Antisipasi Kemarau Panjang, Pemkab Bojonegoro Optimis Tetap Jadi Pilar Lumbung Pangan Jawa Timur
Selasa, 14 April 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro telah menyiapkan langkah strategis guna mengantisipasi kemarau panjang yang diperkirakan akan berdampak pada sektor pertanian. Meski terdapat potensi penurunan produktivitas akibat cuaca ekstrem, Pemkab Bojonegoro optimis tetap menjadi pilar utama lumbung pangan di Jawa Timur.
Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menyampaikan bahwa berdasarkan analisis data, fenomena kemarau panjang berpotensi menurunkan produktivitas padi daerah sekitar 50.000 ton. Angka ini merupakan koreksi dari capaian sebelumnya yang menyentuh 864.000 ton.
"Kita harus realistis menghadapi tantangan alam ini, namun tidak boleh pesimistis. Meskipun ada potensi penurunan produksi, Bojonegoro diprediksi tetap akan mempertahankan posisinya sebagai penghasil padi terbesar nomor dua di Jawa Timur," ujar Nurul, Senin (13/04/2026).
Selain fokus pada kuantitas panen, Wabup juga menyoroti pentingnya kesejahteraan petani melalui peningkatan Nilai Tukar Petani. Ia mengimbau agar masyarakat tani tidak terburu-buru menjual hasil sawah dalam bentuk mentah atau sistem tebasan di lahan.
"Kami mendorong petani untuk melakukan pengolahan pascapanen yang lebih baik. Menjual gabah dalam bentuk yang lebih bernilai atau menyimpannya sebagian sebagai cadangan pangan keluarga akan jauh lebih menguntungkan dan memperkuat ketahanan ekonomi petani itu sendiri," kata Nurul.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro Zaenal Fanani memaparkan sejumlah langkah konkret untuk memitigasi dampak kekeringan. Langkah tersebut meliputi percepatan masa tanam dengan memanfaatkan sisa kelembapan tanah, optimalisasi infrastruktur air melalui pompa di titik strategis, pembersihan saluran irigasi, serta pengaturan pola tanam. Petani juga disarankan memanfaatkan Asuransi Usaha Tani Padi dan menanam varietas extra genjah seperti cakrabuana atau gamagora.
“Kami mendorong lumbung-lumbung pangan desa untuk mulai menyerap gabah petani saat panen raya guna menjaga stabilisasi harga di tingkat lokal,” kata Zaenal. (red/toh)





































