Review Film Hamnet, Duka Penyair Shakespeare yang Menginpirasi Lahirnya Mahakarya
Minggu, 01 Maret 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Judul Hamnet (2025), Sutradara Chloé Zhao, Pemeran Jessie Buckley, Paul Mescal, Jacobi Jupe, Joe Alwyn, Adaptasi Novel karya Maggie O'Farrell
-----------------------
Dalam film terbarunya, sutradara pemenang Oscar Chloé Zhao membawa kita menyelami sejarah fiksi di balik salah satu karya paling ikonik dalam literatur dunia, Hamlet. Namun, jangan salah sangka, Hamnet bukanlah sekadar biopik tentang William Shakespeare. Film ini adalah sebuah perayaan atas rasa sakit, hubungan manusia dengan alam, dan bagaimana duka yang tak tertahankan bisa bertransformasi menjadi mahakarya seni.
Film dibuka dengan fakta sejarah yang sering terlupakan di Stratford pada masa itu, nama "Hamlet" dan "Hamnet" dianggap sama. Cerita berfokus pada kehidupan Agnes Hathaway (Jessie Buckley), istri William Shakespeare (Paul Mescal). Agnes digambarkan sebagai sosok mistis, "anak hutan" yang memiliki kemampuan spiritual dan keterikatan kuat dengan alam. Ketika William merasa terkekang oleh kehidupan kota kecil dan memilih mengejar karier teater di London, Agnes tetap tinggal untuk membesarkan ketiga anak mereka. Namun, tragedi datang saat wabah pes merenggut nyawa putra sulung mereka, Hamnet. Kematian inilah yang menjadi titik balik bagi William untuk menulis The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark sebagai bentuk katarsis dan penebusan dosa atas rasa bersalahnya.
Chloé Zhao kembali menunjukkan ciri khasnya bahasa visual yang puitis di mana emosi manusia dan alam saling berkelindan. Dibantu oleh sinematografer Łukasz Żal, film ini berhasil menangkap kesyahduan hutan dan kesesakan ruang privat dengan sangat emosional. Dari sisi performa, Jessie Buckley tampil luar biasa sebagai Agnes. Adegan saat ia menyaksikan kematian buah hatinya adalah momen feral yang sangat mencekik dan emosional, menempatkannya sebagai kandidat kuat di musim penghargaan. Paul Mescal juga memberikan intensitas yang pas sebagai sosok pujangga yang frustrasi dan penuh duka. Tak lupa, aktor cilik Jacobi Jupe (sebagai Hamnet) mencuri perhatian dengan akting yang memiliki kepekaan melampaui usianya.
Meski kuat secara visual dan akting, narasi film ini terasa sedikit goyah karena transisinya yang sering berubah wujud—dari kisah naturalis yang sederhana menjadi drama yang sangat emosional (tearjerker). Ada kesan bahwa naskah garapan Zhao dan Maggie O'Farrell terlalu berusaha menjelaskan kaitan antara kematian Hamnet dan naskah Hamlet secara eksplisit, seolah meragukan kemampuan literasi penontonnya untuk menarik benang merah sendiri.
Secara keseluruhan, Hamnet adalah film yang indah tentang kekuatan karya seni. Ia menunjukkan bahwa meskipun wujud seni itu maya atau fiktif, rasa yang dihasilkannya sangat nyata. Konklusi film ini berhasil menutup segala kekurangan naskahnya dengan bahasa visual yang menyentuh. Mata dan senyum Jessie Buckley di akhir film adalah sebuah sajak tanpa kata yang membuktikan bahwa duka, jika dikelola dengan cinta, dapat menjadi sesuatu yang abadi. Sebuah tontonan wajib bagi pecinta drama sejarah yang mendalam dan puitis.(red/toh)
Reporter Tim Redaksi
Editor Mohamad Tohir
Publisher Mohamad Tohir
































.md.jpg)






