Gubernur Khofifah Dorong Sekolah Jadi Laboratorium Ketahanan Pangan: Program SIKAP Raih Dua Rekor MURI
Selasa, 27 Januari 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Jawa Timur – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong sekolah-sekolah di Jatim untuk menjadi laboratorium hidup ketahanan pangan melalui implementasi Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP). Hal ini ditegaskan saat ia memimpin kegiatan penanaman ragam tanaman produktif, penaburan benih ikan, serta panen serentak bersama 110.481 guru dan siswa dari 754 SMA, SMK, serta SLB negeri dan swasta se-Jawa Timur, Minggu (25/1/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di SMKN 1 Plosoklaten, Kabupaten Kediri, ini diikuti secara luring oleh sekitar 500 peserta di lokasi utama, sementara sisanya 109.981 orang mengikuti secara daring dari sekolah masing-masing. Acara ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen Pemprov Jatim dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pendidikan, dan berhasil menyabet dua rekor Museum Rekor Indonesia (MURI): pertama, Pelopor dan Pelaksana Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan Terbanyak pada Satuan Pendidikan (754 sekolah); kedua, Pemrakarsa Gerakan Penanaman Ragam Tanaman Produktif dan Penaburan Benih Ikan Serentak Terbanyak oleh 110.481 Guru dan Murid.
Khofifah menjelaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang belajar yang hidup dan kontekstual. “Sekolah harus menjadi ruang belajar yang hidup. Anak-anak belajar teori sekaligus praktik menanam, merawat, memanen, dan mengelola hasilnya,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai pusat edukasi ketahanan pangan sejak dini, sehingga generasi muda terbentuk menjadi adaptif menghadapi tantangan pangan ke depan.
Menurut Khofifah, Program SIKAP bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter, kemandirian, dan kepedulian terhadap ketahanan pangan secara berkelanjutan. Ia memuji praktik di SMKN 1 Plosoklaten yang mengelola kandang kambing, sapi perah, dan ayam potong dengan rapi serta bersih. “Pengalaman di SMKN 1 Plosoklaten sangat inspiratif karena sekolah sudah mengelola kandang kambing, sapi, dan ayam dengan rapi dan bersih sehingga siswa bisa belajar langsung melalui praktik,” katanya.
Khofifah juga menyoroti keterlibatan siswa dalam siklus produksi 24 jam, termasuk breeding ayam dan penanganan hasil panen, serta kemitraan dengan korporasi yang membuat produk sekolah sesuai standar profesional. “Anak-anak mengikuti siklus perawatan dan produksi 24 jam, termasuk breeding ayam dan penanganan hasil panen, sehingga mereka sudah terbiasa menghadapi standar dunia usaha dan industri,” tambahnya.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menyampaikan, dari sekitar 4.300 sekolah di Jatim, 754 sekolah telah mengikuti Program SIKAP. Meski banyak sekolah terkendala lahan terbatas, hal itu diatasi dengan optimalisasi melalui sistem hidroponik dan penyesuaian jenis tanaman sesuai kondisi wilayah. Di SMK, kegiatan selaras dengan aspek marketing dan produksi, sementara di sekolah umum, hasil panen dibeli oleh guru maupun siswa untuk menciptakan ekosistem saling mendukung.
Kegiatan ini mencakup panen telur, peninjauan ayam potong, kandang kambing dan sapi perah, penanaman perdana tanaman produktif, serta panen dan penebaran benih ikan. Khofifah menegaskan bahwa penghargaan MURI menjadi bukti implementasi Program SIKAP yang nyata dan berkelanjutan, sekaligus simbol komitmen kolektif pemerintah, satuan pendidikan, guru, serta peserta didik dalam membangun ekosistem pendidikan inovatif berorientasi ketahanan pangan.(red/toh)































.md.jpg)






