah memiliki kendaaraan pribadi, seperti sepeda motor atau mobil," ujarnya kepada beritabojonegoro.com (BBC), beberapa waktu lalu.
Selain itu, imbuh Iskandar, lokasi Terminal Rajekwesi yang berada di pusat kota bisa juga jadi penyebab angkutan kota lesu. Sebab, orang lebih memilih minta jemputan keluarga daripada naik angkutan kota.
Sejak dibuka trayek angkot di jalanan Kota Bojonegoro pada 1999 lalu, jumlah penumpang terus mengalami penurunan. Pada mula diluncurkan mobil angkot berwana kuning, warga kota menyambutnya gembira. Karena bisa mudah dan murah melakukan perjalanan di wilayah kota. Namun seiring membanjinya sepeda motor, penumpang terus menurun.
Sekarang, ketentuan trayek sudah tidak berlaku lagi. Pemerintah juga membiarkan angkota beroperasi dengan sistem sopir atau pemilik angkot sendiri. Bebas kemana pergi, tergantung permintaan penumpang mau diantar kemana.
Setiap pagi, sekitar jam 06.00 WIB, BBC masih sering menemui satu mobil angkota lewat di Jalan Untung Suropati, Kota Bojonegoro. Mobil angkot berwarna kuning itu mulai tampak kusam dan pudar. Jalannya pun sudah terasa berat. Maklum mesin kendaraan sudah termasuk uzur. Tak mungkin lagi beradu kecepatan dengan sepeda motor.
Saat itu penumpang terlihat di dalam angkot hanya 3 sampai 4 orang saja. Ternyata setiap pagi penumpangnya berwajah sama. Rupanya penumpang itu sudah langganan untuk diantar ke pasar kota. Kondisi demikian membuat sopir dan pemilik angkot banyak yang gulung tikar.
Dari pantauan beritabojonegoro.com, setiap pagi hanya ada 3 mobil angkot plat kuning yang mangkal di sisi utara Pasar Kota Bojonegoro. (ver/tap)
*) Ilustrasi sosjemberjawatimuran.wordpress.com






































