Harapan Menetas dari Program Gayatri di Desa Mori, Bojonegoro
Kamis, 12 Februari 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Desa Mori, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, kembali membuktikan bahwa ketekunan dan kebersamaan mampu mengubah peluang kecil menjadi sumber harapan besar. Di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok, Program GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri) hadir sebagai salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga rentan. Program ini menjadi penopang ekonomi nyata bagi belasan Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Unun Choirul Amin (44) salah satu KPM di Desa Mori menyampaikan saat ini harga telur rata-rata Rp26 ribu per kilogram, para KPM mampu menjual sekitar 40 hingga 50 butir telur setiap hari. Jika diuangkan, hasilnya mencapai kurang lebih Rp50 ribu per hari. Nominal yang mungkin terlihat sederhana, namun bagi mereka, jumlah tersebut menjadi penopang hidup yang sangat berarti.
“Per kilogram Rp26 ribu. Kalau sehari bisa 40 sampai 50 butir, kira-kira dapat Rp50 ribu,” ungkap Unun.
Pendapatan dari penjualan telur itu tidak serta-merta habis. Dengan kesadaran dan perencanaan yang baik, para KPM menyisihkan sebagian hasilnya untuk ditabung. Uang tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari membeli bahan pokok hingga membayar tagihan listrik.
“Alhamdulillah, bisa membantu bayar listrik dan kebutuhan rumah tangga,” tuturnya.
Menjelang bulan suci Ramadan, berkah semakin terasa. Permintaan telur meningkat tajam. Banyak warga yang memiliki hajatan maupun persiapan kebutuhan puasa memilih membeli langsung dari para KPM. Selain lebih dekat, harga yang ditawarkan juga dinilai lebih terjangkau dibandingkan di toko.
“Yang punya hajat dan warga beli ke sini karena harganya bisa lebih murah dari toko,” jelas Unun.
Pendamping KPM Gayatri Desa Mori, Mohamad Aris (40), memastikan program berjalan konsisten dan berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa pasokan pakan dan kebutuhan ternak masih tercukupi, serta pengawasan rutin terus dilakukan.
“Pakan masih tersuplai dengan baik, dan setiap minggu kami selalu melakukan pengecekan,” ujar Aris.
Tak hanya itu, inovasi sederhana namun efektif juga diterapkan melalui pembentukan grup WhatsApp untuk mempermudah koordinasi antaranggota KPM. Melalui grup tersebut, komunikasi berlangsung aktif setiap hari. Diskusi, berbagi pengalaman, hingga solusi perawatan ayam dilakukan secara terbuka.
“Kami membuat grup WhatsApp untuk mempermudah koordinasi dengan KPM. Setiap hari ada diskusi dan berbagi tentang perawatan ayam,” tambahnya.
Program ini melibatkan 16 Keluarga Penerima Manfaat di Desa Mori. Enam KPM berasal dari anggaran desa, sementara 10 lainnya merupakan penerima program dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Sinergi antara pemerintah desa dan kabupaten ini menjadi bukti komitmen bersama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Lebih dari sekadar beternak ayam, program ini telah menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian ekonomi warga. Dari kandang-kandang sederhana di pekarangan rumah, telur-telur itu menjadi simbol harapan. Setiap butir yang terjual bukan hanya bernilai rupiah, tetapi juga menjadi langkah kecil menuju kehidupan yang lebih layak.
Di Desa Mori, Gayatri menjadi tanda bahwa harapan terus hidup—dan masa depan perlahan dibangun, satu butir telur setiap harinya.(red/toh)































.md.jpg)






